Habis Gelap Terbitlah Terang

Mengenal R.A. Kartini: Pahlawan Para Perempuan Indonesia

Olivia | Pahlawan | 29-12-2021

PARBOABOA – Ibu kita kartini.. Putri Sejati, Putri Indonesia.. Harum namanya.. Ibu kita Kartini.. Pendekar Bangsa, Pendekar Kaumnya.. untuk merdeka.. Itulah sepenggal syair dari lagu yang berjudul ‘Ibu Kita Kartini’, ciptaan WR Supratman.

Lagu tersebut mengisyaratkan bahwa dahulu ada seorang Wanita yang menjadi salah satu pahlawan di Indonesia, pahlawan yang memperjuangkan hak dari seorang perempuan. Hak untuk bersekolah, hak untuk bekerja, hak menyuarakan pendapat, dan lainnya.

Hari Kartini diperingati setiap 21 April. Berdasarkan Keputusan Presiden RI No. 108 tahun 1964 pada 2 Mei 1964, di masa Presiden Soekarno.

Berikut Biografi perjalanan hidup R.A. Kartini semasa berjuang untuk kaum perempuan Indonesia.

Profil Raden Adjeng Kartini

Raden Adjeng Kartini atau yang lebih tepat disebut Raden Ayu Kartini, lahir di Jepara, 21 April 1879. Ia merupakan putri dari kalangan bangsawan. Ayahnya seorang Patih yang diangkat menjadi Bupati Jepara, yaitu Raden Mas Adipati Ario Sosroningrat dan ibunya bernama M. A. Ngasirah, putri dari seorang guru agama di Telukawur, Jepara.

Kartini adalah putri dari istri pertama ayahnya tetapi bukan istri utama. Mengapa demikian?

Ayah Kartini pada mulanya adalah seorang Wedana di Mayong. Peraturan kolonial waktu itu mengharuskan seorang Bupati beristrikan seorang bangsawan. Karena M. A. Ngasirah (Ibu kandung Kartini) bukanlah bangsawan tinggi, maka ayahnya kembali menikah dengan Raden Adjeng Woerjan (Moerjam), Keturunan langsung Raja Madura.

Anak ke 5 dari 11 bersaudara kandung dan tiri ini merupakan Wanita yang sangat antusias dengan Pendidikan dan Ilmu Pengetahuan. Dia sangat gemar membaca dan menulis, bahkan juga belajar bahasa Belanda.

Kakeknya, Pangeran Ario Tjondronegoro IV diangkat bupati di usia 25 tahun dan dikenal pada pertengahan abad ke-19 sebagai salah satu bupati pertama yang memberikan Pendidikan Barat kepada anak-anaknya. Kakak Kartini, Sosrokartono adalah seorang yang pintar dalam bidang bahasa. Sampai dia berusia 12 tahun, Kartini diperbolehkan bersekolah di Europeesche Lagere School (ELS).

Karena Kartini bisa berbahasa Belanda, di rumah dia mulai belajar sendiri dan menulis surat kepada teman-teman korespondensi yang berasal dari Belanda. Hal ini disebabkan ia harus sudah dipingit di usianya yang sudah 12 tahun.

Kartini dijodohkan oleh orangtuanya dengan Bupati Rembang, K.R.M. Adipati Ario Singgih Djojo Adhiningrat, yang sudah pernah menikah dan memiliki tiga istri. Dia menikah pada tanggal 12 November 1903.

Dari hasil pernikahannya tersebut, dia dikaruniai seorang putra bernama Soesalit Djojoadhiningrat yang lahir pada tanggal 13 September 1904.

Beberapa hari pasca melahirkan putranya, pada tanggal 17 September 1904, Kartini meninggal dunia di usianya yang ke 25 tahun.

Perjuangan R.A. Kartini untuk Kaumnya

Di usianya yang masih 12 tahun tapi harus dipingit membuat Kartini banyak mengirim surat ke sahabat penanya dan menceritakan semua keluahannya tentang kehidupan Wanita pribumi khususnya Jawa yang sulit untuk maju.

Salah satunya seperti kebiasaan Wanita harus dipingit, tidak bebas menuntut ilmu dan juga adat yang mengekang kebebasan perempuan. Dari buku-buku, koran dan majalah Eropa, Kartini tertarik pada kemajuan berpikir perempuan Eropa. Timbul keinginannya untuk memajukan perempuan pribumi, karena ia melihat bahwa perempuan pribumi berada di status sosial yang rendah.

Kartini juga mengungkit isu agama seperti poligami dan alasan mengapa kitab suci harus dihapal dan dibaca tanpa harus dipahami. Bahkan, ada kutipan dari kartini yang berkata, “Agama harus menjaga kita daripada berbuat dosa, tetapi berapa banyaknya dosa diperbuat orang atas nama agama itu.”

Kartini menginginkan emansipasi, seorang perempuan harus memiliki kebebasan dan kesetaraan baik dalam kehidupan maupun dimata hukum.

Hal tersebut didukung oleh salah satu sahabat penanya, yaitu Rosa Abendanon. Ia banyak membaca surat kabar Semarang De Locomotief yang diasuh Pieter Brooshooft. Ia juga menerima Leestrommel (paket majalah yang diedarkan toko buku kepada langganan).

Beberapa kali Kartini mengirimkan tulisannya dan dimuat di De Hollandsche Lelie. Dari surat-suratnya tampak Kartini membaca apa saja dengan penuh perhatian sambil membuat catatan-catatan.

Perhatiannya tidak semata-mata soal emansipasi Wanita, tetapi juga masalah sosial umum. Kartini meliat perjuangan Wanita agar memperoleh kebebasan, otonomi dan persamaan hukum sebagai bagian dari gerakan yang lebih luas.

Di saat usianya mengijak 20 tahun, daya nalar Kartini semakin matang. Kartini banyak membaca buku-buku karya Louis Coperus (De Stille Kraacht), Van Eeden, Augusta de Witt, Multatuli (Max Havelaar dan surat-surat cinta) serta berbagai roman-roman beraliran feminis. Semuanya menggunakan bahasa Belanda.

Tinggal di Jepara membuat Kartini merasa tidak begitu berkembang. Suatu waktu dia ingin melanjutkan sekolahnya di Jakarta atau Belanda, namun orangtuanya tidak mengizinkannya tapi tidak melarangnya menjadi seorang guru. Dan dia pun melanjutkan dan menjalani hidupnya di Jepara.

Kartini diminta orangtuanya untuk menikah di usianya ke 24 tahun. Dia pun menyetujuinya dan menikah dengan Bupati Rembang, K.R.M. Adipati Ario Singgih Djojo Adhiningrat.

Walau telah menikah, suami Kartini memberinya kebebasan dan dukungan untuk tetap menjadi guru dan mendirikan sekolah Wanita. Sekolah yang dia dirikan berada di sebelah timur pintu gerbang kompleks kantor kabupaten Rembang atau sebuah bangunan yang kini digunakan sebagai Gedung Pramuka.

Berkat kegigihannya, telah dirikan Sekolah Wanita oleh Yayasan Kartini di Semarang pada 1912 dan kemudian di Surabaya, Yogyakarta, Malang, Madiun, Cirebon dan daerah lainnya. Nama sekolah tersebut adalah ‘Sekolah Kartini’. Yayasan ini didirikan oleh keluarga Van Deventer, sorang tokoh Politik Etis.

Beberapa hari setelah melahirkan putranya, Kartini meninggal dunia dan dimakamkan di Desa Bulu, Kecamatan Bulu, Rembang.

Meski tidak sempat berbuat banyak untuk kaum perempuan, kemajuan bangsa dan tanah air, ide-ide yang sudah dia tuangkan dapat dirasakan kaum perempuan Indonesia sampai saat ini. Para perempuan Indonesia telah merasakan perjuangan emansipasi tersebut, telah memperoleh hak-haknya untuk dapat belajar, kesetaraan gender, dan lainnya.

Cita-citanya yang tinggi dituangkan dalam surat-suratnya kepada kenalan dan sahabatnya orang Belanda di luar negeri, seperti Tuan EC Adendanon, Ny MCE Ovink-Soer, Zeehandelaar, Prof Dr GK Anton dan Ny Tuan HH Von Kol, dan Ny HG de Booij-Boissevain. Surat-surat Kartini diterbitkan di negeri Belanda pada tahun 1911 pleh Mr. JH Abedanon dengan judul 'Door Duisternis tot Licht'. Kemudian diterjemahkan ke bahasa Indonesia oelh sastrawan pujangga baru Armjn Ppane pada tahun1922 dengan judul “Habis Gelap Terbitlah Terang.”

Buku-buku Karya RA Kartini

1. Habis Gelap Terbitlah Terang
2. Surat-surat Kartini: Renungan Tentang dan Untuk Bangsanya
3. Letters from Kartini, An Indonesian Feminist 1900-1904
4. Panggil Aku Kartini Saja
5. Kartini Surat-surat kepada Ny RM Abendanon-Mandiri dan suaminya
6. Aku Mau… Feminisme dan Nasionalisme. Surat-surat Kartini kepada Stella Zeehandelaar 1899-1903

Penghargaan yang Diberikan Untuk RA Kartini

1. Presiden Soekarno mengeluarkan Keputusan Presiden RI No. 108 tahun 1964, tanggal 2 Mei 1964, yang menetapkan Kartini sebagai Pahlawan Kemerdekaan Nasional sekaligus menetapkan hari lahir Kartini di tanggal 21 April, untuk diperingati setiap tahun sebagai hari besar yang kemudian dikenal sebagai ‘Hari Kartini’.
2. Nama jalan di Belanda.

Sekian Biografi dari Pahlawan para Perempuan Indonesia, RA Kartini.

Jangan lewatkan Biografi Pahlawan lainnya di laman web Parboaboa.

 

Tag : #biografi    #RA Kartini    #Emansipasi    #Pahlawan Wanita   

Baca Juga