K. H. Zainul Arifin

K. H. Zainul Arifin: Pahlawan Asal Sumatera Utara

Olivia | Pahlawan | 28-12-2021

PARBOABOA – Berdasarkan laman web Pemerintah Sumatera Utara, terdapat kurang lebih 12 pahlawan yang berasal dari Sumatera Utara, salah satunya adalah K. H. Zainul Arifin Pohan.

Beliau merupakan wakil perdana menteri Indonesia, ketua DPR-GR dan politisi Nahdlatul Ulama (NU) yang berasal dari Barus, Sumatera Utara. Dia pun pernah dipercaya untuk menjadi Panglima Hizbullah (Tentara Allah) dan bertugass untuk mengkoordinasi pelatihan-pelatihan semi militer di Cibarusah dekat Bogor.

Berikut Biografi lengkap dari K. H. Zainul Arifin Pohan.

Riwayat Hidup K. H. Zainul Arifin Pohan

K. H. Zainul Arifin adalah anak tunggal dari pasangan Sultan Ramali bin Tuangku Raja Barus Sultan Sahi Alam Pohan dengan Siti Baiyah br. Nasution, bangsawan yang berasal dari Kotanopan, Mandailing Natal. Beliau lahir di Barus pada tanggal 2 September 1909. Namun kedua orangtuanya bercerai ketika K. H. Zainul Arifin masih balita dan dia di rawat oleh ibunya yang kemudian pindah dari Kotanopan ke Kerinci, Jambi.

Disana ia menempuh pendidikan di Hollandsch-Indlandsche School (HIS), sekolah menengah calon guru di Normal School, dan juga memperdalam ilmu pengetahuan agama di madrasah dan seni bela diri, pencak silat.

Tidak hanya memperdalam pendidikan formal, ia ternyata seorang pecinta kesenian yang aktif dalam kegiatan musikal Melayu, Stambuk Bangsawan yang sebagai penyanyi dan pemain biola.
Perjalanan Karier K. H. Zainul Arifin.

Saat K. H. Zainul Arifin berusia 16 tahun, ia merantau ke Batavia yang kita kenal saat ini sebagai Jakarta.
Berbekal ijazah yang diperolehnya dari HIS, Zainul diterima bekerja di pemerintahan Kotapraja Kolonial (Gemeente) sebagai pegawai di Perusahaan Air Minum (PAM) di Pejompongan, Jakarta Pusat, selama lima tahun. Saat resesi global yang bermula di AS dan berdampak hingga ke wilayah Hindia Belanda, dia pun di PHK. 

Kemudian dia memilih bekerja sebagai guru sekolah dasar dan mendirikan balai pendidikan untuk orang dewasa, perguruan rakyat di kawasan Meester Cornelis (Jatinegara).

Zainul seorang pengacara tanpa latar belakang pendidikan hukum namun menguasai Bahasa Belanda. Dia sering memberi bantuan hukum bagi masyarakat Betawi yang membutuhkan sebagai tenaga Protokol Bambu.

Disamping kegiatannya tersebut, ia kembali aktif dalam kegiatan seni sandiwara musikal tradisional Betawi yang berasal dari tradisi Melayu, Samrah dan mendirikan kelompok tersebut bernama Tonil Zainul, yang membuatnya berkenalan dan sangat akrab bersahabat dengan tokoh perfilman nasional, Djamaluddin Malik. Sehingga keduanya bergabung dengan Gerakan Pemuda Ansor.

Pada saat menjadi anggota GP Ansor, Zainul semakin meningkatkan pengetahuan agama dan keterampilan berdakwanya sebagai mubaligh muda lewat pelatihan-pelatihan khas Ansor.

Kemampuannya dalam berpidato, berdebat dan berdakwa ternyata menarik perhatian tokoh-tokoh Nahdlatul Ulama (NU), organisasi induk Ansor. Tidak butuh waktu lama, Zainul di unjuk menjadi ketua cabang NU Jatinegara dan berikutnya sebagai Ketua Majelis Konsul NU Batavia hingga datangnya tentara Jepang tahun 1942.

K. H. Zainul Arifin Panglima Hizbullah Masyumi

Selain pernah bergabung dengan GP Ansor dan Nahdlatul Ulama, K. H. Zainul Arifin juga terlibat dalam pembentukan pasukan semi militer Hizbullah.

Selama masa penjajahan Jepang, Zainul ikut mewakili NU dalam mengurus Majelis Syuro Muslimin Indonesia (Masyumi). Dia ditugaskan untuk membentuk model kepengurusan tonarigumi, tentara Kekaisaran Jepang dan cikal bakal Rukun tetangga di Jatinegara.

Ketika perang Asia Pasifik memanas, Jepang mengizinkan pembentukan laskar-laskar semi militer rakyat. Para pemuda Islam kemudian membentuk Hizbullah (Tentara Allah). Dan pada saat itu juga, Zainul dipercaya dan diangkat menjadi Panglima Hizbullah dengan tugas utama untuk mengkoordinasi pelatihan-pelatihan semi militer di Cibarusa.

Dalam puncak kesibukan latihan perang guna mengantisipasi terjadinya Perang Asia Pasifik, Kemerdekaan Indonesia diproklamasikan Soekarno-Hatta pada 17 Agustus 1945 di Jakarta.

Karier Politik Paska Proklamasi Kemerdekaan

Zainul kembali bertugas mewakili partai Masyumi di Badan Pekerja Komite Nasional Indonesia Pusat (BP-KNIP), yang kita kenal sekarang sebagai DPR-MPR, sambil meneruskan kepemipinan Hizbullah yang sudah berubah menjadi pasukan bersenjata. Ia juga memimpin gerakan-gerakan gerilya Laskar Hizbullah di Jawa Tengah dan Jawa Timur selama Agresi Militer I dan II.

Setelah Belanda akhirnya mengakui Kedaulatan RI di akhir tahun 1949, Zainul kembali ke parlemen sebagai wakil Partai Masyumi di DPRS dan kemudian menjadi wakil partai NU ketika partai Kiai Tradisionalis memisahkan diri dari Masyumi pada tahun 1952.

Setahun kemudian, ia berkiprah di lembaga eksekutif dengan menjabat sebagai wakil perdana menteri dalam kabinet Ali Sastroamijoyo I yang memerintah dua tahun penuh (1953-1955). Kabinet itu sendiri sukses menyelenggarakan Konferensi Asia Afrika di Bandung.

Pemilu pertama di tahun 1955, menempatkan partai NU kedalam “tiga besar” pemenang pemilu, dimana jumlah kursi NU di DPR meningkat dari hanya 8 menjadi 45 kursi dan menempatkan Zainul Arifin sebagai anggota Majelis Konstituante sekaligus wakil ketua DPR sampai kedua lembaga dibubarkan Soekarno melalui Dekrit Presiden 5 Juli 1959. Memasuki era Demokrasi Terpimpin itu, ia bersedia mengetuai DPR Gotong Royong sebagai upaya partai NU membendung kekuatan Partai Komunis Indonesia (PKI) di parlemen.

Wafatnya K. H. Zainul Arifin Menjadi ‘Perisai’ Bung Karno

Ditengah meningkatnya suhu politik, saat sholat Idul Adha, 14 Mei 1962 pada Rabu pagi semuanya berjalan lancar. Para pejabat dan orang-orang penting yang salah satunya adalah K. H. Zainul Arifin Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Gotong Royong (DPR-GR) bersama-sama hadir di kompleks Istana Negara Jakarta.

Zainul Arifin berada di barisan paling depan, di sisi kanan Jendral Nasution yang bersebelahan dengan Presiden Soekarno. Sementara di sisi kiri Zainul ada Menteri Agama K. H. Saifuddin Zuhri. Pada saat rakaat kedua, tiba-tiba terdengar beberapa kali suara letusan pistol yang memecah kekhidmatan sehingga menimbulakan kepanikan.

Dari barisan terdepan, sesosok tubuh ambruk. Zainul jatuh, terkulai di atas sajadah miliknya dengan bahu yang berlumuran darah. Nyawa Zainul dapat terselamatkan karena peluru tersebut hanya menyerempet bahu kirinya. Tetapi kejadian itu meninggalkan dampak buruk baginya. Zainul harus menderita akibat luka bekas tembakan selama 10 bulan. Akhirnya dia wafat pada 2 Maret 1963.
Secara resmi, SK pengangkatan K. H. Zainul Arifin sebagai Pahlawan Kemerdekaan Nasional ditanda tangani oleh Presiden Soekarno pada 4 Maret 1963, SK Presiden No. 35/Tahun 1963.
 

Tag : #biografi zainul arifin    #zainul arifin    #pahlawan asal sumut    #perisai soekarno   

Baca Juga