Drama pengungkapan identitas Bjorka (Foto: Parboaboa/Andre S)

Drama Pengungkapan Identitas Hacker Bjorka

Andre | Nasional | 17-09-2022

PARBOABOA, Jakarta – Dalam sebulan terakhir, pengguna Breach Forums Bjorka cukup menyita perhatian publik lantaran aksinya membocorkan data sejumlah lembaga pelat merah di tanah air. Pro dan kontra atas aksi tersebut kian menghiasi panggung media sosial.

Tak sedikit netizen yang mendukung aksi pembobolan data tersebut, meskipun sebagian tidak terlalu ambil pusing dengan kehebohan yang ditimbulkan Bjorka.

Kendati demikian, beberapa di antaranya malah menggangap jika kehadiran Bjorka seolah-olah menutup isu besar lainnya.

Di saat yang bersamaan, kritik tajam pun menghujani lembaga-lembaga pemerintah yang berkaitan dengan keamanan data di Indonesia.

Deretan kebocoran data lembaga, perusahaan, hingga data pribadi pejabat tinggi negara membuat Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) beserta Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) menjadi sorotan berbagai kalangan, mulai dari warganet, pengamat siber, hingga anggota DPR.

Di tengah masifnya kebocoran data tersebut, Pengamat keamanan Siber Teguh Aprianto mengkritik pernyataan dari seorang peneliti keamanan siber yang sebelumnya mengatakan bahwa penyebab kebocoran data tersebut terjadi karena BSSN kekurangan dana.

“Udah mulai berani tanpa malu-malu ya. Logika yg benar itu kerja yg benar dulu baru minta anggaran dinaikin. Ini udahlah kerjanya ga jelas kok pd banget minta naikin anggaran? Kominfo itu anggarannya 27 triliun di tahun ini, apakah kualitasnya bagus? Tetap aja sama-sama ampas,” cuit Teguh Aprianto melalui akun Twitternya @secgron, 12 September 2022.

Sementara itu, Anggota Komisi I DPR Fadli Zon juga turut menyoroti lemahnya tingkat keamanan data siber instansi negara. Sehingga data milik pejabat bisa dengan mudah diretas dan bocor secara beruntun.

"Harus ada auto kritik juga ya, beberapa institusi seperti Kominfo dan BSSN kan harusnya ikut menjadi garda terdepan untuk mengamankan siber kita," kata wakil ketua umum DPP Partai Gerindra itu di Jakarta, Selasa (13/09/2022).

Kolaborasi 4 Lembaga

Presiden Joko Widodo (Jokowi) akhirnya membuat tim khusus untuk masalah kebocoran data yang terjadi belakangan ini.

Wacana pembuatan tim tersebut diungkapkan Menteri Kominikasi dan Informatika Jhonny G Plate dalam keterangan pers pada Senin (12/09/2022) lalu.

"Perlu ada emergency response team terkait untuk menjaga data, tata kelola data, yang baik di Indonesia dan untuk menjaga kepercayaan publik," kata Jhonny.

Jhony menyebut, tim tersebut terdiri dari 4 lembaga, yakni Kominfo, Badan Siber dan Sandi Negara, Polri, dan Badan Intelijen Negara (BIN).

Salah Tangkap Orang

Tak lama setelah pembentukan tim khusus tersebut, Menkopolhukam Mahfud MD pada Rabu (14/09/2022), mengungkapkan bahwa identitas hacker Bjorka sudah teridentifikasi.

Benar saja, usai pernyataan dari Mafud MD tersebut, berita penangkapan seorang pemuda di Madiun Jawa Timur pun mencuat ke permukaan.

Pemuda tersebut adalah Muhammad Agung Hidayatullah (MAH), berusia 21 tahun dengan kesehariannya berjualan es. MAH diamankan oleh kepolisian setempat pada Rabu (14/09/2022) setelah maghrib.

Dari tangkapan tersebut, pemerintah mungkin bisa menghela nafas untuk sementara lantaran bisa menjawab rasa penasaran publik mengenai sosok Bjorka. Tetapi, apakah semudah itu?

Di saat berita penangkapan pemuda di Madiun itu ramai dibincangkan netizen di sosial media, Bjorka yang asli ternyata masih online di forum Breached dan Telegram.

Bahkan, Bjorka meledek pemerintah Indonesia dengan sebutan yang sedikit kasar lantaran salah identifikasi dan salah tangkap orang.

LOL, Pemerintahan Indonesia merasa telah mengidentifikasi saya berdasarkan hoax dari The Dark Tracer (Twitter.com/darkreacer_int). Akun tersebut telah memberikan layanan palsu kepada pemerintah Indonesia. Anak ini sekarang telah ditangkap dan diiterogasi oleh pemerintah Indonesia Untuk Dark Tracer, adalah dosamu telah memberikan informasi yang salah pada para id**t," tulis Bjorka dalam bahasa Inggris, Kamis (15/09/2022).

Melihat kinerja pemerintah yang tak kunjung berhasil menangkap Bjorka asli, Pengamat keamanan Siber Teguh Aprianto mengkritisi kualitas dari tim khusus yang terdiri dari 4 lembaga itu. Teguh mengomentari berita mengenai pemuda Madiun yang telah dipulangkan oleh pihak kepolisian.

“Setelah ditangkap & ditahan selama 2 malam, MAH pagi ini sudah dipulangkan. Anak orang ditangkap sembarangan, orang tua dan keluarganya panik. Anak ini sendiri kemungkinan pasti trauma. Begini kualitas tim khusus yang isinya BIN, Polri, BSSN dan Kominfo?” cuit Teguh melalui akun Twitternya @secgron, Jumat (16/09/2022).

Warganet pun beramai-ramai memberikan tanggapan soal berita dipulangkannya pemuda yang awalnya diduga sebagai Bjorka.

“Pemerintah yg udah punya lembaga siber bermacam macam jenis tapi pas kena serangan siber malah bikin tim khusus aja udah aneh,” ucap salah seorang netizen.

“Introgasinya disiksa ga tuh tuntut balik aja...bisa²nya salah tangkap...intelejen level ormas kali nih,” balas netizen lainnya.

“Mungkin lagi cari kambing hitam, biar keliatan kerja,” timpal netizen.

“Sudah saatnya pemerintah merekrut tenaga ahli yg berkualitas. Stop nepotisme, titipan dan permainan dlm perekrutan. Pada kemana ahli yg hebat? Mungkin mereka kecewa ....hingga banyak ahli kita yg bekerja diluar negri. Anggaran APBN habis menggaji manusia yg tdk berguna,” ucap netizen @reni27**.

Diketahui, Muhammad Agung Hidayatullah (MAH) tidak ditahan pihak kepolisian setelah ditetapkan sebagai tersangka karena dituding sebagai bagian dari kelompok hacker Bjorka.

"MAH sedang diproses dan tidak dilakukan penahanan karena kooperatif," kata Juru Bicara Humas Polri Kombes Pol Ade Yaya Suryana dalam keterangannya, Jumat (16/9/2022).

Ade menerangkan, MAH memiliki peran menyediakan kanal Telegram @bjorkanism untuk mengunggah informasi yang beredar pada forum Breached.

Ade menyebut, MAH kedapatan mengunggah pada akun tersebut dari rentang waktu 8 September sampai 10 September 2022.

"Tersangka pernah melakukan posting di chanel @bjorkanism sebanyak 3 kali yaitu tanggal 8 September 2022, Stop Being an Idiot. 9 September 2022 'The next leak will come from the presiden of Indonesia dan tanggal 10 September 2022 ‘To support people who are struggling by holding demonstrations in Indonesia regarding the price of fuel oil. I will publish MyPertamina database soon’. Itu yang dipublish oleh tersangka," ujar dia.

Hingga kini, keberadaan Bjorka belum diketahui. Pihak berwenang masih mendalami pencarian Bjorka.

Di sisi lain, aksi Bjorka tersebut tampaknya menjadi pemicu pihak-pihak lainnya untuk membocorkan data-data yang ada di Indonesia. Terpantau di laman Breached.to pada Sabtu (17/09/2022), tidak hanya Bjorka, namun pengguna lainnya juga secara masif mengunggah hasil dumping database yang mereka dapatkan dari situs pemerintah Indonesia.

Pengalihan Isu

Rentetan kehebohan yang dibuat oleh Bjorka dimulai dari membocorkan data hingga menyentil para pejabat lewat sosial media Twitter, Telegram, dan forum Breached, menempatkan dirinya sebagai pusat perhatian warganet.

Lantas, kehadiran hacker bernama Bjorka ini pun menuai pro dan kontra di tengah warganet. Ada yang setuju dan mendukung penuh atas tindakan yang dilakukan Bjorka.

Tetapi, ada pula yang mencurigai bahwa isu Bjorka ini merupakan pengalihan isu dari kasus-kasus besar yang menjadi sorotan beberapa waktu lalu, seperti kasus Sambo yang tak kunjung menemui kejelasan, kenaikan BBM, hingga korupsi yang merugikan negara hingga Rp104 triliun.

 “Ini perkembangan yang kurang penting sebenernya. Cuma pas buat becandaan. Potensi isu yang perlu dialihkan: Sambo, korupsi Surya Darmadi, remisi napi korupsi, dan eks napi korupsi boleh nyaleg,” cuit @nugi12**, Kamis (15/08/2022).

"Akun #Bjorka hanya fenomena sesaat, jangan terlalu berlebihan ngefansnya, jgn pula beranggapan akun setengah dewa yang tau segalanya, nikmati dan senyumin aja!" ujar akun influencer Twitter, @BossT*****.

Selain netizen, Mayjen TNI (Purn) Muchdi PR juga menduga kemunculan peretas Bjorka belakangan yang tengah disorot publik hanya sebagai pengalihan isu.

"Itu bisa jadi sekadar mungkin pengalihan isu, bisa jadi juga kan," kata Muchdi dikutip dari sindonews, Jumat (16/9/2022).

Menurut Muchidi, pengalihan isu tersebut bisa saja benar lantaran kemunculannya di tengah banyaknya isu yang menjadi sorotan di tanah air.

"Ya saya lihat mungkin saja, mungkin saja itu kan belum tentu benar, mungkin saja," ucapnya.

Untuk diketahui, hingga kini kasus Ferdy Sambo masih belum jelas ujungnya, Jaksa Pinangki disunat masa tahanannya dan sudah bebas, harga bahan pokok naik, BBM naik dan Indonesia terancam inflasi, 23 napi koruptor bebas bersyarat. Sesaat perhatian masyarakat tertuju pada Bjorka.

Tag : #bjorka    #kominfo    #nasional    #hacker    #bssn    #cyber crime    #teknologi   

Baca Juga