Tut Wuri Handayani

Sejarah dan Makna Logo Tut Wuri Handayani

Sondang | Pendidikan | 11-01-2022

PARBOABOA, Siantar – Pendidikan di Indonesia tidak lepas dari logo Tut Wuri Handayani. Logo ini sangat mudah ditemukan di seragam sekolah di setiap jenjang mulai dari SD, SMP, SMA dan SMK.

Dalam logo ini, terdapat sejarah yang jarang diketahui banyak orang. Oleh karena itu, Parboaboa akan mengupas tuntas sejarah dan makna logo Tut Wuri Handayani.

Sejarah Logo Tut Wuri Handayani

Ki Hajar Dewantara alias Bapak Pendidikan merupakan salah satu tokoh yang membuat tiga semboyan pendidikan, yakni Ing Ngarsa Sung Tuladha, Ing Madya Mangun Karsa, dan Tut Wuri Handayani.

Hal ini tertuang dalam buku Sejarah yang ditulis oleh Dr. Nana Nurliana Soeyono M.A dan Dra. Sudarini Suhartono M.A. Ketiga semboyan tersebut memiliki arti yang berbeda-beda, yakni Ing Ngarsa Sung Tuladha berarti memberi contoh dan Ing Madya Mangun Karsa berarti membangkitkan minat dan semangat.

Sementara Tut Wuri Handayani berarti mendorong murid agar mampu berusaha dengan kekuatan sendiri. Dengan makna itu, Tut Wuri Handayani akhirnya digunakan dalam melaksanakan sistem pendidikan.

Tut Wuri Handayani pun dijadikan sebagai lambang Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia (KEMENDIKBUD RI) sebagai penghargaan atas jasa dan perjuangan Ki Hajar Dewantara dalam pendidikan Indonesia.

Konsep pemikiran ini terbentuk sejak Ki Hadjar Dewantara mendirikan Taman Siswa pada 3 Juli 1922 di Yogyakarta. Namun, logo ini baru digunakan pada tahun 1997 ketika sayembara pembuatan logo tersebut.

Pada tanggal 14 Februari 1977, terbentuklah panitia sayembara pembuatan lambang departemen ini. Sayembera ini memiliki tim juri antara lain Dr. Soekmono yang merupakan dosen Departemen Seni Rupa ITB, Prof. Drs. HA Sadali dan Drs. Abdulkadir yang merupakan Ketua Sekolah Tinggi Seni Rupa (ASRI) Yogyakarta.

Saat itu, terdapat 1.600 logo yang diseleksi dan tak satupun terpilih. Namun, terdapat 10 logo yang dapat digolongkan sebagai logo terbaik. Kesepuluh logo tersebut kemudian dimodifikasi menjadi logo Tut Wuri Handayani yang bisa dilihat hingga saat ini.

Pada 6 September 1977, logo Tut Wuri Handayani akhirnya diresmikan melalui SK Menteri Nomor 0398/M/1977.

Makna Logo Tut Wuri Handayani

Sementara itu, logo Tut Wuri Handayani juga memiliki makna tersendiri. Berdasarkan situs resmi kemendikbud.go.id, inilah uraian logo tut wuri handayani.

- Bidang Segi Lima (Biru Muda) menggambarkan alam kehidupan Pancasila.

- Semboyan Tut Wuri Handayani digunakan oleh Ki Hajar Dewantara dalam melaksanakan sistem pendidikannya. Pencantuman semboyan ini berarti melengkapi penghargaan dan penghormatan kita terhadap almarhum Ki Hajar Dewantara yang hari lahirnya telah dijadikan Hari Pendidikan Nasional.

- Belencong Menyala Bermotif Garuda Belencong (menyala) merupakan lampu yang khusus dipergunakan pada pertunjukan wayang kulit. Cahaya belencong membuat pertunjukan menjadi hidup.

- Burung Garuda (yang menjadi motif belencong) memberikan gambaran sifat dinamis, gagah perkasa, mampu dan berani mandiri mengarungi angkasa luas. Ekor dan sayap garuda digambarkan masing-masing lima, yang berarti: ‘satu kata dengan perbuatan Pancasilais’.

- Buku merupakan sumber bagi segala ilmu yang dapat bermanfaat bagi kehidupan manusia.

- Warna: Warna putih pada ekor dan sayap garuda dan buku berarti suci, bersih tanpa pamrih. Warna kuning emas pada nyala api berarti keagungan dan keluhuran pengabdian. Warna biru muda pada bidang segi lima berarti pengabdian yang tak kunjung putus dengan memiliki pandangan hidup yang mendalam (pandangan hidup Pancasila).

Itulah sejarah dan makna logo Tut Wuri Handayani.

Tag : #tut wuri handayani    #kemendikbud    #pendidikan   

Baca Juga