Ada Asa dari Teh, Memantik Wahyudi Memilih Jalan Berbisnis

Wahyudi tengah meracik teh buatannya untuk dipasarkan (Foto: Parboaboa/Huira)

PARBOABOA – Aroma teh tercium tajam dari ruangan produksi, saat Wahyudi Hermansyah yang sedari pagi secara mandiri mengemasnya ke dalam pembungkus kedap udara. Layaknya seperti anak, pria berusia 29 tahun ini memperlakukan produk-produknya dengan teliti.

Saat ditemui di rumah sekaligus tempat produksi di Jalan Rajawali Pematang Siantar, Wahyudi kepada PARBOABOA bercerita bagaimana dia membangun bisnis yang baru berjalan 23 bulan. Langkahnya masih tertatih-tatih tapi dengan keyakinan tinggi, dia menaruh harapan besar jika keputusannya berwirausaha tepat.

“Saya dahulu pekerja kantoran, tapi memutuskan berhenti (resign) karena jauh dari rumah,” ucapnya, beberapa waktu lalu.

Wahyudi mengatakan, sebelumnya dia karyawan perusahaan rokok nasional penempatan di Nias, akibat pandemi yang melanda di awal 2020, menyulitkannya untuk kembali ke Siantar karena jadwal kapal penyeberangan terbatas.

Istrinya yang sedang hamil besar dan sudah mendekati jadwal persalinan, memantiknya untuk meninggalkan jabatan koordinator dengan beragam fasilitas demi keluarga.

“Juni 2020 aku memutuskan untuk resign, dan baru di approve September 2020. Oktober aku keluar dari perusahaan, November 2020 mulai jalani usaha teh ini,” jelasnya.

Mimpi Membangun Bisnis

Memiliki bisnis sendiri dan lepas dari buruh penerima gaji bulanan sudah menjadi mimpi Wahyudi sejak lama. Ternyata pandemi COVID-19 menjadi pembuka jalannya.

(Foto : Parboaboa/Huira)

“Memiliki usaha sendiri dan bisa memasarkan produk sendiri, bukan milik perusahaan orang lain mimpi saya,” ucapnya.

Bermodal Rp7 juta, Wahyudi merintis usahanya dari nol. Teh menjadi pilihan untuk bisnisnya karena dia melihat prospek usaha di komoditas ini tidak pernah redup dimakan zaman, justru semakin berkembang dengan banyak variasi.

Dipilihnya brand Shanaya Tea, yang diambil dari nama anaknya. Awalnya Wahyudi memulai dengan pemasaran teh hitam bubuk dan teh hitam celup ke daerah-daerah isi kemasan 100 gram hingga 1 kilogram. Perlahan produknya bertambah teh hijau dalam bentuk daun dan teh celup, hingga pada Juli 2021, ia mencoba meluncurkan produk baru, yakni teh putih.

“Namun karena harga bahan bakunya yang lumayan tinggi, berkisar Rp2.000.000/kilogramnya, teh putih ini sedikit peminatnya. Sehingga kini, teh putih hanya tersedia dalam bentuk pre order (PO). Pada awal 2022, munculah tea blend, berbekal dari ilmu yang ia peroleh dari Indonesia Tea Institute,” ucapnya.

Inovasi terus dilakukannya. Ditambah menurut Wahyudi, pemasaran teh di Pematang Siantar belum begitu masif jika dibandingkan kopi yang kian menjamur. Hal itu yang menginsipirasinya menciptakan tren baru teh bland (kombinasi buah dan bunga kering) dari ilmu yang didapatnya saat mengikuti Indonesia Tea Institute, di Bandung pada 2021 lalu.

(Foto : Parboaboa/Huira)

Pertama kali Wahyudi membuat tea blend pada awal 2022, untuk dikonsumsi sendiri. Mengetahui rasanya enak, dia mencoba memperkenalkan ke orang-orang terdekatnya.

“Mereka bilang enak dan cocok dengan rasanya. Jadi pada September 2022, saya mencoba untuk memproduksi tea blend, saya packing sebagus mungkin dan di pasarkan ke masyarakat,” ucap Wahyu.

Untuk saat ini semua produksi dan pemasaran dilakukan sendiri oleh wahyu. Penjualan memanfaatkan market place (secara online), dengan harapan jangkauan pemasaran lebih luas, tidak hanya di Pematang Siantar dan Simalungun saja.

“Harapannya bisa dinikmati hingga seluruh masyarakat di penjuru dunia,” katanya.

Wahyudi merasa lega bisa memilih keluarganya . Dia tidak akan menyesali jalan yang sudah diambilnya karena ada ketenangan batin didapatkannya.

“Kalau ditanya sayang ya sayang ya, karena di pekerjaan sebelumnya kan pendapatan sudah netap. Sekarang rezeki masih perlu dicari, pendapatan juga gak tentu, namun karena bisa dekat dengan keluarga, semua itu terbayarkan,” ungkapnya.

Ia pun berharap, pada 2022 ini bisa mendirikan toko offline, di mana nantinya setiap pengunjung yang datang bisa menikmati teh buatannya secara langsung dan melihat proses pembuatannya.

“Sejauh ini respon cukup positif, dengan dominan konsumen kalangan ibu-ibu, dengan rata-rata produksi perbulannya antara 100-150 bungkus produk,” jelas Wahyu.

Editor: -
TAG :
Baca Juga
LIPUTAN KHUSUS