Penuh Ampunan, Inilah 5 Keutamaan Sepuluh Malam Kedua Ramadan

Ilustrasi Keutamaan malam kedua Ramadan (Foto: PARBOABOA/Beby Nitani)

PARBOABOA, Jakarta – Ramadan adalah bulan yang istimewa dan penuh berkah bagi umat Islam. Selama satu bulan penuh, Ramadan menjadi kesempatan yang tak tergantikan untuk memperbaharui iman dan ketaqwaan kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala (SWT).

Setelah melalui sepuluh hari awal dari Ramadhan 1445 Hijriah (H) dengan penuh semangat dan kekhusyukan, saat ini umat Muslim beranjak ke fase sepuluh hari kedua dari bulan penuh berkah.

Ini adalah momen yang tepat untuk meninggalkan kebiasaan buruk dan mengadopsi perilaku yang lebih baik, sebagai langkah menuju ketakwaan yang lebih dalam. 

Dengan berbuat demikian, peluang untuk mendapatkan pahala dari Allah SWT menjadi lebih besar, mengingat setiap usaha kebaikan, sekecil apa pun, akan dilihat dan dihargai.

Setiap ibadah yang dilakukan dengan penuh keikhlasan akan menjadi investasi spiritual yang tak ternilai harganya di hadapan Allah SWT.

Dilansir dari laman resmi Kementerian Agama Kalimantan Selatan, sepuluh hari kedua Ramadan sering dianggap sebagai masa transisi. 

Pada periode ini, ada penurunan semangat setelah euforia sepuluh hari pertama berlalu. Namun, di sisi lain, muncul juga rasa antusias menjelang Hari Raya Idul Fitri mulai terasa.

Selain itu, tidak sedikit jumlah jamaah di masjid-masjid yang berkurang selama periode ini. Penting untuk diingat bahwa di fase kedua Ramadan ini, pintu maaf dari Allah SWT terbuka sangat lebar.

Siapa saja yang berhasil melewati fase ini dengan tetap berpuasa dan beribadah dengan tulus, maka akan mendapat pengampunan yang tidak tertandingi oleh bulan-bulan lainnya.

Selama sepuluh hari kedua Ramadan, terdapat berbagai keutamaan tersimpan di dalamnya. Bagi yang konsisten menjalani puasa, akan merasakan keistimewaan tersebut.

Dilansir dari channel Youtube Ustadz Adi Hidayat Official pada Rabu (23/03/2024), ada lima keutamaan sepuluh hari kedua Ramadan.

Menurut Ustadz Adi Hidayat, tidak ada ketentuan khusus untuk membagi Ramadan pada sepertiga pertama, kedua dan terakhir. Meskipun begitu, banyak Ulama yang melakukan analisis terhadap pola perilaku umat Islam selama bulan Ramadan.

Keistimewaan orang-orang yang berpuasa didapatkan dari isyarat-isyarat dalam Al Quran ataupun hadist nabi muhammad Shalallaahu Alaihi Wassalaam (SAW).

Dalam salah satu hadits yang disampaikan oleh Rasulullah SAW,

قَدْ جَاءَكُمْ رَمَضَانُ شَهْرٌمُبَارَكٌ افْتَرَضَ اللهُ عَلَيْكُمْ صِيَامَهُ تُفْتَحُ فَيْهِ أبْوَابُ الْجَنَّةِ وَيُغْلَقُ فَيْهِ أبْوَابُ الْجَحِيْمِ وَتُغَلًّ فَيْهَ الشَّيَاطَيْنُ فَيْهِ لَيْلَةٌ خَيْرٌ مِنْ ألْفِ شَهْرٍ

Artinya: Telah datang bulan Ramadhan, bulan penuh berkah, maka Allah mewajibkan kalian untuk berpuasa pada bulan itu. Saat itu pintu-pintu surga dibuka, pintu-pintu neraka ditutup, para setan diikat dan pada bulan itu pula terdapat satu malam yang nilainya lebih baik dari seribu bulan (HR Ahmad).

Wujud Istiqomah

Allah SWT menetapkan standar keberhasilan bagi umat-Nya dalam menjalani Ramadan. 

Kesuksesan dalam menjalankan puasa, ibadah malam, tarawih, dan tilawah Al-Quran bukan hanya tentang melakukan amalan-amalan tersebut, tetapi juga tentang konsistensi dalam melakukannya, yang dapat dilihat saat memasuki fase kedua Ramadan.

Pada sepuluh hari kedua adalah hari yang sangat menentukan untuk menjadi standar keberhasilan kita pada sepuluh hari yang pertama.

Menjadi Pribadi Lebih Baik atau Bertaqwa

Berhasil melaksanakan ibadah selama sepuluh hari pertengahan bulan Ramadhan merupakan suatu keberkahan, karena bisa konsisten dalam beribadah.

Hal ini menandakan seseorang tersebut berada pada jalur yang semakin mendekatkan diri kepada Allah SWT serta mengembangkan dirinya menjadi lebih baik.

Karena itu, bahkan setelah Ramadhan berakhir, individu ini akan terus berdedikasi untuk melakukan aksi-aksi positif dan senantiasa merasakan kerinduan terhadap bulan suci Ramadhan.

Keadaan ini benar-benar merupakan sebuah nikmat, mengingat tidak semua orang dapat menerima atau memiliki petunjuk dari Allah.

Sebagai umat Islam yang terpilih mendapatkan hidayah, penting bagi kita untuk selalu mengisi hidup ini dengan kegiatan-kegiatan yang bernilai positif.

Pembuktian Untuk Mengevaluasi Diri

Tentang kesungguhan dalam menjaga komitmen peningkatan taqwa kepada Allah.

Oleh karena itu, maka ayat ini dengan kata yang singkat memberikan petunjuk dan motivasi yang tercurahkan dalam QS. Al-Baqarah: 183 yang berbunyi,

“يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَۙ ۝١٨٣.”

(Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa).

Mendapat limpahan anugerah

Peluang mendapatkan ampunan dari Allah SWT meningkat pada sepuluh hari kedua Ramadan dibandingkan dengan sepuluh hari pertama, di mana kesempatan untuk berdoa dan meminta ampunan terbuka bagi semua.

Namun, ketika memasuki fase ini, banyak di antara kita mulai merasa lelah dan kepentingan dunia sudah terasa kembali. 

Maka, energi dan amalan yang telah kita kumpulkan selama sepuluh hari pertama membantu kita memfokuskan diri untuk memperoleh karunia Allah SWT berupa ampunan.

Dikabulkan Doa-doa

Sepuluh hari kedua bulan Ramadan, merupakan fase yang sangat baik untuk memanjatkan doa meminta kebaikan di dunia dan akhirat. Ini merupakan momen di mana Allah SWT akan mengabulkan doa-doa hamba-Nya dengan lebih mudah.

Bulan Ramadhan dikenal sebagai waktu yang paling mustajab untuk berdoa, di mana peluang dikabulkannya doa oleh Allah SWT sangat besar.

Editor: Beby Nitani
TAG :
Baca Juga
LIPUTAN KHUSUS