Perjuangan Pasar Hong Kong Pematang Siantar Bertahan di Era Persaingan dan Pandemi

Suasana sepi pembeli menyelimuti Pasar Hong Kong yang terletak di sepanjang Jalan Mariam Tomong, Pematang Siantar. (Foto: Parboaboa/Silvia Siahaan)

PARBOABOA, Pematang Siantar – Pasar Hong Kong di Pematang Siantar, sebuah ikon perdagangan yang telah berdiri tegak sejak 1960, tengah menghadapi cobaan yang sulit. Suasana pasar yang dulu pernah ramai kini sepi pembeli.

Ketika pertama kali berdiri, Pasar Hong Kong yang terletak di sepanjang Jalan Mariam Tomong ini adalah pusat ekonomi yang berkembang pesat, menarik pedagang dan pembeli dari berbagai penjuru kota.

Namun, masa-masa sulit datang ketika Pasar Horas muncul pada 1980-an, mengubah lanskap perdagangan lokal dan menimbulkan persaingan yang sangat ketat. Banyak pedagang Pasar Hong Kong yang mulai menutup kios karena sepi pengunjung.

Pandemi COVID-19 yang melanda Kota Pematang Siantar juga turut menyebabkan minimnya pembeli di lokasi itu.

Pembatasan perjalanan, ketidakpastian ekonomi, dan kekhawatiran akan kesehatan telah membuat masyarakat lebih berhati-hati dalam berbelanja.

Selain itu, ritel online juga berperan besar dalam menurunkan jumlah pembeli di pasar fisik. Banyak konsumen beralih ke platform belanja online karena kenyamanan dan pilihan produk yang lebih besar serta harga yang lebih kompetitif.

Namun, tidak semua harapan hilang. Ada pedagang seperti Ayu (40), yang telah berdagang di Pasar Hong Kong selama dua dekade.

Meskipun menghadapi sepi pengunjung, dia masih memiliki pelanggan setia yang sering memintanya untuk menjahit tas atau sepatu.

"Saya bersyukur masih memiliki pelanggan yang datang ke kios saya. Mereka membantu saya untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari,” tuturnya kepada Parboaboa baru baru ini.

Ada juga Ida, seorang pedagang nasi padang berusia 40 tahun. Ia telah menjalani bisnis ini selama tiga dekade. Meskipun sulit, Ida bersikeras untuk terus berdagang di warisan yang ditinggalkan oleh orang tuanya.

"Ini adalah kedai keluarga kami, warisan dari generasi sebelumnya. Mereka mengajarkan kami cara menjalankan bisnis ini, dan kami bertekad untuk menjaga warisan ini,” ceritanya.

Rey (30), seorang pedagang ikan hias yang telah beroperasi selama tiga bulan, menyampaikan pandangannya yang optimis terhadap situasi saat ini.

Menurutnya, meskipun saat ini pasar tampak sepi dari pembeli, dia percaya bahwa suasana akan berubah pada hari libur. Rey berharap, orang-orang akan kembali berdatangan untuk berbelanja di tempatnya.

Editor: Yohana
TAG :
Baca Juga
LIPUTAN KHUSUS