Berbasis Riset Valid, Asosiasi Komunikolog Indonesia Bentuk Gugus Tugas Pantau Kampanye Pemilu

Asosiasi Komunikolog Indonesia bentuk gugus tugas pantau kampanye pemilu 2024. (Foto: Perpusnas)

PARBOABOA, Jakarta - Peristiwa politik belakangan ini dinilai mengubah lanskap pemilihan umum (Pemilu) 2024. Salah satu yang getarannya mempengaruhi dinamika kampanye pemilu adalah, putusan Mahkamah Konstitusi (MK) 16 Oktober lalu yang mengubah syarat usia capres dan cawapres.

Kondisi inilah yang mendorong asosiasi Komunikolog Indonesia, mengambil inisiatif membentuk gugas tugas pantau kampanye pemilu, berbasis metodologi dan riset kualitatif yang valid.

Komunikolog Universitas Pelita Harapan (UPH), Emrus Sihombing mengatakan, penelitian  yang dilakukan para komunikolog tidak hanya berfokus pada aspek kuantitatif, melainkan juga merangkum dimensi kualitatif, upaya advokasi, dan pemantauan media dengan analisis yang holistik. 

Emrus mengatakan, riset kualitatif ini dipimpin langsung oleh Suko Widodo, Komunikolog dari Universitas Airlangga. 

"Lalu ada actioan-researc yang meliputi upaya melakukan dan memantau aneka talkw-show di berbagai media," kata Emrus dalam siaran pers yang diterima PARBOABOA, Selasa (28/11/2023).

Emrus menambahkan, dalam kerja akademik berbasis penelitian itu, dirinya akan memimpin jalur action-research, sementara jalur-jalur advokasi akan dipimpin oleh Hasrullah, Komunikolog Universitas Hasanuddin.

Hasrullah menegaskan, riset ini akan berorientasi pada kampanye pemilu 2024. Ia mengatakan, Komunikolog akan memantau seluruh gagasan dan gimik capres-cawapres, baik sebelum kampanye, saat kampanye hingga debat kandidat berlangsung.

Ia berujar, dari semua riset komprehensif ini, diprediksi, hasilnya akan diketahui di pertengahan Januari nanti. 

"Di situ kita bisa lihat, siapa yang unggul dalam Pilpres 2024," katanya.  

Komunikolog Salemba School, Efendi Gazali menyampaikan, pasca putusan MK 16 Oktober lalu, para Komunikolog kerap melakukan diskusi dan penelitian.

Dari diskusi-diskusi itu kata Effendi, terlihat respons masyarakat, perubahan pola komunikasi politik yang terjadi, hingga dampaknya terhadap citra dan popularitas calon presiden dan wakil presiden. 

Effendi mengaku, sangat beruntung karena para komunikolog dapat mencatat seluruh aspek kualitatifnya dengan sangat teliti.

Ia mengatakan, "peristiwa Putusan MK 16 Oktober lalu, Pendaftaran capres dan cawapres khususnya 25 Oktober, amat mengubah lanskap Pemilu 2024."

Sementara itu, Komunikolog Suko Widodo menyoroti pemilu 2024 sebagai pemilu paling unik. Rangkaian peristiwa dari tanggal 16 hingga 25 Oktober, menurutnya, mendorong Komunikolog melakukan penelitian secara detail.

Koordinator Komunikolog Indonesia ini menandaskan, tim ini akan bekerja indepen dan objektif, sehingga, untuk itulah pembagian koordinator gugus tugas dilakukan melalui undian.

Suko Widodo berujar, "walau ke dalam masing-masing gugus tugas dapat bergabung banyak komunikolog dari berbagai daerah, yang penting Koordinatornya dapat menjaga obyektivitas penelitian ini".

Gugus tugas pantau kampanye pemilu telah terbentuk dengan komposisi sebagai berikut:

Koordinator pemantauan kampanye pasangan Prabowo-Gibran: Suko Widodo dan Hasrullah, koordinator pemantau kampanye Ganjar-Mahfud: Emrus Sihombing dan Ngurah Putra (Komunikolog Universitas Gajah Mada) dan Koordinator pemantauan  kampanye Pasangan Anies-Muhaimin (Amin): Effendi  Gazali & Iwel Sastra.

Editor: Rian
TAG :
Baca Juga
LIPUTAN KHUSUS