Gerindra: Prabowo Dirundung hingga Dimaki saat Gabung Kabinet Jokowi

Potret Sekretaris Jenderal (Sekjen) Partai Gerindra Ahmad Muzani saat Rapat Kerja Daerah Gerindra bersama DPC Provinsi Lampung pada Senin, (30/01/2023). (Foto: Instagram/ahmadmuzani2)

PARBOABOA, Jakarta - Sekjen Partai Gerindra Ahmad Muzani mengungkapkan jika ketua umum partainya Prabowo Subianto mendapatkan perundungan hingga makian karena keputusannya memilih bergabung dengan Kabinet Indonesia Maju Presiden Joko Widodo (Jokowi).

Pasalnya, Prabowo Subianto adalah lawan Jokowi di Pemilihan Umum (Pemilu) 2019. Namun, ia masuk ke dalam kabinet Jokowi sebagai Menteri Pertahanan (Menhan).

Adapun alasan dari tindakan Prabowo itu, jelas Muzani adalah karena perjuangan dalam berpolitik harus mengutamakan kebaikan.

"Inilah yang mambuat Partai Gerindra bertambah kuat di usia 15 tahun, karena orang-orang ikhlas yang berjuang untuk bangsa dan negaranya tidak pernah lelah, tidak pernah memikirkan jasa apa yang akan dia dapatkan setelah berjuang," kata Muzani dalam keterangannya saat menghadiri rangkaian HUT ke-15 Partai Gerindra dan konsolidasi DPD Gerindra Kalimantan Selatan, Kamis (02/02/2023).

Muzani mengklaim Partai Gerindra menjunjung tinggi nilai-nilai persatuan dalam keberagaman yang ada di Indonesia. Oleh karena itu, persatuan dan kesatuan adalah segala-galanya bagi pihaknya.

Lebih lanjut, Muzani kemudian menyinggung soal banyaknya kesalahpahaman atas keputusan Prabowo Subianto saat bergabung ke dalam koalisi pemerintahan Jokowi.

"Meskipun keputusan Pak Prabowo bergabung dengan Pak Jokowi banyak disalahpahami, disalahmengerti, bahkan di-bully, dimaki, tapi kita enggak ada urusan. Karena beliau meyakini keputusan itu untuk kebaikan bangsa dan negara," tuturnya.

Ia mengungkapkan jika pembelahan yang terjadi setelah Pemilu 2019 begitu terasa di masyarakat hingga sampai ke lingkungan keluarga.

Di sisi lain, Prabowo juga merasakan kuatnya situasi pembelah tersebut dan ingin kondisi ini tidak berlarut-larut.

Oleh sebab itulah, Ketua Umum Partai Gerindra, lanjut Muzani, mengesampingkan harga diri dan egonya demi meredam itu semua dengan memutuskan untuk menerima ajakan Jokowi membangun bangsa Indonesia bersama-sama.

"Ada yang kecewa, ada yang sudah berjuang merasa tidak dihormati. Tapi membangun persatuan bangsa ini justru dimulai dari harga diri para pemimpin. Membangun persatuan bangsa ini kalau pemimpin terus memelihara harga dirinya, egonya, semua hal-hal yang bersifat ketersinggungan, maka tidak pernah akan ada persatuan kesatuan. Tidak akan ada pembangunan," jelasnya.

Editor: Maesa
TAG :
Baca Juga
LIPUTAN KHUSUS