Alex Konanykhin (dok Instagram/@konanykhinalex)

Alex Konanykhin Gelar Sayembara Rp 14 M untuk Tangkap Vladimir Putin

Rini | Internasional | 05-03-2022

PARBOABOA, Ukraina - Perang antara Rusia dan Ukraina belum menunjukkan tanda-tanda akan selesai meski sudah berlangsung selama sembilan hari. Bahkan pada Jumat (4/3) dinihari tadi, pasukan Rusia dikabarkan telah melakukan penyerangan di Pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN) Zaporizhia di Ukraina, hingga menyebabkan PLTN terbesar di Eropa tersebut terbakar.

Kebakaran pembangkit listrik ini memicu kekhawatiran akan terjadi ledakan di reaktor nuklir yang dapat menyebabkan ancaman global, karena menurut Ukraina jika PLTN tersebut meledak, maka dampaknya 10 kali lebih besar daripada ledakan yang pernah terjadi di PLTN Chernobyl di masa lalu.

Kekhawatiran akan terjadi ledakan sempat meningkat, karena pasukan Rusia di sebut terus melepaskan tembakan, bahkan kepada petugas pemadam yang datang ke lokasi. Namun beruntung kekhawatiran tersebut tidak terjadi karena akhirnya api dapat dipadamkan pada pagi hari.  

Ditengah meningkatnya ketegangan antar negara bertetangga tersebut, ada banyak masyarakat sipil yang menjadi korban dalam serangan. Sehingga banyak warga dunia yang mengecam keputusan Presiden Vladimir Putin untuk melakukan invasi ini.

Tak hanya mendapat penolakan dari masyarakat internasional, Presiden Putin juga mendapat kecaman dari rakyatnya sendiri. Sudah ada banyak demonstrasi yang dilakukan masyarakat Rusia untuk menyuarakan pasukan Rusia segera menarik diri dari Ukraina.

Keputusan menolak invasi ini juga disampaikan oleh seorang pengusaha Rusia bernama Alex Konanykhin. Dia bahkan membuat sebuah sayembara di Facebook dengan poster bertuliskan "Dicari: Mati atau hidup. Vladimir Putin untuk pembunuhan massal.” Sayembara ini berhadiah fantastis senilar Rp 14 miliar, untuk siapa saya yang mau menangkap Presiden mereka Vladimir Putin sebagai penjahat perang.

Dilansir dari Dailymail.co.uk, sayembara ini diumumkan oleh Konanykhin di akun Facebooknya pada Rabu (2/3) lalu, dimana dia mengaku sayembara ini dibuatnya dengan alasan moral untuk membantu Ukraina.

"Saya berjanji untuk membayar $1.000.000 kepada petugas yang, sesuai dengan kewajiban konstitusional mereka, menangkap Putin sebagai penjahat perang di bawah hukum Rusia dan internasional," tulis Konanykhin.

Konanykhin berpendapat jika Putin bukanlah Presiden Rusia karena kekuasaannya didapat dari hasil menghilangkan pemilu yang bebas, bahkan dengan membunuh lawan-lawannya.

"Putin bukan presiden Rusia karena ia berkuasa sebagai hasil dari operasi khusus meledakkan gedung-gedung apartemen di Rusia, kemudian melanggar Konstitusi dengan menghilangkan pemilihan umum yang bebas dan membunuh lawan-lawannya,” lanjutnya.

Dia berharap akan semakin banyak pengusaha Rusia lainnya yang bergerak bersamanya dan menambahkan nominal sayembara, agar aksi Putin menginvasi Ukraina ini dapat segera dihentikan.

"Jika cukup banyak orang membuat pernyataan serupa, itu dapat meningkatkan kemungkinan Putin ditangkap dan dibawa ke pengadilan." Lanjutnya.  

Namun Facebook telah menghapus unggahan tersebut, meskipun demikian dia menegaskan jika sayembara yang digelarnya masih berlaku. Dia menambahkan jika keinginannya bukan untuk membuat Putin dibunuh, namun untuk membuatnya diadili dibawah hukum internasional.

Sayembara ini menjadi pembicaraan warganet di seluruh dunia dan menuai pro dan kontra. Namun diantara perdebatan yang ada, yang paling penting adalah akankah ada yang akan berani mengambil tantangan ini?

Tag : #ukraina    #rusia    #invasi    #perang    #vladimir putin    #Volodymyr Zelensky    #invasi hari kesembilan    #sayembara    #internasional   

Baca Juga