Ketergantungan Batubara Meningkat, Filipina dan Indonesia Terdepan di Asia Tenggara

Dua orang petugas sedang memantau aktivitas pertambangan batubara di Bukit Asam (Foto: ptba.co.id)

PARBOABOA, Jakarta - Penggunaan batubara memainkan peranan penting dalam menunjang kebutuhan hidup masyarakat akan listrik.

Batubara menjadi bahan bakar utama yang digunakan untuk pembangkit listrik tenaga uap. 

Pembangkit listrik berbasis batubara menghasilkan sejumlah besar energi listrik yang digunakan oleh rumah tangga, industri, dan bisnis.

Laporan terkini menyebut, Filipina menjadi negara dengan ketergantungan tertinggi pada pembangkit listrik tenaga batu bara di dunia mengungguli China, Indonesia, dan Polandia. 

Laporan dari lembaga pemikir energi, Ember Climate menerangkan ketergantungan Filipina pada pembangkit listrik tenaga batu bara melonjak menjadi 61,93% pada 2023. 

Hal tersebut disebabkan karena lemahnya adopsi pembangkit listrik terbarukan di negara Filipina. 

Melansir keterangan International Energy Agency (IEA), disebutkan bahwa energi terbarukan adalah energi yang berasal dari proses alam yang diisi ulang terus menerus.

Pangsa listrik yang dihasilkan batu bara di negara Filipina naik dari 59,1% pada 2022 menjadi 61,93% pada 2023.

Analis kebijakan kelistrikan senior untuk Asia Tenggara, Dinita Setyawati mengungkapkan pembangkitan listrik dari batu bara di Filipina naik sebesar 9,7%. 

Presentasi ini jauh lebih tinggi dibandingkan peningkatan permintaan listrik yang hanya mencapai angka 4,6%. 

"Batubara memiliki kontribusi signifikan terhadap ketahanan energi di Filipina," kata Dinita pada Rabu (03/07/2024). 

Secara historis, lanjutnya, sejak 1990-an, "banyak pembangkit listrik tenaga batu bara mulai dibangun untuk memenuhi permintaan listrik yang terus meningkat." 

Sementara Indonesia berhasil mengungguli China dalam produksi listrik berbasis batubara untuk pertama kalinya.

Sebagai perbandingan, Indonesia mencatatkan produksi listrik dari pembangkit batubara mencapai 61,8% dan mengalahkan China yang kini bertengger di angka 60,69%.

Dengan presentasi tersebut, Indonesia sebagai produsen batu bara kelima terbesar di dunia berhasil menduduki peringkat kedua sebagai pengguna listrik berbahan bakarbatu bara di Asia Tenggara. 

Pada 2023 silam, Indonesia mencatatkan rekor tertinggi dengan 61,8% listriknya berasal dari pembangkit batu bara.

Langkah Selanjutnya untuk Indonesia dan Filipina

Data dari Ember Climate menunjukkan bahwa Indonesia dan Filipina memiliki ketergantungan terbesar terhadap batu bara di Asia Tenggara.

Ketergantungan kawasan Asia Tenggara pada batubara meningkat dari 31% pada 2022 menjadi 33% pada 2023. 

Di sisi lain, China telah membuat langkah maju dalam mengurangi ketergantungannya pada batubara dengan pangsa permintaan listrik mencapai 60,7% pada 2023. 

Secara global, India mencatat pangsa listrik batubara sebesar 75,2%, sedangkan Polandia mencatat angka sebesar 61%.

Data ini juga mengindikasikan bahwa Indonesia dan Filipina masih memerlukan bertahun-tahun untuk menggantikan batu bara sebagai sumber utama listrik mereka.

Peningkatan energi terbarukan dalam bauran listriknya sangat penting untuk mencapai misi tersebut. 

"Indonesia dan Filipina mengalami pertumbuhan terbatas dalam pembangkitan listrik terbarukan, karena potensi tenaga angin dan matahari mereka hampir seluruhnya belum dimanfaatkan," ujar Dinita.

Ia menambahkan peningkatan energi terbarukan harus sejalan dengan pengurangan penggunaan pembangkit listrik berbahan bakar batubara di kedua negara.

Pemerintah Indonesia perlu meningkatkan ambisi energi terbarukan dengan memperkenalkan kebijakan baru untuk mengembangkan tenaga surya dan angin. 

"Misalnya, memberikan insentif untuk pengguna panel surya atap, mengurangi persyaratan konten lokal untuk produksi energi angin dan surya, serta menyediakan dana penelitian publik untuk teknologi surya dan angin," tutup Dinita.

Editor: Defri Ngo
TAG :
Baca Juga
LIPUTAN KHUSUS