10 Negara Termiskin di Dunia Tahun 2021 Menurut IMF

10 Negara Termiskin di Dunia Tahun 2021 Menurut IMF

PARBOABOA, Siantar – International Money Fund (IMF) telah mengeluarkan Database Outlook Ekonomi Dunia yang menunjukkan daftar 10 negara termiskin di dunia. Ke-10 negara termiskin di dunia ini berada di benua Afrika.

Sebelum ada pandemi Covid-19, sudah ada negara miskin di berbagai belahan dunia. Kini di tengah Covid-19, negara miskin makin menjadi terpuruk.

Mereka belum bisa memberikan vaksinasi covid-19 terhadap warganya. Negara miskin ini biasanya selalu mendapat bantuan dari lembaga keuangan negara seperti IMF maupun World Bank.

Pada 2020 lalu, negara-negara tersebut mengalami penurunan daya beli per kapita tidak hanya sejak satu atau dua tahun lalu tapi dalam beberapa dekade lalu.

Secara rata-rata, output domestik bruto di negara tersebut senilai 1.125 dolar Amerika Serikat (AS). Kemudian, dua negara dalam daftar ini berada di kawasan Sahel, di mana kekeringan terus terjadi menyebabkan kekurangan pangan dan masalah medis hingga sosial.

Sedangkan enam negara terkurung daratan membuat mereka cukup dirugikan dibanding yang memiliki akses ke perdagangan maritim.

Anjloknya harga komoditas dalam beberapa tahun terakhir membuat ekonomi negara miskin ini sulit bangkit. Selain masalah itu, beberapa negara termiskin tersebut juga berada dalam ketidakstabilan politik hingga konflik etnis atau agama.

Daftar 10 Negara Termiskin di Dunia Tahun 2021:

10. Madagaskar

Di urutan ke-10 ada Madagaskar yang merupakan pulau terbesar keempat di dunia. Mayoritas penduduk masih tergantung pada pertanian sebagai mata pencaharian, sehingga membuat ekonominya sangat rentan terhadap bencana terkait cuaca.

Sejak merdeka, Madagaskar mengalami ketidakstabilan politik, namun dalam beberapa tahun terakhir kondisinya lebih baik. Presiden Madagaskar Andry Rajoelina membawa perubahan positif, dengan membangun infrastuktur dan mengentaskan kemiskinan.

Sayangnya, Covid-19 memicu resesi parah, terutama di sektor pariwisata dan manufaktur. Pandemi juga menyedot anggaran untuk investasi dan program sosial, sehingga menahan pertumbuhan yang lebih inklusif. Pendapatan per kapita masyarakatnya sebesar 1.599 dolar AS (Rp 22,2 juta) per tahun.

9. Liberia

Meski Liberia telah menikmati perdamaian dan stabilitas sejak akhir perang saudara pada 2003 lalu, namun pemerintahnya gagal mengatasi masalah sistemik dan tantangan struktural yang serius. Negara berpenduduk 5 juta orang ini juga menderita akibat penurunan harga komoditas dan wabah Ebola pada 2014 lalu.

Ketika mantan bintang sepak bola George Weah menjadi presiden pada 2018, masyarakat menaruh harapan besar padanya. Namun inflasi tinggi, pengangguran dan pertumbuhan ekonomi yang negatif merusak masa jabatannya.

Meskipun diprediksi bakal terjadi pemulihan moderat, namun Covid-19 akan membayangi prospek tersebut. Pendapatan per kapita masyarakatnya sebesar 1.557 dolar AS (Rp 22,1 juta) per tahun.

8. Mozambik

Negara bekas koloni Portugis ini memiliki banyak air dan tanah yang subur, sumber daya neregi, serta sumber daya mineral. Letak Mozambik juga strategis kerena empat dari enam negara yang berbatasan dengannya terkurung daratan dan bergantung padanya sebagai saluran perdagangan global, sehingga selama 10 tahun terakhir mencatat pertumbuhan PDB rata-rata lebih dari 7 persen.

Sayangnya, perang saudara, kondisi iklim yang buruk, korupsi, dan ketidakstabilan politik terus terjadi di negara ini. Bahkan sejak 2017, kelompok pemberontak melakukan serangan ke wilayah bagian utara yang kaya gas.

Pada 2020, perusahaan Perancis Total S.A melakukan investasi gas alam cair di negara itu senilai 15,8 miliar dolar AS. Banyak yang berharap investasi ini akan membawa perubahan, namun pada April 2021 terjadi kekerasan berulang di negara tersebut hingga perusahaan menangguhkan operasionalnya tanpa batas waktu. Pendapatan per kapita masyarakatnya adalah 1.277 dolar AS (Rp 18,1 juta) per tahun.

7. Nigeria

Dengan wilayah Nigeria 80 persen terkurung daratan yang ditutup Gurun Sahara, dan masyarakat yang berprofesi sebagai petani skala kecil, menyebabkan negara ini berada di bawah ancaman penggurunan dan perubahan iklim.

Kerawanan pangan tinggi, begitu pula tingkat penyakit dan kematian, serta bentrokan militer yang berulang dengan ISIS telah membuat ribuan orang mengungsi.

Salah satu pendorong utama ekonomi adalah ekstraksi sumber daya alam (SDA), seperti emas dan uranium. Namun SDA ini terpuruk karena volatilitas dan harga komoditas yang rendah. Pendapatan per kapita masyarakatnya sebesar 1.256 dolar AS (Rp 17,9 juta) per tahun.

6. Kongo

Dengan 80 juta hektare lahan subur, lebih dari seribu mineral, dan logam berharga, menurut Bank Dunia, Kongo berpotensi menjadi salah satu negara Afrika terkaya dan pendorong pertumbuhan di benua tersebut.

Namun ketidakstabilan politik, korupsi endemik, pandemi Covid-19 dan Ebola menggagalkan potensi tersebut. Pendapatan per kapita masyarakatnya sebesar 1.106 dolar AS (Rp 15,7 juta) per tahun.

5. Malawi

Sebagai salah satu negara terkecil di Afrika, Malawi dalam beberapa tahun ini telah membuat kemajuan dalam meningkatkan pertumbuhan ekonomi dan reformasi struktural. Namun, kemiskinan dan ekonomi negara yang mayoritas tergantung pada tanaman tadah hujan rentan guncangan terkait cuaca.

Akibatnya, meski standar hidup daerah perkotaan meningkat, namun kerawanan pangan di pedesaan sangat tinggi. Malawi adalah negara yang damai dan pemerintahannya stabil, namun pemilihan umum yang disengketakan pada tahun lalu jauh dari anomali.

Pandemi Covid juga membuat PDB negara itu turun jadi 0,6 persen dibanding tahun sebelumnya 4,5 persen. Pendapatan per kapita masyarakatnya sebesar  993 dolar AS (Rp 14,1 juta) per tahun.

4. Republik Afrika Tengah

Penduduk Republik Afrika Tengah yang kaya emas, minyak, uranium, dan berlian ini sangat miskin. Namun setelah menjadi negara termiskin di dunia, negara berpenduduk 4,75 juta ini menunjukkan beberapa kemajuan.

Terlepas dari masalah politik di negara itu, pertumbuhan Afrika tengah dalam beberapa tahun terakhir menunjukkan peningkatan diorong industri kayu serta bangkitnya sektor pertanian dan perdagangan.

Selain itu, ekonomi juga tumbuh dipicu penjualan berlian, namun sayangnya digunakan untuk mendanai kelompok bersenjata dan negaranya ditempatkan di bawah embargo internasional.

Meski pemerintah berjuang untuk memulihkan penjualan, namun hanya mendapatkan pendapatan sedikit dan 70 persen penduduk masih hidup di bawah garis kemiskinan.

Buruknya lagi, lockdown dan upaya lain untuk mengatasi penyebaran Covid membuat ekonominya makin sulit. Pendapatan per kapita masyarakatnya sebesar 979 dolar AS (Rp 13,9 juta) per tahun.

3. Somalia

Selama tiga dekade Somalia mengalami kekerasan dan konflik internal, kekeringan dan banjir yang sering diikuti kerawanan pangan dan pengungsian, kurangnya askes ke layanan kesehatan, penyebaran penyakit menular yang cepat, dan tingkat pengangguran yang tinggi terutama di kalangan anak muda membuat masyarakat somalia semakin putus asa.

Pertumbuhan PDB yang diproyeksi lebih dari 3 persen pada tahun lalu terganggu efek majemuk dari pandemi Covid-19, serangan belalang, dan banjir yang intesif menyebabkan ekonomi berkontraski 1,5 persen. Belum lagi krisis politik di negara itu membuat ekonomi negara ini makin terpuruk. Pendapatan per kapita masyarakatnya sebesar 925 dolar AS (Rp 13,1 juta) per tahun.

2. Sudan Selatan

Negara kaya minyak Sudan Selatan baru merdeka pada 9 Juli 2011 setelah berkonflik selama enam tahun dengan Sudan. Namun kekerasan terus melanda negara yang dibentuk dari 10 wilayah paling selatan Sudan dan rumah bagi 60 kelompok etnis pribumi. Konflik politik, jatuhnya harga minyak, dan naiknya biaya terkait keamanan menghantam Sudan Selatan.

Selain itu, kekerasan di negara itu membuat penduduknya yang mayoritas bekerja sebagai petani jadi jarang bercocok tanam atau memanen hasil bumi.

Dampak pandemi dan serangkaian banjir paling parah yang pernah dialami negara itu telah membunuh ternak, menghancurkan tanaman, dan ribuan keluarga mengungsi. Pendapatan per kapita masyarakatnya 791 dolar AS (Rp 11,2 juta) per tahun.

1. Burundi

Di urutan pertama negara termiskin di dunia tahun 2021 dipegang oleh Burundi. Negara kecil yang terkurung daratan ini diliputi konflik etnis dan perang saudara.

Sekitar 90 persen penduduknya bergantung pada pertanian subsiten. Kelangkaan pangan menjadi masalah utama, di mana kerawanan pangan hampir dua kali lebih tinggi dari rata-rata negara-negara Arfika sub-sahara.

Selain itu, akses ke air dan sanitasi masih sangat rendah, dan kurang dari 5 persen penduduk memiliki listrik. Kondisi ini diperparah dengan pandemi Covid-19.

Di samping itu, kurangnya infrastuktur, korupsi endemik, dan masalah keamanan menyebabkan kemiskinan ekstrem. Pendapatan per kapita masyarakatnya sebesar 760 dolar AS (Rp 10,8 juta) per tahun.

Editor: -
TAG :
Baca Juga
LIPUTAN KHUSUS