Sistem perekrutan geng motor (Foto: Pinterest)

Menelisik Bagaimana Sistem Perekrutan Geng Motor

Sondang | Kriminal | 02-05-2022

PARBOABOA, Pematangsiantar - Aksi geng motor memang selalu menjadi keresahan masyarakat di berbagai daerah di Indonesia. Bagaimana tidak? Mereka diketahui telah menimbulkan banyak masalah, mulai dari merusak fasilitas umun, pencurian hingga pembunuhan.

Namun, pernahkah kamu terpikir bagaimana cara geng motor bisa terbentuk? Seperti apakah sistem perekrutan di geng motor?

Seperti di daerah Jawa Barat, banyak sekali terdapat geng-geng motor yang tersebar di daerah tersebut. Pihak Kementerian Sosial (Kemensos) pun telah melakukan penelitian mengenai geng motor di Jawa Barat dengan judul “FENOMENA GENG MOTOR: STUDI DI BEBERAPA KOTA JAWA BARAT”.

Dari penelitian tersebut terungkaplah sejumlah geng motor yang berada di kota Bandung dan Cirebon. Nah, dari situlah kita akan mengetahui bagaimana sistem perekrutan di geng motor.

1. Kota Bandung

Seperti banyak diberitakan di beberapa media, baik media cetak maupun media elektronik, bahwa kriminalitas yang dilakukan sekelompok orang begitu marak dan sudah meresahkan masyarakat.

Kota Bandung adalah salah satu kota yang banyak diberitakan tentang pencurian dengan kekerasan, pembegalan, pembacokan, penganiayaan dan kriminalitas lainnya yang dilakukan oleh sekelompok pengendara motor yang sering disebut sebagai kawanan geng motor.

Keberadaan sekelompok geng motor di Kota Bandung memang diakui oleh masyarakat sering meresahkan, terlebih banyak korban yang melaporkan ke polisi terkait tindak kriminal yang dilakukan sekelompok geng motor.

Kelompok geng motor di Bandung ada empat besar geng, yaitu XTC 1982 (Exault To Creativity), Briges (Brigadir Seven) yang dulu bentukan dari anak sekolah SMA X, Moonraker 1986, dan GBR 1986 ( Grab On Road ) seiring waktu ada beberapa geng motor menjadi organisasi sosial di masyarakat, seperti XTC dan GBR, hampir setiap wilayah ada anggota dan kordinator wilayahnya di Kota Bandung.

Jumlah geng motor yang ada di Kota Bandung

NO

Nama Geng

Perkiraan Jumlah

1.

GBR

500

2.

XTC

2000

3.

Brigez

2000

4.

Moonraker

1000

Sumber: Tim Khusus Intelkam Polrestabes Bandung

Dari tabel tersebut dapat dilihat jumlah anggota geng motor yang ada di Kota Bandung cukup banyak, hampir di tiap wilayah Polsek dibawah Polrestabes Kota Bandung mempunyai data kelompok geng motor yang harus di pantau.

GBR dibentuk tahun 13 Februari 1989 (sumber: wawancara dengan pendiri GBR, 25 Agustus). Masih menurut pendiri GBR, XTC dibentuk tahun 1986, Mount racker 1978 dan Brigez tahun 1986.

GBR memiliki visi: SAYA AKAN LEBIH BAIK BILA ANDA BAIK, SAYA AKAN GANAS BILA ANDA GANGGU SAYA; dan misi GBR: setia kawan dan apa adanya. Ada juga ungkapan yang menjadi pegangan mereka: “HIRUP TONG NGAJUAL, TAPI MUN SAKALI AYA NU JUAL BORONG!!!”.

2. Kota Cirebon

Sama dengan Bandung, Kota Cirebon juga memiliki 4 geng motor yang sama. Mereka adalah XTC, GBR, Moonraker dan Brigez. Perbedaannya terletak pada waktu pendirian dan pendirinya. Untuk perekrutannya, diperkirakan sama dengan di wilayah Kota Bandung.

Profil Geng Motor Kota Cirebon

1. XTC

Pendiri: Tidak tahu

Pimpinan saat ini: ZP

Jumlah anggota: 400 orang

Sistem rekruitmen: Bergabung lewat anggota/pengurus dan menjalani ospek fisik dan mental

Sifat Keanggotaan: Tidak tetap

2. GBR

Pendiri: Tidak tahu

Pimpinan saat ini: LK

Jumlah anggota: 200 orang

Sistem rekruitmen: Bergabung lewat anggota/pengurus dan menjalani ospek fisik dan mental

Sifat Keanggotaan: Tidak tetap

3. Moonraker

Pendiri: Tidak tahu

Pimpinan saat ini: AKG

Jumlah anggota: 100 orang

Sistem rekruitmen: Bergabung lewat anggota/pengurus dan menjalani ospek fisik dan mental

Sifat Keanggotaan: Tidak tetap

4. Brigez

Pendiri: Tidak tahu

Pimpinan saat ini: Tidak mau beritahu

Jumlah anggota: 100 orang

Sistem rekruitmen: Bergabung lewat anggota/pengurus dan menjalani ospek fisik dan mental

Sifat Keanggotaan: Tidak tetap

Dari data tersebut, keempat geng yang ada di Kota Cirebon sama sekali tidak mengetahui siapa pendirinya. Berdasarkan wawancara dengan informan dari masing-masing geng, dijelaskan bahwa mereka tidak tahu persis pendiri masing-masing geng karena mereka hanya pengikut atau anggota yang datang kemudian.

Sistem Perekrutan Geng Motor di Kota Cirebon

Perekrutan anggota baru dapat dilakukan oleh semua anggota dengan cara mengajak bergabung atau calon anggota baru mengambil inisiatif bergabung untuk selanjutnya diopspek atau disekolahkan (istilah geng motor).

Artinya, anggota baru harus mengikuti semacam pelatihan sekaligus uji fisik dan mental untuk membela geng motor yang dimasuki. Namun, tahapan ini tidak berlaku secara mutlak bagi setiap anggota baru.

Tidak jarang anggota baru yang direkrut panglima atau unsur pimpinan lainnya tidak melalui tahapan ini.  “Yah…kalau yang bawa bos, biasannya nggak pake ospek pak. Biar gitu gak ada yang protes. Siap yang berani pak. Namanya juga bos,” kata salah seorang anggota geng motor di Cirebon.

Sebaliknya, untuk pemutusan atau pemecatan anggota, bisanya dilakukan kepada anggota yang melakukan pelanggaran berat atau sudah berulang kali melanggar aturan geng. Ini berarti bahwa keanggotaan geng tidak menetap.

Anggota boleh saja keluar dari geng. Namun, untuk anggota tertentu yang dinilai dapat merugikan geng ketika yang bersangkutan keluar, akan diusahakan tetap menjadi anggota. Pertimbangan ini terutama didasarkan kepada kepentingan dan citra geng, dan keputusannya ditentukan oleh panglima.

Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa rekrutmen anggota baru dilakukan di lingkungan sekolah atau daerah-daerah pemukiman dengan jumlah populasi remaja cukup banyak. Umumnya anggota berasal dari remaja dengan usia remaja usia antara 12 hingga 21 tahun.

Tag : #geng motor    #sistem perekrutan    #kriminal    #bandung    #cirebon   

Baca Juga