Ilustrasi Mahasiswa Salah Jurusan (Dok: Pexels)

Dilema Salah Jurusan yang Sering Dialami Mahasiswa

Andre | Pendidikan | 05-04-2022

PARBOABOA - Salah jurusan adalah fenomena yang cukup besar di dunia pendidikan Indonesia. Salah pertimbangan, kurangnya riset, serta ketidaktahuan akan minat dan bakat adalah sebagian faktor mengapa mahasiswa cenderung merasa salah jurusan.

Memilih jurusan perguruan tinggi merupakan keputusan yang sulit bagi calon mahasiwa baru, karena harus mempertimbangkan berbagai aspek yang nantinya akan berhubungan dengan karier di masa depan.

Bahkan, menurut ahli Educational Psychologist dari Integrity Development Flexibility (IDF), Irene Guntur mengemukakan setidaknya sebanyak 87 persen mahasiswa di Indonesia salah jurusan.

Problematika mahasiswa ini sangat umum ditemui pada lingkup pendidikan tinggi Indonesia.

Itu pula yang menjadi alasan mengapa banyak lulusan universitas yang bekerja tidak sesuai dengan disiplin keilmuannya dan berakhir pada kurang terserapnya tenaga kerja berkualitas.

Lantas, mengapa mahasiswa cenderung merasa salah jurusan? Dikutip dari berbagai sumber, Selasa (05/04/2022), berikut beberapa penyebabnya.

1. Ketidaktahuan minat dan bakat

Ilustrasi minat dan bakat (dok: Pexels)

Kebingungan memilih jurusan kala memasuki jenjang perguruan tinggi sering dialami oleh pelajar yang baru lulus bangku Sekolah Menengah Atas (SMA).

Berdasarkan hasil penelitian salah satu perusahaan rintisan hasil binaan Skystar Ventures, yakni Youthmanual, ditemukan fakta bahwa 92% siswa SMA/SMK sederajat bingung dan tidak tahu akan menjadi apa ke depannya.

Penelitian tersebut dilakukan selama dua tahun dengan mendalami lebih dari 400.000 profil serta data siswa dan mahasiswa di seluruh Indonesia.

Artinya, mayoritas pelajar di Indonesia masih kurang memahami apa bakat dan potensi yang mereka miliki.

Secara garis besar, bakat merupakan karunia/anugerah yang dimiliki seseorang sejak lahir. Beberapa diantaranya menyadari hal itu, sementara yang lainnya tidak.

Sedangkan minat adalah kecenderungan hati untuk menyukai sesuatu hal. Terkadang, minat dan bakat tidak sejalan.

Calon maba (mahasiswa baru) umumnya memilih jurusan hanya karena minat, tanpa mengetahui apakah ia berbakat di bidang tersebut.

Begitu pula sebaliknya, ada yang berbakat di bidang tertentu, namun ia sama sekali tidak memiliki minat akan hal itu, sehingga proses perkuliahan terasa tidak menyenangkan.

Untuk mengatasi hal ini, ada baiknya calon mahasiswa baru untuk mengikuti test minat dan bakat agar tidak terjerumus dalam dilema salah jurusan.

2. Kurang mengeksplorasi

Ilustrasi mengeksplorasi (dok: Pexels)

Sistem pendidikan sekolah sangat berbeda dengan sistem pendidikan perguruan tinggi, yang mana mahasiswa dituntut harus selalu berpikir kritis dan mandiri.

Tidak bisa dipungkiri bahwa masa SMA adalah masa yang indah. Namun itu bukanlah alasan bagi pelajar untuk tidak meyelidiki lebih lanjut tentang program studi yang akan bersangkutan dengan profesi dan peta karier untuk masa depan.

Kurangnya riset pada klasifikasi program studi beserta seluk-beluknya, membuat para siswa akhirnya terpaksa menuruti referensi dari pihak tertentu seperti sekolah, keluarga dan teman.

Lihat juga: Jurusan Kuliah yang Sulit Mendapatkan Pekerjaan

Dan ini merupakan cikal bakal seorang mahasiswa merasa salah jurusan, yang mana setiap bertambahnya semester, semakin memperkuat perasaan salah jurusan.

3. Ikut-ikutan teman

Ilustrasi pertemanan anak kampus (dok: Pexels)

Saat berada di bangku kelas 12 SMA, para pelajar cenderung mengikuti jurusan perkuliahan yang diambil teman-temannya. Hal ini merupakan alasan yang paling umum mengapa mahasiswa sering berpikir salah jurusan.

Bukan tanpa alasan, mereka umumnya mengganggap kuliah adalah sesuatu yang harus dilalui bersama dengan teman-teman agar terkesan "bestfriend" yang tak terpisahkan. Padahal, belum tentu jurusan yang dipilih sesuai dengan minat dan bakat yang dimiliki.

Alhasil, ketika memasuki perkuliahan dan seiring berjalannya waktu, mereka baru menyadari apa yang tidak disukai dari mata kuliah jurusan tersebut. Namun tidak mau meninggalkannya dengan alasan “sudah terlanjur”.

4. Orang tua

Tak jarang, para mahasiswa yang merasa salah jurusan memiliki latar belakang memenuhi cita-cita dan impian dari orang tua mereka, meskipun tidak sesuai dengan passion yang dimiliki.

Adalah hal yang wajar jika orang tua ingin yang terbaik untuk anaknya, namun apakah hal itu sudah mempertimbangkan minat, potensi dan hati sang anak?

Saat berdikusi dengan anak, orang tua cenderung menjadi dominan dalam hal memilih perguruan tinggi. Ini justru menjadi pemicu anak salah jurusan kuliah.

Melansir rencanamu.id, orangtua yang terlalu protektif terhadap segala hal mengenai anaknya dan selalu ingin terlibat disebut sebagai helicopter parent's.

Meskipun memiliki sedikit dampak positif, tetapi salah jurusan memungkinkan mahasiswa tidak menyelesaikan pendidikan dengan tepat waktu dan tidak maksimal untuk untuk mengejar hasil terbaik.

5. Menerima terlalu banyak saran

Ilustrasi menerima saran (dok: Pexels)

Selain kurangnya riset, menerima terlalu banyak saran juga menjadi penyebab seorang mahasiswa terjebak dalam kegalauan salah jurusan.

Hal ini diawali saat seorang pelajar memasuki tingkat akhir SMA. Beberapa siswa menerima terlalu banyak saran atau nasihat dari berbagai pihak, seperti keluarga, teman, hingga tetangga.

Melihat banyaknya jumlah perguruan tinggi di Indonesia dan bermacam program studi yang tersedia, ditambah banyaknya saran yang diterima, justru menbuat siswa merasa kebingungan dan akhirnya terburu-buru dalam memutuskan jurusan yang ingin diambil.

Alhasil, mereka baru menyadarinya saat memasuki dunia pendidikan tinggi bahwa jurusan tersebut tidak sesuai dengan minat dan bakat yang ia miliki.

Lantas, bagaimana agar tidak salah mengambil jurusan kuliah?

Melansir laman bestcolleges.com dan beberapa sumber lainnya, berikut adalah langkah-langkah yang perlu diperhatikan agar tidak salah dalam memilih jurusan kuliah.

Menentukan prioritas

Terdapat dua opsi untuk menentukan prioritas, yakni mengutamakan jurusan yang memiliki pekerjaan dengan gaji yang besar, atau ingin memperdalam skill yang dimiliki.

Tak jarang, beberapa siswa mengincar jurusan tertentu berdasarkan potensi gaji dan permintaan pekerjaan yang sedang diminati saat ini ataupun di masa yang akan datang.

Selain itu, beberapa siswa lainnya mengambil jurusan yang mereka sukai untuk memperdalam kemampuan yang dimiliki.

Mencari tahu minat dan bakat

Setelah menentukan prioritas, saatnya untuk mengetahui minat dan bakat yang dimiliki.

Pada beberapa kasus, para pelajar mengincar profesi yang bergaji besar dan mengambil jurusan yang sesuai profesi tersebut, justru tidak lulus seleksi lantaran tidak memiliki kemampuan yang sesuai.

Lihat juga: Memilih Jurusan Kuliah Sesuai dengan Kemampuan

Selain itu, penting untuk melihat potensi, personalitas serta passion pada diri sendiri dan ketiganya harus sejalan.

Peta karier

Peta karier adalah rencana hidup yang dituliskan secara nyata untuk mencapai impian. Hal ini membuat perjalan hidup seseorang mencapai puncak menjadi lebih cepat.

Membuat peta karier dalam hidup menjadikan seseorang lebih mudah mengukur kelebihan dan kekurangannya, sehingga pengembangan diri menjadi lebih terarah.

Mengapa lebih terarah? Karena seseorang dapat mengetahui tujuan akhirnya akan kemana, ingin memiliki karier professional apa, bekerja di perusahaan mana, jenjang karier apa saja yang harus dilalui, hingga berapa lama target untuk mencapai tujuan tersebut.

Memperkirakan biaya

Setelah segalanya telah dipersiapkan dengan matang, saatnya memperkirakan biaya yang akan dikeluarkan.

Diskusikan bersama keluarga perihal biaya, apakah nantinya akan sebanding dengan yang didapat (masa depan).

Jangan memaksakan masuk jurusan yang memiliki biaya mahal seperti kedokteran, penerbangan dan sebagainya jika tidak memiliki kemampuan ekonomi yang mumpuni.

Itulah beberapa alasan mengapa mahasiswa cenderung merasa salah jurusan, beserta langkah-langkah yang perlu diperhatikan saat ingin mengambil suatu jurusan.

Tag : #kuliah    #jurusan    #mahasiswa    #pendidikan    #perguruan tinggi   

Baca Juga