20 Contoh Legenda Panjang yang Terkenal di Indonesia, Mengandung Pesan Moral dan Pelajaran Hidup

Contoh legenda panjang yang paling terkenal di Indonesia (Foto: Parboaboa/Ratni)

PARBOABOA - Legenda adalah cerita tentang prosa rakyat yang dianggap oleh pemilik cerita sebagai suatu kejadian asli dan pernah terjadi.

Cerita-cerita dalam legenda disampaikan secara turun-temurun dari generasi ke generasi, telah menjadi bagian penting dari kebudayaan manusia sejak zaman dahulu.

Legenda biasanya mengisahkan tentang kehidupan seorang tokoh, kejadian atau suatu tempat. Selain itu, karya sastra ini juga mengandung pesan moral yang dapat diambil sebagai pelajaran dalam kehidupan.

Setiap daerah di Indonesia memiliki legenda atau cerita rakyat yang berbeda-beda. Pada setiap cerita di dalamnya memiliki atmosfer yang kaya, tempat-tempat yang magis, dan karakter-karakter yang kuat.

Pada artikel kali ini, Parboaboa akan menyajikan beberapa contoh legenda dari berbagai daerah di Indonesia. Mari kita tenggelam bersama dalam aliran cerita yang tak terbatas, dan biarkan imajinasi kita melayang jauh di atas batas-batas kenyataan.

Sudah siap menikmati perjalanan menyusuri lorong waktu yang dipenuhi dengan kekuatan kata? Langsung saja yuk, kita simak bersama contoh legenda panjang yang terkenal di Indonesia.

Contoh Legenda Panjang dari Berbagai Daerah di Indonesia

Setiap legenda ini menawarkan petualangan yang menakjubkan, keajaiban yang mempesona, dan nilai-nilai yang mendalam. Berikut ini adalah 20 contoh legenda panjang yang terkenal di Indonesia.

1. Contoh Legenda Danau Toba dari Sumatra Utara

Contoh legenda Danau Toba (Foto: lentera mata.com)

Pada zaman dahulu, ada seorang petani bernama Toba. Dia tinggal menyendiri di sebuah lembah yang landai dan subur. Toba bekerja di sawah dan ladang untuk keperluan hidupnya. Selain mengerjakan ladangnya, Toba juga suka pergi memancing ikan ke sungai yang berada tak jauh dari rumahnya.

Setiap kali dia memancing, mudah saja ikan didapatnya. Karena di sungai yang jernih itu, memang banyak sekali ikan. lkan hasil pancingannya dia masak untuk dimakan.

Pada suatu sore, setelah pulang dari ladang, Toba langsung pergi ke sungai untuk memancing. Tidak lama, tiba-tiba pancingnya disambar ikan, dan langsung menarik pancing itu jauh ke tengah sungai. Hati Toba menjadi gembira karena tahu bahwa ikan yang menyambar pancingnya, pasti ikan yang besar.

Setelah beberapa lama dia biarkan pancingnya ditarik ikan itu ke sana kemari, barulah pancing itu ditariknya perlahan-lahan. Ketika pancing itu disentakkannya, tampaklah seekor ikan besar tergantung dan menggelepar.

Dengan cepat, ikan itu ditariknya ke darat supaya tidak lepas. Sambil tersenyum gembira, mata pancingnya dia lepas dari mulut ikan itu. Toba tersenyum sambil membayangkan, betapa enaknya nanti daging ikan itu kalau dipanggang. Dia pun langsung meninggalkan sungai dan pulang ke rumah karena hari juga sudah mulai senja.

Setibanya di rumah, Toba langsung membawa ikan besar hasil pancingannya ke dapur. Ketika dia hendak menyalakan api untuk memanggang ikan itu, ternyata kayu bakar di dapur rumahnya sudah habis. Dia segera keluar untuk mengambil kayu bakar dari bawah kolong rumahnya. Kemudian, sambil membawa beberapa potong kayu bakar, dia naik kembali ke atas rumah dan langsung menuju dapur.

Pada saat Toba tiba di dapur, dia terkejut sekali karena ikan besar itu sudah tidak ada lagi. Tetapi di tempat ikan itu diletakkan, tampak terhampar beberapa keping uang emas. Toba segera membawa keping uang emas ke dalam kamar.

Ketika Toba membuka pintu kamar, tiba-tiba darahnya tersirap. Di dalam kamar itu, berdiri seorang perempuan cantik dengan rambut panjang terurai. Toba menjadi sangat terpesona karena wajah perempuan yang berdiri di hadapannya luar biasa cantiknya.

Karena hari sudah malam, perempuan itu minta agar lampu dinyalakan. Setelah Toba menyalakan lampu, perempuan itu bercerita bahwa dia adalah penjelmaan ikan besar yang tadi didapat Toba ketika memancing di sungai. Kemudian, dijelaskannya pula bahwa beberapa keping uang emas yang terletak di dapur itu adalah penjelmaan sisiknya.

Setelah beberapa minggu perempuan cantik itu tinggal serumah bersamanya, Toba pun melamar perempuan tersebut untuk jadi istrinya. Perempuan itu bersedia menerima lamarannya dengan syarat, Toba harus bersumpah seumur hidup agar dia tidak pernah mengungkit asal usul istrinya yang merupakan jelmaan seekor ikan. Toba pun kemudian bersumpah.

Setahun kemudian, mereka dikaruniai seorang anak laki-laki yang diberi nama Samosir. Samosir sangat dimanjakan ibunya, sehingga mengakibatkan anak itu bertabiat kurang baik dan pemalas.

Setelah cukup besar, Samosir disuruh ibunya mengantar nasi untuk ayahnya yang bekerja di ladang. Namun, sering dia tolak, sehingga terpaksalah ibunya yang mengantarkan nasi ke ladang.

Suatu hari, Samosir disuruh ibunya lagi mengantarkan nasi ke ladang untuk ayahnya. Mulanya dia menolak, tapi karena terus dipaksa ibunya, dengan kesal pergilah dia mengantarkan nasi itu.

Di tengah jalan, sebagian besar nasi dan lauk-pauknya dia makan. Setibanya di ladang, sisa nasi itu yang hanya tinggal sedikit, dia berikan kepada ayahnya. Toba sudah merasa sangat lapar karena nasinya terlambat sekali diantarkan.

Toba sangat marah ketika melihat nasi yang diberikan kepadanya bersisa sedikit. Amarahnya semakin bertambah ketika anaknya mengaku bahwa dia yang memakan sebagian besar nasi itu.

Kesabaran Toba hilang, dia memukuli anaknya sambil mengatakan, “Anak yang tak bisa diajar. Tidak tahu diuntung. Dasar keturunan perempuan ikan!”

Sambil menangis, Samosir berlari pulang menemui ibunya di rumah. Dia mengadu kalau dipukuli ayahnya. Semua kata-kata cercaan ayahnya, dia ceritakan pula. Mendengar cerita anaknya itu, si ibu sedih sekali. Terutama karena suaminya sudah melanggar sumpahnya dengan kata-kata cercaan yang dia ucapkan kepada anaknya itu.

Si ibu menyuruh anaknya agar segera pergi mendaki bukit yang terletak tidak begitu jauh dari rumah mereka, dan memanjat pohon kayu tertinggi yang terdapat di puncak bukit itu. Tanpa bertanya lagi, Samosir segera melakukan perintah ibunya itu. Dia berlari-Iari menuju ke bukit tersebut dan mendakinya.

Saat si ibu melihat Samosir sudah hampir sampai ke puncak pohon kayu yang dipanjatnya di atas bukit, dia pun berlari menuju sungai yang tidak begitu jauh letaknya dari rumah mereka. Ketika dia tiba di tepi sungai itu, kilat menyambar disertai bunyi guruh yang menggelegar.

Sesaat kemudian, si ibu melompat ke dalam sungai dan tiba-tiba berubah menjadi seekor ikan besar. Pada saat yang sama, sungai itu pun banjir besar dan turun pula hujan yang sangat lebat. Beberapa waktu kemudian, air sungai itu sudah meluap ke mana-mana dan tergenangiah lembah tempat sungai itu mengalir.

Toba tidak bisa menyelamatkan dirinya. Dia tenggelam oleh genangan air. Lama-kelamaan, genangan air itu semakin luas dan berubah menjadi danau yang sangat besar. Danau itulah yang kemudian hari dinamakan orang sebagai Danau Toba. Sedangkan pulau kecil di tengah-tengahnya diberi nama Pulau Samosir.

2. Contoh Legenda Malin Kundang dari Sumatra Barat

Contoh legenda Malin Kundang (Foto: Tangkapan layar YouTube/gubug dongeng)

Dahulu kala, di Padang Sumatra Barat, tepatnya di Perkampungan Pantai Air Manis, ada seorang janda bernama Mande Rubayah. Ia mempunyai seorang anak laki-laki bernama Malin Kundang. Malin sangat disayang oleh ibunya. Karena sejak kecil, Malin Kundang sudah ditinggal pergi oleh ayahnya.

Malin dan ibunya tinggal di perkampungan nelayan. Ibunya sudah tua. Dia hanya bekerja sebagai penjual kue. Ketika sudah dewasa, Malin berpamit kepada ibunya untuk pergi merantau. Pada saat itu, memang ada kapal besar yang merapat di Pantai Air Manis. Meski dengan berat hati, akhirnya Mande Rubayah mengijinkan anaknya pergi. 

Hari-hari berlalu terasa lambat bagi Mande Rubayah. Setiap pagi dan sore, Mande Rubayah memandang ke laut. Jika ada ombak dan badai besar menghempas ke pantai, dadanya berdebar-debar. la menengadahkan kedua tangannya ke atas sembari berdoa agar anaknya selamat dalam pelayaran.

Jika ada kapal yang datang merapat, ia selalu menanyakan kabar tentang anaknya. Tetapi, semua awak kapal atau nakhoda tidak pernah memberikan jawaban yang memuaskan. Malin tak pernah menitipkan barang atau pesan apapun kepada ibunya.

Itulah yang dilakukan Mande Rubayah setiap hari selama bertahun tahun. Tubuhnya semakin tua dimakan usia. Jika berjalan, ia sudah mulai terbungkuk-bungkuk.

“Ibu sudah tua Malin, kapan kamu pulang…”, rintih Mande Rubayah setiap malam.

Hingga berbulan-bulan, Malin belum juga datang menjenguknya. Namun, ia yakin bahwa pada suatu saat, Malin pasti akan kembali.

Harapannya terkabul. Pada suatu hari, dari kejauhan tampak sebuah kapal yang indah berlayar menuju pantai. Kapal itu megah dan bertingkat-tingkat. Orang kampung mengira kapal itu milik seorang sultan atau seorang pangeran. Mereka menyambutnya dengan gembira.

Ketika kapal itu mulai merapat, tampak sepasang muda-mudi berdiri di anjungan. Pakaian mereka berkilauan terkena sinar matahari. Wajah mereka cerah dihiasi senyum. Mereka nampak bahagia karena disambut dengan meriah.

Mande Rubayah ikut berdesakan melihat dan mendekati kapal. Jantungnya berdebar keras. Dia sangat yakin sekali bahwa lelaki muda itu adalah anak kesayangannya, si Malin Kundang. Belum lagi tetua desa sempat menyambut, ibu Malin terlebih dahulu menghampiri Malin. la langsung memeluk Malin erat-erat. Seolah takut kehilangan anaknya lagi.

“Malin, anakku! Mengapa begitu lamanya engkau tidak memberi kabar?”, katanya menahan isak tangis karena gembira. 

Malin terpana karena dipeluk wanita tua renta yang berpakaian compang-camping itu. Ia tak percaya bahwa wanita itu adalah ibunya. Seingat Malin, ibunya adalah seorang wanita berbadan tegar yang kuat menggendongnya ke mana saja.

Sebelum dia sempat berpikir dengan tenang, istrinya yang cantik itu meludah sambil berkata, “Cuih! Wanita buruk inikah ibumu? Mengapa kau membohongi aku?”

Mendengar kata-kata istrinya, Malin Kundang mendorong wanita itu hingga terguling ke pasir. Mande Rubayah hampir tidak percaya pada perlakuan anaknya. Ia jatuh terduduk sambil berkata, “Malin, Malin, anakku. Aku ini ibumu, Nak!”

Malin Kundang tidak menghiraukan perkataan ibunya. Pikirannya kacau karena ucapan istrinya. Seandainya wanita itu benar ibunya, dia tidak akan mengakuinya. la malu kepada istrinya. Melihat wanita itu beringsut hendak memeluk kakinya, Malin menendangnya sambil berkata, “Hai, Perempuan tua! Ibuku tidak seperti engkau! Melarat dan dekil!”

Wanita tua itu terkapar di pasir. Mande Rubayah pingsan dan terbaring sendiri. Ketika ia sadar, Pantai Air Manis sudah sepi. Di laut, dilihatnya kapal Malin semakin menjauh. Hatinya perih seperti ditusuk-tusuk. Tangannya ditadahkannya ke langit. Ia kemudian berseru dengan hatinya yang pilu, “Ya Tuhan Yang Maha Kuasa, kalau dia bukan anakku, aku maafkan perbuatannya tadi. Tapi kalau memang dia benar anakku, Malin Kundang, aku mohon keadilan-Mu, ya Tuhan…!”

Tidak lama kemudian, cuaca di tengah laut yang tadinya cerah, mendadak berubah menjadi gelap. Hujan tiba-tiba turun dengan teramat lebatnya. Tiba-tiba datanglah badai besar, menghantam kapal Malin Kundang. Badai itu pun disusul sambaran petir yang menggelegar. 

Seketika, kapal itu hancur berkeping-keping. Kemudian, terhempas ombak hingga ke pantai. Ketika matahari pagi memancarkan sinarnya, badai telah reda. Di kaki bukit, terlihat kepingan kapai yang telah menjadi batu. Itulah kapal Malin Kundang.

Tak jauh dari tempat itu, nampak sebongkah batu yang menyerupai tubuh manusia. Konon, itulah tubuh Malin kundang, si anak durhaka yang kena kutuk ibunya menjadi batu. Di seIa-sela batu itu, berenang-renang ikan teri, ikan belanak, dan ikan tenggiri. Konon, ikan itu berasal dari serpihan tubuh sang istri yang terus mencari Malin Kundang.

3. Contoh Legenda Gunung Merapi dari Yogyakarta

Contoh legenda Asal Usul Gunung Merapi (Foto: Tangkapan layar YouTube/dongeng kita)

Disebutkan dalam Babad Tanah Jawa, Panembahan Senapati sedang bertapa di Nglipura, dekat Bantul. Setelah selesai bertapa, kemudian Ki Juru Mertani bertanya kepadanya, “Apakah yang kau dapatkan di dalam tapamu?”.

Panembahan Senapati menjawab, “Saya mendapatkan lintang johar di Nglipar”.

Segera Ki Juru Mertani bertanya kembali, “Apakah lintang johar Itu mampu menghilangkan marabahaya?”.

“Tidak, Paman”, ujar Panembahan Senapati.

“Kalau begitu, bertapalah lagi”, kata Ki Juru Mertani. Ki Juru Mertani melanjutkan perkataannya. 

“Hanyutkanlah sebatang kayu di sungai. Naiklah kau di atas kayu yang hanyut itu. Setelah sampai di Laut Kidul, kau akan menjumpai Ratu Kidul”. 

Panembahan Senapati menjalankan apa yang dikatakan Ki Juru Mertani. Di dalam Babad Tanah Jawa, disebutkan tentang pertemuan Panembahan Senopati dan Ratu Laut Kidul. Ratu Laut Kidul bersedia membantu Panembahan Senopati dengan bala tentara makhluk halus. Panembahan Senopati kemudian menemui Ki Juru Mertani.  

“Nah, sekarang apa yang kau dapatkan dari tapamu?”. 

“Benar kata paman, saya dapat bertemu dengan Ratu Kidul”. 

“Lantas, apa yang kau dapatkan?”, tanya Ki Juru Mertani.

“Saya diberi minyak Jayeng Katong dan Telur Degan”, jawab Panembahan Senapati.

“Telur yang kau dapatkan itu berikanlah pada Juru Taman”, kata Ki Juru Mertani. 

Singkat cerita, setelah Ki Juru Taman memakan telur itu. Terjadi keanehan dalam diri Ki Juru Taman. Tubuhnya berubah wujud menjadi raksasa yang besar dan mengerikan. Selanjutnya, raksasa itu ditugaskan menjaga Gunung Merapi.

Adapun tempat penjagaannya adalah Plawangan. Maka, apabila terjadi bencana yang diakibatkan oleh Gunung Merapi, raksasa itulah yang menjaga dan menahan agar bencana tidak menjalar ke arah selatan, khususnya Keraton Yogyakarta. Itulah sebabnya, lahar yang disemburkan Gunung Merapi tidak pernah mengalir ke selatan. 

Dengan demikian, daerah sebelah selatan senantiasa terhindar dari bencana, sedangkan minyak Jayeng Katong diperintahkan agar dibuang. Namun sebelumnya, dibuka dahulu dan diusapkan pada dua anak laki-Iaki dan perempuan yang ada di sana.

Setelah terkena Jayeng Katong, raga keduanya tidak kelihatan. Si anak laki-laki yang tidak nampak itu dijuluki Kyai Panggung, sedangkan si anak perempuan menjadi Nyai Koso. Sampai sekarang, mereka dipercayai masih setia menjaga Beringin Putih di utara Masjid yang ada di sebelah selatan jalan.

4. Contoh Legenda Putri Tujuh dari Riau

Contoh legenda Putri Tujuh (Foto: budaya indonesia)

Dahulu kala, ada sebuah kerajaan bernama Seri Bunga Tanjung yang diperintah oleh Ratu Cik Sima. Ia memiliki tujuh orang putri yang sangat cantik dengan sebutan Putri Tujuh. Putri bungsu yang bernama Mayang Sari adalah putri tercantik di antara keenam saudaranya. Putri Mayang Sari dikenal juga dengan nama Mayang Mengurai.

Suatu ketika, ketujuh putri itu mandi di Lubuk Umal. Mereka tidak menyadari bahwa Pangeran Empang Kuala sedang mengintipnya dari balik semak-semak. Sang Pangeran sangat terpesona melihat kecantikan salah satu putri, yaitu Putri Mayang Mengurai.

Sang pangeran pun bergumam lirih, “Gadis cantik di Lubuk Umal, cantik di Umal. Ya, ya dumai, dumai…”.

Ia pun mengirim utusan untuk meminang sang putri. Pinangan itu disambut baik oleh Ratu Cik Sima. Namun menurut adat, putri tertualah yang berhak menerima pinangan terlebih dahulu. Utusan tersebut kembali menghadap kepada sang Pangeran.

“Ampun Baginda Raja! Keluarga Kerajaan Seri Bunga Tanjung belum bersedia menerima pinangan tuan untuk memperistrikan Putri Mayang Mengurai”. Mendengar laporan itu, sang Raja tak bisa terima. Sang Pangeran segera memerintahkan pasukannya untuk menyerang Kerajaan Seri Bunga Tanjung. Maka, pertempuran antara kedua kerajaan itu tak dapat dielakkan lagi.

Pertempuran yang terjadi sangat dahsyat, sehingga Ratu Cik Sima segera menyembunyikan ketujuh putrinya di sebuah gua di hutan. Setelah itu, sang Ratu kembali menghadapi pasukan Pangeran Empang Kuala.

Sudah tiga bulan berlalu, tetapi pertempuran itu tak kunjung usai. Setelah memasuki bulan keempat, rakyat Negeri Sri Bunga Tanjung banyak yang tewas. Diceritakan bahwa pasukan Pangeran Empang Kuala Juga sangat letih menghadapi pertempuran itu.

Pasukan Sang Pangeran beristirahat dan berlindung di bawah pohon bakau di hilir Sungai Umal. Menjelang malam, secara tiba-tiba, pasukan Pangeran Empang Kuala tertimpa beribu-ribu buah bakau yang jatuh dan menusuk ke badan. Melihat kenyataan itu, Sang Pangeran memerintahkan pasukannya segera pulang ke Negeri Empang Kuala.

Ratu Cik Sima pun sangat bersyukur dengan kabar gembira tersebut. Keesokan harinya, ia pergi ke hutan untuk melihat ketujuh putrinya, tetapi alangkah terkejutnya, karena mereka sudah tak bernyawa, akibat kelaparan. Ratu teringat bahwa bekal makanan anaknya hanya cukup untuk tiga bulan, sedangkan peperangan terjadi selama empat bulan.

Ratu Cik Sima jatuh sakit dan tak lama kemudian, ia meninggal dunia. Dari cerita ini, masyarakat Dumai meyakini bahwa nama kota Dumai diambil dari kata dumai, seperti yang pernah diucapkan Pangeran Empang Kuala saat melihat kecantikan Putri Mayang Mengurai.

5. Contoh Legenda Batu Menangis dari Kalimantan Barat

Contoh legenda Batu Menangis (Foto: Tangkapan layar YouTube/dongeng kita)

Alkisah, tinggalah seorang janda miskin dan anaknya di suatu desa yang ada di daerah Kalimantan. Anak janda miskin itu merupakan seorang gadis yang sangat cantik, tetapi perilakunya buruk dan manja. Suatu ketika, sang ibu mengajak anak gadisnya untuk berbelanja ke desa.

Di sepanjang perjalanan, banyak orang yang bertanya kepada si anak tentang siapakah seseorang yang berjalan di belakangnya. Pada awalnya, si anak menjawab bahwa ibunya tersebut merupakan pembantunya. Jawaban kedua, ia mengatakan bahwa ibunya tersebut merupakan budaknya.

Sang anak melakukan hal seperti ini secara berulang kali. Jadi, ketika orang-orang menanyakan tentang ibunya, ia selalu menjawab tidak sesuai dengan yang sebenarnya. Semakin lama ibunya tidak tahan mendengar jawaban dari anaknya tersebut kepada setiap orang yang bertanya.

Kemudian, si ibu berdoa supaya anaknya mendapatkan hukuman. Si anak pun dengan perlahan berubah menjadi sebuah batu. Si anak lalu meminta ampun ketika batu sudah menjalar ke setengah badannya. Namun, ia sudah terlambat meminta maaf. Pada akhirnya, si anak berubah menjadi batu yang terus menangis.

6. Contoh Legenda Bawang Merah dan Bawang Putih dari Riau

Dahulu kala, tinggalah sebuah keluarga bahagia yang terdiri dari ibu, ayah, dan anak perempuannya bernama Bawang Putih. Sang ayah adalah seorang pedagang. Walaupun kecil, tetapi ia tetap menjalankan pekerjaan tersebut dengan senang hati. Suatu ketika, sang ibu sakit keras dan meninggal dunia. Kejadian tersebut membuat sang ayah dan Bawang Putih merasa sedih dan terpukul.

Di desa itu, ada seorang janda yang mempunyai satu anak perempuan bernama Bawang Merah. Sejak mengetahui ibu Bawang Putih meninggal, ibu Bawang Merah sering datang ke rumah untuk menemani bawang putih. Ibu Bawang Merah juga suka membantu mengerjakan pekerjaan rumah. Jadi, Bawang Putih tidak merasa kesepian lagi.

Melihat hal itu, ayah Bawang Putih ingin menikahi ibu Bawang Merah, supaya Bawang Putih tidak merasa kesepian. Tentunya, hal ini dilakukan atas izin Bawang Putih. Setelah mendapat restu, ayah Bawang Putih dan ibu Bawang Merah pun menikah.

Kini, Bawang Putih dan ayahnya hidup bersama dengan Bawang Merah dan ibunya. Awalnya, Bawang Merah dan ibunya sangat baik kepada Bawang Putih. Namun, semakin lama, mereka jadi jahat. Seluruh pekerjaan rumah dikerjakan oleh Bawang Putih. Bawang Merah dan ibunya tidak mengerjakan pekerjaan satu pun. Hal ini terjadi tanpa diketahui oleh sang ayah.

Suatu saat, ayah Bawang Putih meninggal dunia. Hal ini membuat tindakan Bawang Merah dan ibunya menjadi semakin semena-mena. Sering kali Bawang Putih bersedih. Namun, ia tetap melakukan seluruh pekerjaan yang diminta ibu tirinya dengan perasaan gembira. Ia berharap, suatu saat ibu tirinya mau menyayanginya seperti anak kandungnya sendiri.

Ketika Bawang Putih mencuci baju, ia tidak sengaja menghanyutkan baju kesayangan ibu tirinya. Sang ibu tiri yang tidak terima bajunya hanyut, memintanya untuk mencari baju kesayangannya tersebut sampai ketemu.

Bawang Putih pun pergi mencari baju ibu tirinya yang hanyut. Kemudian, Bawang Putih bertemu seorang nenek yang mengambil baju merah milik sang ibu tiri. Nenek itu mau mengembalikan baju merah tersebut dengan syarat, Bawang Putih mau menemaninya selama seminggu. Bawang putih menyetujui syarat tersebut.

Di hari ke tujuh, nenek tersebut memberinya sebuah labu sebelum ia pulang. Bawang Putih terkejut dan heran, karena ketika ia membuka labu tersebut, isinya adalah emas. Ternyata, Bawang Merah dan ibunya mengetahui labu berisi emas itu. Dengan segera, mereka mengambil perhiasan di dalam labu milik Bawang Putih.

Bawang Merah dan ibunya pun meminta agar Bawang Putih menceritakan kejadian yang menimpanya, dan bertanya bagaimana ia bisa mendapatkan labu berisi emas itu. Setelah Bawang Putih bercerita, Bawang Merah diminta oleh sang ibu untuk melakukan hal yang serupa. Sesudah satu minggu lamanya, Bawang Merah akhirnya pulang dan ia meminta sebuah labu dari nenek.

Nenek itu memberi kebebasan Bawang Merah untuk memilih. Labu yang Bawang Merah pilih adalah yang paling besar. Sampai di rumah, Bawang Merah membuka labu pemberian dari sang nenek. Harapannya, ia akan memperoleh emas seperti yang sebelumnya didapatkan oleh Bawang Putih.

Ternyata, isi dari labu tersebut adalah hewan-hewan berbahaya. Hewan-hewan tersebut mematuk Bawang Merah dan ibunya sampai akhirnya meninggalkan rumah.

7. Contoh Legenda Timun Mas dari Jawa Tengah

Dikisahkan, hiduplah seorang janda tua yang bernama Sarni. Ia hidup seorang diri dan tidak mempunyai anak. Pada suatu hari, Sarni pergi mencari kayu ke hutan. Selama di pertengahan jalan, ia bertemu dengan raksasa yang menginginkan seorang anak untuk disantap.

Tetapi, Sarni menjelaskan bahwa ia tidak memiliki seorang anak. Kemudian, raksasa itu memberikan biji timun kepadanya. Ia meminta Sarni untuk menanam biji timun itu dan menunggunya selama dua minggu. Setelah itu, Sarni akan memperoleh anak dari timun yang tumbuh dari biji ini. Namun, ketika anak itu berusia 6 tahun, Sarni harus memberikan anak tersebut.

Sesudah menunggu selama dua minggu, salah satu mentimun itu ada yang ukurannya sangat besar. Kemudian, ia membelahnya dan menemukan seorang bayi perempuan di dalamnya. Bayi itu kemudian ia beri nama Timun Mas. Kini, Sarni hidupnya tidak lagi seorang diri karena mempunyai Timun Mas yang cantik.

Sarni merawat Timun Mas layaknya anak sendiri. Ia sangat menyayangi anak itu. Ketika Timun Mas sudah berumur 6 tahun, sang raksasa datang untuk menagih janjinya mengambil Timun Mas. Kala itu, Sarni mengatakan untuk menundanya saja. Sarni beralasan, akan semakin enak rasanya jika Timun Mas sudah semakin dewasa. Akhirnya, raksasa menyetujui saran dari Sarni.

Setelah Timun Mas beranjak dewasa, raksasa itu datang lagi. Namun, Sarni masih saja beralasan agar raksasa itu tidak membawa Timun Mas. Raksasa itu menjadi sangat marah. Ia mengatakan bahwa Timun Mas harus ia bawa. Kalau tidak, ia juga akan mencelakakan Sarni.

Sarni merasa gelisah dan takut. Malamnya, ia bermimpi Timun Mas diminta untuk menemui petapa yang ada di gunung. Ketika hari sudah pagi, ia meminta Timun Mas untuk mencari petapa tersebut dengan segera.

Timun Mas kemudian pergi ke gunung dan menemui si petapa. Sesudah Timun Mas menceritakan kejadian yang sebenarnya, petapa akhirnya memberikan empat kantong kecil. Empat kantong itu isinya biji mentimun, garam, jarum, dan terasi.

Petapa mengatakan, jika dikejar oleh raksasa, Timun Mas diminta untuk melemparkannya isi kantong tersebut satu per satu. Kemudian, Timun Mas berpamitan pulang ke rumah sesudah mendapatkan kantong-kantong tersebut.

Untuk menagih janjinya, esok hari sang raksasa datang lagi. Sarni meminta kepada raksasa agar tidak mengambil anaknya. Hal ini karena Sarni sangat mencintai dan menyayangi anaknya. Bahkan, ia juga rela menawarkan dirinya sebagai ganti Timun Mas. Tetapi, raksasa marah dan menolak tawarannya.

Timun Mas kemudian keluar dan menantang raksasa karena merasa tidak tega melihat ibunya diperlakukan seperti itu. Timun Mas pun lari dari rumah yang kemudian di kejar oleh si raksasa.

Dalam pelariannya, Timun Mas melemparkan isi kantong pertama yang berisi biji timun. Biji timun itu tumbuh menjadi tanaman timun yang melilit tubuh raksasa. Namun, raksasa mampu melewati tanaman timun yang melilit tubuhnya dan kembali mengejar Timun Mas.

Timun Mas kembali melemparkan isi dari kantong kedua yang berupa jarum. Seketika, tumbuhlah pohon bambu yang tinggi dan tajam. Pohon bambu itu melukai kaki raksasa sampai terluka. Meskipun begitu, tetap saja raksasa itu bisa mengejarnya.

Timun Mas tidak merasa putus asa. Ia berlari sambil melempar kantong ketiga yang berisi garam. Garam itu kemudian berubah menjadi air yang banyak. Dengan cepat, air itu menggenangi daratan dan tubuh raksasa. Sang raksasa masih saja bisa menyebrangi lautan itu dengan mudah.

Kemudian, Timun Mas melemparkan kantong terakhir yang berisi terasi. Terbentuklah suatu lautan lumpur yang mendidih. Raksasa tercebur ke dalam lautan lumpur mendidih itu dan mati. Sesudah kejadian tersebut, Timun Mas dan Sarni hidup bersama dengan bahagia.

8. Contoh Legenda Jaka Prabangkara dari Jawa Timur

Jaka Prabangkara adalah putra Raja Majapahit Prabu Brawijaya V yang terlahir dari seorang perempuan keturunan rakyat biasa. Sang raja bertemu dengan ibunda Prabangkara saat sedang menyamar sebagai rakyat biasa untuk mengetahui kondisi rakyat di luar istana. Ketika menyamar, sang Raja mengenakan pakaian rakyat seperti pada umumnya. Biasanya, ia ditemani oleh dua orang pembantu setianya yaitu si Semut dan si Gatel.

Setelah lama berkeliling melihat kondisi rakyat, sang Raja merasa lelah dan ingin beristirahat. Kebetulan di dekat sang Raja duduk ada satu rumah milik seorang mantri jagal. Sang Mantri Jagal mempersilahkan kepada sang Raja dan pembantu setianya untuk beristirahat di rumahnya. Tawaran itu diterima dengan senang hati oleh sang Raja.

Sang Mantri Jagal memiliki anak perempuan, seorang janda kembang yang cantik. Sang Raja tertarik dengan anak sang mantri tersebut. Terjadilah hubungan percintaan antara raja Majapahit yang sedang menyamar dan putri sang Mantri Jagal.

Beberapa bulan kemudian, lahirlah seorang bayi lelaki yang sehat dan rupawan, hasil hubungan percintaan mereka. Bayi tersebut diberi nama Raden Jaka Prabangkara. Sayangnya, sang Raja tidak mau mengakui secara terangterangan bahwa Jaka Prabangkara adalah putranya.

9. Contoh Legenda Raja Indra Pitara dari Sulawesi Tenggara

Dahulu kala, di Kerajaan Burinaga, bertahta seorang raja yang memerintah dengan arif dan bijaksana. Rakyatnya dapat bekerja dengan aman dan tenang sehingga kehidupan mereka sejahtera. Sayangnya, kehidupan keluarga sang raja terasa belum lengkap karena belum hadirnya seorang putra yang diharapkan dapat menjadi penerus kerajaan. Berbagai usaha telah dilakukan oleh raja dan permaisuri. Tak terbilang banyaknya orang pintar dari berbagai penjuru kerajaan yang dipanggil ke istana untuk mencari penyebab yang membuat raja belum dikaruniai keturunan.

“Andaikata Yang Kuasa berkenan memberiku seorang anak, aku akan ikhlas sekalipun tidak melihat jasadnya.” Suara itu terdengar perlahan, tetapi di dalamnya tersirat sejuta kegalauan. Terlihat kemasygulan dalam raut wajah sang raja.

“Kanda!” Permaisuri yang sedang duduk menenun terkejut, seketika ia menghentikan tenunannya.

“Kenapa, Adinda? Saya kira Dinda mengerti perasaan Kanda. Umur kita kian hari semakin bertambah. Kerajaan ini butuh seorang penerus. Saya tidak bisa bayangkan bagaimana nasib kerajaan ini jika nantinya kita sudah tua dan belum punya anak.”

“Perasaan kita sama, Kanda. Kecemasan, kebimbangan Kanda juga Dinda rasakan. Saya yakin semua ada jalan keluarnya. Kita tidak boleh berputus asa dari rahmat-Nya. Kita harus sabar, Kanda. Kita tidak boleh lelah berdoa dan berusaha. Dinda yakin kalau kita terus-menerus meminta kepada-Nya pasti akan diberi keturunan.”

Hari demi hari berlalu. Sebulan sejak percakapan itu, permaisuri pun hamil. Kehamilan permaisuri disambut dengan penuh kebahagiaan. Kebahagiaan tidak saja dirasakan oleh raja dan permaisuri, tetapi juga oleh seluruh rakyat Kerajaan Burinaga. Permaisuri mendapat perlakuan yang sangat istimewa baik dari raja maupun dari orang-orang yang ada di sekelilingnya. Semasa kehamilan tersebut, perhatian dan kasih sayang raja hanya tertuju kepada permaisuri. Apa pun yang ingin dimakan oleh permaisuri segera disiapkan.

10. Contoh Legenda Pertarungan Sultan Maulana Hasanuddin dan Prabu Pucuk Umun dari Banten

Dihikayatkan pada zaman dahulu kala, hiduplah seorang sultan bernama Sultan Maulana Hasanuddin. Ia adalah sultan pertama di Banten yang sangat berpengaruh dalam penyebaran agama Islam di Banten. Beliau mendapat gelar Pangeran Sabakingking atau Seda Kinkin, dari kakeknya, yaitu Prabu Surasowan, yang pada masa itu menjabat sebagai bupati di Banten.

Sultan Maulana Hasanuddin sendiri adalah putera kedua dari Syaikh Syarif Hidayatullah, putra Pangeran Cakrabuana atau yang lebih dikenal dengan Sunan Gunung Djati yang merupakan salah satu dari sembilan wali (wali sanga) dan ibunya yang bernama Nyi Kawunganten (putri dari Prabu Surasowan).

Suatu hari Prabu Surasowan jatuh sakit. Ia menderita penyakit yang sangat parah. Banyak tabib yang didatangkan ke istana untuk mengobati penyakit beliau. Berbagai macam pengobatan dan ramuan dari dedaunan yang didatangkan dari Gunung Karang, Pulosari, Asepan, dan Pinang, tetapi semuanya berakhir sia-sia

”Sudahlah istriku, tidak usah kau cemaskan keadaanku saat ini. Aku pasti sembuh,” ujar Surasowan sambil menggenggam tangan istrinya.

“Bukan begitu Paduka, aku sudah berupaya mendatangkan tabib-tabib ternama dari seluruh Banten untuk mengobatimu. Namun, kau tetap saja terbaring di tempat tidur ini. Maafkan aku, Paduka,” ucap istri Prabu Surasowan.

11. Contoh Legenda Datu Diyang dari Kalimantan Selatan

Nun di sana, tampak rumah sederhana yang dibangun di atas sebuah rakit besar. Bangunan itu terlihat hangat dan bersahaja. Dari balik pintu yang terbuka terlihat susunan rumah yang tertata rapi dan bersih. Angin pun tampak bebas keluar masuk lewat jendela yang terdapat di samping kanan, kiri, depan,dan belakang rumah.

Di depan rumah lanting tampak ada tumpukan kajang yang telah siap digunakan. Ada tanggui, tikar, dan bakul yang tersusun rapi. Barang-barang itu telah siap untuk dipasarkan. Adapun di samping rumah berjejer bibit-bibit tanaman. Ada bibit berupa bakal pohon. Ada yang merupakan tanaman untuk ramuan obat-obatan. Ada pula tanaman yang merupakan bahan untuk bumbu masak.

Seorang perempuan muda asyik memisah akar enceng gondok dari batangnya. Di sampingnya tampak gundukan akar enceng gondok dan gundukan batang enceng gondok. Apabila tampak sekumpulan enceng gondok akan lewat di hadapannya, ia segera berdiri dan mengambil kayu panjang. Diarahkannya kayu panjang ke kumpulan enceng gondok.

Setelah berhasil mendekatkan ke pinggir, dengan segenap kekuatan ditariknya kumpulan enceng gondok tersebut ke hadapannya. Ia tampak senang sekali melihat kumpulan akar enceng gondok yang terlihat hitam mengkilat tertimpa cahaya matahari. Daun hijaunya terlihat hijau segar, tambah lagi dengan bunga ungu enceng gondok yang menyembul di antara rumpun-rumpunnya.

12. Contoh Legenda Atuf Sang Penakluk Matahari dari Maluku

Siapa petarung paling perkasa di seluruh muka Bumi? Orangnya adalah Atuf, lelaki Sifnana yang datang dari Pulau Babar menjadi pahlawan bagi orang Tanimbar. Dia mengalahkan lawannya dalam satu-satunya pertarungan paling dramatis. Lawannya bukanlah sembarang lawan. Bukan juara dunia tinju, juara gulat, atau juara pencak silat. Atuf bertarung melawan Matahari dan dia tampil sebagai pemenang.

Tokoh Atuf yang legendaris ini hidup dalam memori masyarakat Maluku Tenggara, khususnya masyarakat yang mendiami Pulau Babar, Selaru, Yamdena, Kei Besar, dan sebagian Nusa Tenggara Timur. Pulau-pulau yang terpisah oleh lautan itu menjadi terhubung karena adanya kesamaan cerita tentang Atuf.

Atuf hidup pada zaman purbakala, ketika jarak langit dan bumi sangat dekat. Saking dekatnya, orang di puncak gunung tinggi seakan sanggup menggapai langit dengan lambaian tangan. Pada masa itu, di langit hanya ada Matahari. Bila malam tiba, langit sangat hitam kelam karena belum ada bulan dan bintang-bintang.

Bola Matahari berukuran sangat besar dibandingkan dengan Matahari yang ada saat ini. Jarak Matahari dengan bumi pun sangat dekat. Matahari terbit dan terbenam secara tidak teratur. Matahari berlaku seperti makhluk bernyawa sehingga sanggup mengatur pergerakan sendiri dengan seenaknya.

Terkadang pada pagi hari, Matahari mengintip saja dari ufuk timur dan tidak menuju ke barat. Akibatnya, orang tidak merasakan adanya senja. Pada hari yang lain, Matahari terbit kemudian berjalan hingga ke atas kepala. Tetapi, setelah itu, kembali lagi ke ufuk timur

13. Contoh La Tadamparek Puang Rimaggalatung dari Sulawesi Selatan

Palakka adalah salah satu kerajaan yang cukup makmur, yang diperintah oleh Raja (Arung) Palakka. Seorang pemimpin yang sangat dicintai oleh rakyatnya. Beliau memerintah dengan adil dan bijaksana. Tidak heran jikalau ia selalu disanjung dan dipuja oleh rakyat Palakka. Namun, di balik kesuksesannya menjadi arung, ada hal yang ia gelisahkan. Di usianya yang sudah tua, ia belum memiliki calon pewaris takhta Kerajaan Palakka. Anaknya We Tenri Lawi yang telah dinikahkan dengan La Tompiwanua, seorang keturunan dari Kerajaan Cinnotabi, belum dianugerahi seorang anak.

Setiap hari Arung Palakka tanpa bosan-bosannya memohon kepada dewata agar kelak sebelum ia meninggal, ia memperoleh cucu dari garis keturunannya sendiri. Rakyat Palakka pun turut merasakan kegelisahan Arung. Mereka dengan rela dan ikhlas berdoa semoga di istana lahir seorang anak pewaris Kerajaan Palakka.

Setelah menunggu selama bertahun-tahun, akhirnya dewata mengabulkan doa arung dan rakyat Palakka. We Tenri Lawi mengandung setelah bertahun-tahun ia menginginkannya. Kabar kehamilan ini menjadi angin segar bagi seluruh rakyat. Mereka berpesta sebagai tanda syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas terkabulkannya doa-doa yang selama ini mereka panjatkan.

Arung Palakka tak kalah senang mengetahui putrinya telah mengandung. Beliau merasa bahwa usahanya untuk terus berdoa kepada pemilik alam ini tidaklah sia-sia. Setiap usaha yang diiringi dengan berdoa suatu saat akan terkabul. Sebagai bentuk rasa syukurnya, Arung Palakka berjanji akan mendidik cucunya menjadi seseorang yang cerdas, jujur, bijaksana, dan adil.

14. Contoh Legenda Kain Tenun dan Putra Mahkota dari Jawa Barat

Senja hampir tiba, matahari hampir sampai di ufuk barat. Kerbau dan sapi di sawah yang kering sudah mendekati dusun di bumi Priangan. Anak-anak gembala bermain riang di tengah sawah yang luas terhampar. Uak kerbau dan lenguh sapi yang berkeliaran ke sana ke mari menggambarkan ketenteraman dan kedamaian desa itu. Dari atap tiap-tiap rumah kelihatan asap mengepul ke udara bagai asap rokok seorang raksasa, tanda penduduk sedang mempersiapkan makan malam.

Di atas pematang tampak seorang gadis bersama tujuh orang bibinya. Ketujuh bibi gadis kecil itu masih remaja juga. Peria Pokak nama gadis itu. Tawa dan canda mereka menggambarkan kebahagiaan gadis-gadis remaja.

Usia Peria Pokak belum genap enam belas tahun, perawakan badannya tinggi semampai. Penampilan Peria Pokak sangatlah sederhana. Peria Pokak adalah anak seorang janda miskin. Ia tinggal bersama ibunya di pinggir desa itu. Kehidupan mereka sangat sederhana. Ibunya hanya seorang pekerja ladang sewaan.

Pada suatu hari Peria Pokak disuruh menemani bibi-bibinya ke sumur Lamben. Sebetulnya bukan itu maksud sebenarnya. Ketujuh bibi Peria Pokak ingin melihat pria pujaan mereka. Pria pujaan itu adalah Putra Mahkota kerajaan. Letak sumur itu tidak jauh dari tempat Putra Mahkota bermain. Mereka sengaja mandi dan bermain-main di sumur Lamben agar dapat dilihat Putra Mahkota.

15. Contoh Legenda Pendekar Sejati Bukit Matahari dari Sumatra Utara

Fajar baru saja tiba. Matahari mulai menampakkan dirinya di kaki cakrawala. Semburat sinarnya yang kuning keemasan mulai menerangi seluruh alam. Bari, bocah berusia sepuluh tahun itu mulai menuruni tangga Omo Hada miliknya. Omo Hada adalah rumah adat khas suku Nias yang terdapat di Desa Bawomataluo.

Pagi ini, ia berniat menjumpai Ina yang tengah sibuk menumbuk padi di dalam lisung batu. Ia sudah tak sabar ingin memulai hari-hari barunya di Tano Niha, sebutan suku Nias untuk menyebut kampung halaman mereka, Tanah Nias. Ia yakin hari ini adalah waktu yang tepat baginya untuk menyapa dunia barunya ini. Sejak kedatangannya sebulan yang lalu, ia sama sekali belum pernah ke luar rumah walaupun hanya sekadar bercengkrama dengan keluarga barunya.

“Bari! Mau ke mana kau? Siapa yang suruh kau ke luar rumah?” teriak Ina yang langsung meletakkan alu, alat untuk menumbuk padi di dalam suatu wadah yang biasanya disebut lisung batu. Ia bergegas menarik Bari kembali ke dalam Omo Hada mereka.

“Tapiii Inaa…”

Bari pasrah. Ina tetap membawanya kembali ke dalam Omo Hada. Tak peduli ia terus mengerang kesakitan karena cengkeraman tangan Ina yang begitu kuat terhadap lengannya. Sejurus kemudian, Ina langsung mendudukkan Bari di atas kursi kayu. Dorongan tangan Ina yang begitu kuat membuat tubuh Bari terhempas begitu saja di atas kursi kayu itu.

16. Contoh Legenda Penunggu Sungai Kapuas dari Kalimantan Tengah

Laki-laki berbadan besar dan tinggi itu tidak lagi muda. Usia lakilaki itu sudah tujuh puluh tahun. Rambutnya sudah mulai memutih, kulitnya sudah tampak kendur. Namun, sisa-sisa ketampanannya masih ada. Ia adalah raja yang sangat disegani oleh rakyatnya

Baginda raja terkenal sebagai seorang raja yang arif dan bijaksana di Kerajaan Kahayan Hilir, Pulau Mintin. Rakyat hidup rukun dan makmur karena keadilan baginda raja. Kejayaan kerajaan itu pun terkenal ke daerah di sekitarnya.

Pagi ini, rinai hujan membasahi Kerajaan Kahayan Hilir. Langit tampak gelap seakan hujan akan turun semakin deras. Suasana ini menimbulkan kepedihan hati Raja Kahayan Hilir. Matanya menerawang jauh. Dipandangilah titik-titik hujan itu. Baginda raja masih belum dapat melupakan kepergian permaisuri yang sangat dikasihinya.“Sanggupkah aku hidup sendiri tanpa didampingi permaisuri?”Kekhawatiran itulah yang membebani pikirannya.

Hujan di luar masih turun dengan deras, angin kencang sesekali terdengar derunya. Dipandangilah titik-titik hujan itu.Tanpa terasa air mata baginda menetes di pipinya. Kenangan demi kenangan bersama permaisuri belum dapat dilupakan. “Siapa yang akan aku ajak berdiskusi tentang masa depan kerajaan ini? Putra-putraku belum dapat diharapkan untuk meneruskan pemerintahan di kerajaan ini?” katanya dalam hati.

17. Contoh Legenda Gong Robek yang Bertuah dari Nusa Tenggara Barat

Kisah ini terjadi pada zaman dahulu kala di Desa Ganti, kawasan Sasak NTB. Di sana terdapat seorang laki-laki yang sudah lanjut usia. Istrinya telah lama meninggal dunia akibat sakit. Laki-laki tua ini tidak beristri lagi. Ia takut istri barunya tidak menyayangi kedua anak laki-lakinya. “Kekejaman ibu tiri masih bertebaran di dunia ini!”, demikian yang menjadi alasannya. Kini ia hidup bersama kedua anaknya yang masih kecil. Anak pertama bernama Saleser Gelap dan adiknya bernama Rambulan Purnama.

Sumber penghidupan keluarga ini hanyalah mencari ikan. Mereka memasang sebuah bubu di sungai pada waktu malam. Esok paginya bubububu diangkat, maka bergeleparanlah makhluk-makhluk air itu menunggu nasib selanjutnya sebagai makanan manusia. Sungai itu mengalir di sebelah kampung mereka, yaitu Dusun Beleka. Bubunya sering dipasang di suatu tempat yang bernama Lubuk Tibu Nangka. Di tempat itulah mereka anggap paling banyak ikan yang terperangkap bubu. Selama mereka melakukan pekerjaan itu, selalu saja ada ikan yang didapat. Bubunya selalu berisi mujair, ikan mas, lele, belut, dan beberapa jenis ikan lainnya.

Ikan-ikan yang terkumpul dijajakan secara bergantian oleh kedua anaknya. Kedua anak itu bergantian berkeliling dari satu kampung ke kampung lainnya. Ikan-ikan diikat dalam satu rangkaian dengan cara menusukkan satu ujung tali kulit pisang ke dalam insang ikan, yang kemudian ditarik keluar melalui mulutnya. Demikian seterusnya, sehingga dalam satu tali bisa terangkai beberapa ikan. Makin panjang tali makin banyak ikan yang terangkai.

“Ikan, ikaaan! Ikan ikaaaan! Bu, ikannya, Bu!” ucap Rambulan Purnama menawarkan.

“Ibu tidak punya uang, mari tukar sama beras?!”jawab seorang ibu. “Tukar beras? Boleh!” jawab Rambulan Purnama.

Penduduk desa itu sudah mengenal betul cara hidup duda tua dengan anak-anaknya yang piatu itu. Dari hasil penjualan atau penukaran ikan itu mereka bisa memperoleh bahan-bahan sembako untuk dimakan tiap hari. Penduduk kampung merasa kasihan kepada mereka yang mencari nafkah dengan cara menanam pukat di lubuk sungai tersebut.

18. Legenda Bukit Perak dari Jambi 

Alkisah di suatu daerah di pedalaman Muarojambi, di salah satu kabupaten di Jambi, hiduplah seorang penghulu desa yang oleh masyarakatnya begitu dihormati. Penduduk akrab memanggilnya dengan sebutan Datuk Sengalo. Di masa kepemimpinan Datuk Sengalo, masyarakat Desa Datuk Sengalo hidup dengan rukun, aman, dan sejahtera. Masyarakat sangat senang dipimpin oleh Datuk Sengalo yang selalu ramah, tidak angkuh, tegas dalam bersikap, dan menunjukkan kepeduliannya kepada masyarakat. Tak jarang pula Datuk Sengalo mengajak warganya untuk selalu tolongmenolong terhadap warga lain yang sedang mengalami kesusahan.

Dalam membangun desanya, Datuk Sengalo juga selalu mengajak masyarakat untuk bergotongroyong. Mereka saling tolong mulai dari membuat jalan kampung, membangun jembatan, membangun rumah warga, bahkan memanen hasil kebun.

Selama Datuk Sengalo memimpin desa, kehidupan warga desa selalu dalam keadaan aman sentosa. Masyarakatnya hidup penuh kerukunan dan kedamaian. Belum pernah ada warga yang bertikai satu dengan yang lain. Mereka semua hidup sudah seperti saudara dan keluarga sendiri. Hidup mereka tenteram dan makmur.

Selain kearifan dan kebijaksanaannya dalam memimpin sebuah desa, Datuk Sengalo juga dikenal dengan kesaktiannya. Oleh masyarakat di sekitarnya, Datuk Sengalo dipercaya sebagai keturunan sanga atau keturunan sembilan dari keluarga manusia setengah dewa pada masa itu. Belum ada yang dapat menandingi kesaktian Datuk Sengalo. Konon kabarnya hanya peluru senapanlah yang dapat menembus kulitnya. Senjata tajam yang lain seperti keris, pedang, dan tombak tak pernah bisa menembus atau bahkan melukai segaris pun kulitnya.

19. Legenda Sabeni Jawara dari Tanah Abang dari DKI Jakarta

Sejak kepergian sang suami, perempuan itu harus mengasuh dan membesarkan dua anak laki-lakinya. Setiap hari dia harus bekerja keras untuk menghidupi kedua anaknya.

Dua anak laki-laki itu, Rojali dan Somad, tergolong dewasa. Namun, mereka belum berpikiran dewasa. Mereka belum menyadari jika ibunya telah tua. Kehidupan mereka pun miskin. Mereka sehari makan dan sehari tidak.

“Rojali dan Somad, anakku,” sapa sang Ibu.

“Iya, Nyak,” jawab Rojali dan Somad serentak.

“Kemari, Nyak ingin bicara.

“Ya, Nyak,” jawab Rojali.

“Duduklah kalian!” kata ibunya melanjutkan pembicaraan.

Rojali dan Somad pun segera duduk.

“Bagaimana, Nyak?” tanya Rojali.

“Ya, Nyak. Apa yang ingin Nyak sampaikan kepada kami?” sahut Somad.

“Begini, Nyak ingin menyampaikan sesuatu. Namun, Nyak khawatir jika yang Nyak sampaikan menjadi beban kalian.”

“Sampaikan saja, Nyak!” pinta Rojali.

Beberapa saat kemudian dengan perlahan ibunya mengungkapkan isi hatinya

“Semakin hari usia Nyak semakin tua. Tidak kuat lagi Nyak mencari makan buat sehari-hari. Nyak mengharapkan kalian dapat menggantikan Nyak mencari nafkah.”

20. Legenda Roro Jonggrang dari Jawa Tengah

Pada zaman dahulu, terdapat sebuah kerajaan besar, yaitu Kerajaan Prambanan. Kerajaan itu dipimpin oleh seorang Raja bernama Prabu Baka. Di sisi lain kerajaan, terdapat sebuah kerajaan besar yaitu Kerajaan Pengging. Kerajaan ini memiliki seorang kesatria bernama Bondowoso.

Bondowoso mempunyai senjata khusus yang ia beri nama Bandung. Oleh karena itu, ia lebih dikenal dengan nama Bandung Bondowoso. Bandung Bondowoso juga mempunyai bala tentara jin yang sering dipakainya untuk membantu dalam berperang dan memperluas wilayah kekuasaan.

Suatu ketika, raja Kerajaan Pengging yang angkuh meminta Bandung Bondowoso untuk melakukan penyerangan terhadap Kerajaan Prambanan. Bandung Bondowoso meminta bantuan para jin untuk merebut Kerajaan Prambanan dalam rangka mensukseskan rencananya tersebut.

Bandung Bondowoso diminta untuk menguras harta benda Kerajaan Prambanan dan menghabiskan keluarga Prabu Baka saat pertempuran. Namun, kala itu, ia melihat seorang wanita yang sangat cantik bernama Roro Jonggrang. Bandung Bondowoso pun jatuh cinta padanya. Ternyata, Roro Jonggrang adalah anak dari Raja Prabu Baka.

Bandung Bondowoso meminta Roro Jonggang untuk menjadi permaisurinya. Roro Jonggrang merasa bingung karena ia membenci Bandung Bondowoso yang sudah membunuh ayahnya. Tetapi, untuk menolaknya ia juga merasa takut. Roro Jonggrang pada akhirnya mempunyai sebuah ide.

Idenya adalah meminta Bandung Bondowoso untuk membuatkannya candi berjumlah seribu beserta dua buah sumur hanya dalam waktu satu malam saja. Syarat tersebut disetujui oleh Bandung Bondowoso karena ia merasa yakin bisa menyelesaikannya dengan bantuan para jin.

Pada malam harinya, Bondowoso mengumpulkan para jin untuk membantunya membuat candi seperti yang diinginkan oleh Roro Jonggrang. Roro Jonggrang secara diam-diam mengamati yang dilakukan oleh Bandung Bondowoso dan merasa gelisah.

Ia memikirkan cara untuk membuat Bondowoso gagal dalam memenuhi syarat yang diberikannya. Roro Jonggrang pun meminta bantuan para warga untuk membuat keadaan agar seolah-olah hari sudah menjelang fajar. Roro Jonggrang dan para warga pun membakar banyak jerami yang membuat langit terlihat merah.

Suara lesung juga mulai bersaut-sautan. Bau harum bunga-bunga mulai tercium dan ayam jago juga mulai berkokok. Keadaan ini membuat para jin menjadi pergi karena mereka mengira pagi telah tiba. Roro Jonggrang kemudian menemui Bandung Bondowoso, lalu mengatakan bahwa ia sudah gagal memenuhi persyaratannya.

Bandung Bondowoso menjadi sangat marah dan memutuskan untuk mengutuk Roro Jonggrang menjadi sebuah patung yang keseribu. Konon katanya, itulah asal mula terjadinya Candi Prambanan atau bisa disebut juga dengan Candi Roro Jonggrang. Sedangkan Candi Sewu merupakan candi yang ada di sekelilingnya.

Demikianlah contoh legenda panjang yang paling terkendal di Indonesia. Di antara 20 judul di atas, mana yang paling berkesan buatmu?

Editor: Sari
TAG :
Baca Juga
LIPUTAN KHUSUS