Fenomena Fatherless : Implikasi Psikologis dan Sosial di Indonesia

Ilustrasi implikasi psikologis fenomena fatherless (Foto: PARBOABOA/Beby Nitani)

PARBOABOA, Jakarta - Di tengah perubahan sosial dan ekonomi yang cepat, banyak keluarga di Indonesia mengalami transformasi struktural.

Salah satu fenomena yang semakin mendapatkan perhatian adalah meningkatnya jumlah keluarga tanpa ayah atau 'fatherless'.

Fenomena ini tidak hanya sebuah statistik semata, tetapi memiliki dampak yang mendalam bagi perkembangan psikologis dan dinamika sosial dalam masyarakat.

Peran ayah dalam keluarga, yang secara tradisional dianggap sebagai pilar kekuatan, disiplin, dan ekonomi, kini sering kali absen akibat berbagai faktor. Mulai dari migrasi ekonomi, perceraian, hingga kematian, banyak anak yang harus tumbuh dan berkembang tanpa kehadiran ayah di rumah.

Psikolog Amerika, Edward Elmer Smith, mendefinisikan 'fatherless country' sebagai suatu negara di mana penduduknya cenderung tidak merasakan kehadiran dan partisipasi sosok ayah dalam kehidupan anak-anak mereka, baik dari segi fisik maupun psikologis.

Fenomena fatherless tidak terbatas hanya pada anak-anak yang yatim. Meskipun kehadiran sosok pengganti seperti kakek atau paman dapat membantu memenuhi peran ayah, istilah fatherless secara spesifik mengacu pada absennya peran ayah dalam kehidupan dan pengasuhan anak. 

Beberapa faktor yang menyebabkan fenomena ini termasuk pertimbangan ekonomi, perubahan sosial, dan pengaruh budaya.

Salah satu penyebab utama fenomena fatherless adalah tingkat perceraian yang tinggi. 

Menurut data dari Badan Statistik Indonesia (BPS) pada tahun 2023, terdapat sebanyak 463.654 kasus perceraian di Indonesia.

Akibatnya, banyak perempuan yang harus mengambil alih peran ayah dalam mengasuh anak-anak mereka.

Dampak Stigma Fatherless dalam Masyarakat Indonesia

Menurut Kasandra Putranto, seorang psikolog klinis forensik kepada PARBOABOA (Selasa, 23/03/2024), terdapat beberapa dampak bagi anak yang hidup tanpa peran ayah, antara lain:

Dampak Psikologis

Anak-anak yang dibesarkan tanpa figur ayah dapat mengalami berbagai dampak psikologis, termasuk:

  • Kekurangan kehangatan dan perhatian di rumah: Anak-anak mungkin tidak merasakan cukup kehangatan dan perhatian di rumah, sehingga mereka mencari hal tersebut di luar rumah
  • Peningkatan risiko pelecehan fisik, emosional, dan seksual: Anak yang tumbuh tanpa ayah berada dalam risiko yang lebih tinggi untuk mengalami pelecehan fisik, emosional, dan seksual.
  • Kurangnya pengarahan dan pengajaran dari sosok ayah: Mereka yang mencari persetujuan, meniru perilaku, dan menirukan kepribadian ayah dalam diri mereka.
  • Kesulitan menyesuaikan diri dengan lingkungan: Anak-anak yang lahir dan dibesarkan dalam keluarga yang tidak lengkap mungkin mengalami kesulitan menyesuaikan diri dengan lingkungan.
  • Anak perempuan yang tumbuh tanpa kehadiran sosok ayah mungkin mengalami dampak yang sangat buruk terhadap self-esteem mereka. Kondisi ini cenderung menimbulkan kesulitan dalam membangun hubungan yang langgeng dan bisa mengalami masalah dalam berbagai aspek kehidupan, termasuk hubungan asmara.

Dampak Sosial

Selain dampak psikologis, fenomena fatherless juga memiliki konsekuensi sosial yang beragam dan mempengaruhi berbagai aspek kehidupan anak.

Berikut adalah beberapa dampak sosial utama yang sering terjadi pada anak-anak yang tumbuh tanpa kehadiran ayah, menurut Kasandra:

  • Risiko kriminalitas dan kekerasan dalam rumah tangga: Anak-anak yang tumbuh tanpa ayah berpotensi terlibat dalam kriminalitas, kekerasan dalam rumah tangga, bahkan kehamilan remaja.
  • Keterlibatan dalam hubungan asmara lebih awal: Anak-anak tanpa ayah cenderung memulai hubungan asmara pada usia yang lebih muda.
  • Kesulitan dalam mengembangkan ikatan sosial: Kehilangan keterlibatan aktif seorang ayah dapat menyulitkan anak untuk membangun persahabatan dan hubungan sosial yang kokoh.
  • Ketergantungan pada orang yang tidak seharusnya: Anak-anak yang tumbuh tanpa sosok ayah mungkin mengembangkan ketergantungan pada orang yang seharusnya tidak pantas mendapatkan kepercayaan dan tanggung jawab tersebut.

Kasandra menjelaskan bahwa fenomena fatherless juga memiliki dampak psikologis jangka panjang yang sangat beragam dan signifikan dalam kehidupan anak.

Penelitian menunjukkan bahwa anak-anak yang tumbuh tanpa ayah seringkali menunjukkan perilaku agresif dan mudah marah. 

Ketiadaan ayah mempengaruhi pengembangan emosional anak dan cara mereka menanggapi stres serta konflik. Hal inilah yang menyebabkan mereka memiliki tingkat kepercayaan diri yang rendah dan perasaan tidak diinginkan. 

Akibatnya, mereka mungkin mengalami kesulitan dalam membentuk hubungan yang sehat dan stabil. 

Lebih lanjut, Kasandra mengungkapkan bahwa anak-anak ini bisa menjadi sulit diatur dan tidak taat pada aturan. Mereka cenderung terlibat dalam perilaku yang merugikan diri sendiri.

Hal tersebut menunjukkan bahwa mereka mengalami kesulitan dalam mengelola emosi dan perilaku mereka.

Editor: Beby Nitani
TAG :
Baca Juga
LIPUTAN KHUSUS