Dianggap Sesat, Politikus Golkar Ini Minta Penayangan Film His Only Son Dihentikan

Politikus Golkar Ace Hasan Syadzily meminta penayangan film His Only Son dihentikan. (Foto: Tangkapan Layar YouTube/Cristify)

PARBOABOA, Jakarta - Penayangan film His Only Son di Indonesia menuai polemik. Film ini dinilai kontroversi dan menyimpang dari sejarah Nabi Ibrahim AS yang diyakini umat Islam.

Wakil Ketua Komisi VIII DPR RI, Ace Hasan Syadzily, lantas meminta film yang disutradarai dan ditulis oleh David Helling itu dihentikan  penayangannya dalam platform mana pun di Indonesia.

"Sebaiknya film ini ditarik peredarannya dari bioskop di Indonesia, termasuk juga dari berbagai media penayangan film di Indonesia," kata Ace dalam siaran pers dikutip PARBOABOA, pada Kamis (14/9/2023). 

Menurut Ace, alur cerita film His Only Son sudah melenceng dari ajaran agama Islam. Dalam perspektif iman Islam, kata Ace, Nabi Ibrahim mempunyai dua anak yaitu Nabi Ismail dan Nabi Ishak.

Sementara dalam film His Only Son, Ismail yang adalah putra Nabi Ibrahim dan Siti Hajar tidak diakui.

Ace menegaskan, jika pemahaman seperti yang tergambar dalam tersebut beredar luas, maka sesungguhnya sama saja dengan meniadakan keterkaitan ajaran Islam dengan sejarah Nabi Ibrahim AS.

Ia bisa memahami jika peredaran fim ini hanya untuk kalangan terbatas seperti keyakinan agama tertentu. Tapi jika film ini beredar luas, kata Ace, "maka akan menimbulkan pemahaman sejarah yang menyesatkan menurut keyakinan agama Islam di Indonesia."

Politisi Partai Golkar ini juga mendesak Kementerian Komunikasi dan Informatika untuk turun tangan dalam mengkaji pendistribusian film ini.

Menuai Kritik

Presidium Hubungan Masyarkat Katolik Pengurus Pusat Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PP PMKRI), Anthoni Renaldo Talubun, mengkritisi permintaan Aca untuk menghentikan penayangan film His Only Son di Indonesia.

Anthoni menyebut, agama Kristen, baik Katolik maupun Protestan merupakan agama yang sah di Indonesia. Karena itu, mereka juga berhak mengakses film-film yang terkait dengan keimanan mereka di ruang publik.

Menurut Anthoni, permintaan Aca untuk menghentikan penayangan film His Only Son di Indonesia, justru hendak menunjukkan hegemoni berdasarkan kelompok dominan yang cenderung diskriminatif terhadap kelompok minoritas.

"Memprihatinkan sekali, justru pimpinan Komisi VIII DPR itu tampak mengupayakan hegemoni berdasarkan keyakinan kelompok dominan, dengan melarang keyakinan kelompok minoritas dimanifestasikan di ruang publik," kata Athoni kepada PARBOABOA.

Bagi Anthoni, apa yang disampaikan Aca merupakan wujud hegemoni sektarian yang pada akhirnya keyakinan atau kebenaran versi kelompok dominan yang boleh tampil di ruang publik.

"Inilah wujud hegemoni sektarian dan tidak pantas dilakukan wakil rakyat yang seharusnya berucap dan berperilaku sesuai dengan prinsip kebangsaan," kata Anthony.

Sementara itu, Wakil ketua Departemen Media dan Digitalisasi Program PP Pemuda Katolik, Fransiska Silolongan menyebut permintaan Ace adalah upaya untuk mendominasi ruang publik dengan berdasarkan pada mayoritanisme.

Menurutnya, film His Only Son terinspirasi dari kisah Abraham dalam Alkitab Kristiani, dan sebagai bagian dari bangsa ini, umat Kristiani berhak menikmati tontonan yang selaras dengan keimanannya.

Di sisi lain, penonton sebetulnya bisa memilih tontonan mereka secara pribadi. Sebagai produk komersil, kata dia, memutuskan untuk menonton atau tidak adalah hak perorangan dan sesuatu yang bebas di masyarakat.

Menurut Fransiska, meminta film ini dilarang tayang di Indonesia, hendak menunjukkan arogansi politisi yang merepresentasikan hasrat kelompok dominan agar diistimewakan, dan mendominasi ruang publik. "Inilah tirani mayoritanisme," tegasnya.

Tentang Film His Only Son 

His Only Son adalah film asal Amerika Serikat yang pertama kali dirilis pada tanggal 31 Maret 2023. Di Indonesia, film ini mulai ditayangkan di bioskop sejak tanggal 30 Agustus 203. 

Film ini disutradarai dan ditulis oleh David Helling, dan memiliki durasi sekitar 1 jam 46 menit. Film His Only Son dibintangi oleh Sara Seyed, Nicolas Mouawad, dan Luis Fernandez Gil. 

Inspirasi utama untuk film ini berasal dari kisah dalam Kitab Suci Perjanjian Lama. Pada tahun 2000 SM di Kanaan, Abraham mendapat perintah dari Tuhan untuk mengorbankan putranya yang tunggal, Ishak, di Gunung Moria. 

Dalam perjalanan menuju tempat pengorbanan itu, bersama dengan Ishak dan dua asistennya, Abraham teringat perjuangannya bersama istrinya, Sarah, yang telah lama berharap memiliki seorang anak laki-laki sebagai penerus mereka. 

Sekarang, anak yang telah ia nantikan begitu lama harus ia korbankan. Abraham pun merenung saat melihat putranya yang terbaring di atas meja persembahan. 

Bagaimana Abraham menghadapi ujian berat atas imannya itu?

Menurut Movie Insider, film His Only Son menjalani eksplorasi yang mendalam tentang hubungan manusia dengan Tuhan, dan mengajak penonton untuk merenungkan diri sendiri dan bertanya: Apakah iman Anda masih kokoh ketika Anda diminta untuk mengorbankan segalanya? 

Film ini menggambarkan perjuangan batin Abraham dalam menghadapi perintah ilahi yang sulit, dan menyoroti pertanyaan moral yang dalam tentang iman, pengorbanan, dan kesetiaan.

Dengan sentuhan dramatis yang kuat dan akting yang mengesankan, His Only Son merupakan sebuah karya seni yang memprovokasi pemirsa untuk merenungkan nilai-nilai spiritual dan moral dalam konteks kisah kuno yang memilukan ini.


 

Editor: Andy Tandang
TAG :
Baca Juga
LIPUTAN KHUSUS