Ilustrasi penderita epilepsi yang mengalami kejang (Dok: grid.id)

Mengenal Penyakit epilepsi, Gejala, Penyebab, Serta Cara mengobatinya

Dimas | Kesehatan | 21-06-2022

PARBOABOA – Epilepsi atau yang lebih dikenal dengan ayan merupakan jenis penyakit yang umum dialami oleh sebagian besar masyarakat. Biasanya, penyakit ini lebih sering menyerang anak dibawah usia 2 tahun dan orang dewasa berusia di atas 65 tahun.

Epilepsi sendiri adalah jenis penyakit yang disebabkan oleh adanya masalah pada sistem saraf pusat yang dapat menimbulkan gangguan kejang.

Umumnya, diagnosis epilepsi diketahui setelah penderita mengalami kejang berulang dalam waktu 24 jam tanpa adanya sebab atau masalah kesehatan tertentu.

Penyebab Epilepsi

Adapun penyebab utama dari epilepsi adalah akibat dari gangguan sinyal listrik di otak atau ledakan aktivitas listrik di otak. Kondisi tersebut bisa di pengaruhi oleh beberapa faktor, di antaranya:

  • Faktor keturunan
  • Stroke
  • Tumor otak
  • Cedera kepala parah
  • Efek penyalahgunaan narkoba dan alkohol
  • Infeksi otak
  • Kekurangan oksigen saat melahirkan

Terkadang, epilepsi juga bisa muncul tanpa sebab yang jelas. Kondisi ini biasanya terjadi karena gen yang mempengaruhi cara kerja otak.

Gejala Epilepsi

Dalam banyak kasus, gejala epilepsi dapat berlangsung secara spontan dan singkat. Adapun gejala yang umum terjadi pada penderita epilepsi, yaitu:

  • Kebingungan sementara.
  • Mata kosong (bengong) menatap satu titik terlalu lama.
  • Gerakan menyentak tak terkendali pada tangan dan kaki.
  • Hilang kesadaran sepenuhnya atau sementara.
  • Gejala psikis.
  • Kekakuan otot.
  • Gemetar (tremor) atau kejang, pada sebagian anggota tubuh (wajah, lengan, kaki) atau keseluruhan.
  • Kejang yang diikuti oleh tubuh menegang dan hilang kesadaran secara tiba-tiba, yang bisa menyebabkan orang tersebut tiba-tiba terjatuh.

Pengobatan Epilepsi

1. Terapi Obat

Hingga kini, belum ada metode atau obat khusus yang diketahui dapat menyembuhkan penyakit epilepsi. Namun, ada beberapa obat yang diketahui mampu mengendalikan gejala dari epilepsi, sehingga pengidapnya dapat melakukan aktivitas sehari-hari dengan normal.

2. Operasi Epilepsi

Operasi epilepsi juga bisa dilakukan jika terapi obat sudah tidak berpengaruh lagi terhadap gejala yang ditimbulkan. Selain itu, prosedur ini juga dilakukan setelah hasil tes menunjukkan bahwa kejang berasal dari area tertentu pada otak yang tidak mengganggu fungsi vital seperti bicara, bahasa, fungsi motorik, penglihatan atau pendengaran. Dengan operasi, dokter akan mengangkat area di otak yang menyebabkan kejang.

Namun jika kejang berasal dari bagian otak yang tidak dapat diangkat, dokter akan merekomendasi jenis operasi lain di mana ahli bedah akan melakukan beberapa sayatan pada otak. Sayatan tersebut dirancang untuk menghindari menyebarnya kejang ke bagian otak yang lain.

Walau banyak orang yang tetap memerlukan obat epilepsi untuk mencegah kejang setelah operasi yang berhasil, Anda mungkin hanya akan memerlukan lebih sedikit jenis obat epilepsi serta dosisnya.

Pada sedikit kasus, operasi untuk kondisi ini dapat menyebabkan komplikasi, seperti perubahan kemampuan berpikir (kognitif) secara permanen.

Itulah seputar informasi mengenai penyakit epilepsi yang bisa Parboaboa sajikan. Jika Anda mengalami gejala-gejala di atas, segera periksakan diri ke dokter untuk diberikan penanganan yang tepat. Semoga bermanfaat!

Tag : #epilepsi    #sistem saraf    #kesehatan    #gangguan otak    #tumor otak    #stroke    #kejang   

Baca Juga