Nestapa Petani Garapan di Depok: Tergusur Proyek UIII, Kebun Hilang Tak Dapat Ganti Rugi

Pak Ginting membersihkan lahan garapannya sebelum digusur UIII, Jumat pekan lalu. (Foto: PARBOABOA/Muazam)

PARBOABOA, Jakarta - Ginting harus menelan pil pahit saat kebun garapannya di Cisalak, Sukmajaya, Depok, Jawa Barat rata dengan tanah.

Lahan seluas 900 meter yang digarap Ginting sejak tiga tahun lalu itu, digusur paksa oleh beko dan buldoser untuk Proyek Strategis Nasional (PSN), pembangunan Universitas Islam Internasional Indonesia (UIII).

Menurut Ginting, lahan yang digusur pada Senin (24/7/2023) itu menjadi sumber penghasilan utamanya dan 30 petani lainnya yang turut menggarap lahan tersebut. Total ada 15 hektare lahan yang digarap 31 petani di Cisalak.

“Kita hidup dari sini. Untuk kebutuhan sehari-hari, untuk menyambung hidup,” ujar Ginting kepada Parboaboa.

Ginting juga menanami lahan garapannya itu dengan tanaman serai yang seharusnya ia panen dalam waktu dua bulan ke depan. Biasanya, ia menjual serai ke pasar dengan harga Rp7 ribu per kilogram.

Selain itu, Ginting juga menanam singkong dan pepaya. Untuk singkong, ia jual seharga Rp5 ribu per kilogram di pasar. Jika pembeli ingin membeli darinya lebih murah, sekira Rp3 ribu per kilogram, Ginting mempersilahkan mencabut singkong itu sendiri di kebun.

Ginting juga menanam pohon Jeungjing di lahan garapannya. Pohon ini biasanya ia tanam setelah memanen singkong.

“Saya tanam singkong dulu biar ada uang untuk beli bibit pohon Jeungjing. Cabut singkong, terus beli bibit ini,” ujarnya.

Pohon Jeungjing punya nilai ekonomis besar. Pohon dengan nama latin Paraserianthes falcataria itu mampu menghasilkan kayu berkualitas. Kayu itu dikenal sebagai kayu albasia, yang sering digunakan sebagai bahan bangunan, papan, peti pengemas, pulp, hingga perabot rumah tangga.

Pohon Jeungjing baru bisa panen 4 hingga 5 tahun. Petani garap biasa menyebut Jeungjing sebagai pohon tahunan, karena dapat menghasilkan uang dalam waktu lama.

Petani garap biasa menjual pohon Jeungjing ke pengepul dengan harga bervariasi, tergantung kesepakatan.

“Waktu itu ada yang jual Rp6 juta per 51 pohon, itu terlalu murah sih. Mungkin, itu banting harga kali. Enggak sama harganya, tergantung kesepakatan. Ada yang jual butuh,” ucap Ginting.

Tidak hanya itu, di kebun Ginting yang tergusur masih terdapat puluhan pohon pisang kepok dan tanduk yang siap panen.

Harga pisang itu beragam, pisang tanduk ukuran kecil dan sedang dijual seharga Rp40 hingga Rp50 ribu per tandan, ukuran besar harganya mencapai Rp100 ribu.

Tak Dapat Ganti Rugi dari UIII

Pihak UIII memasang plang setelah menggusur lahan, Senin lalu. (Foto: PARBOABOA/Muazam) 

Banyaknya tanaman yang ditanam Ginting di lahan garapannya itu, ia mengaku tidak mendapat ganti rugi dari pemerintah atau pihak UIII.

Padahal, ia telah menghabiskan waktu, tenaga, dan uang untuk menggarap lahan tidur seperti merapikan lahan yang dulunya semak-belukar itu sebelum menanami komoditi pertanian.

Ginting mengaku tak mudah membersihkan dan menggali lahan semak-belukar. Ia pun harus merogoh kocek membeli pupuk seharga Rp200 ribu per mobil bak.

Ginting sempat mendengar kalau pihak UIII akan mengganti lahan garap itu seharga Rp2,5 juta per bidang. Namun, hingga kebunnya rata dengan tanah ia tak kunjung menerima uang sepeser pun.

Sementara Kuasa Hukum UIII, Mirsad mengatakan, UIII tidak akan memberikan ganti rugi kepada puluhan petani garap tersebut.

Menurutnya, petani garap yang menguasai lahan yang sekarang akan dibangun kampus UIII itu tak memenuhi syarat untuk mendapat ganti rugi.

“Tidak, karena ada yang dulu sudah dapat, ada juga yang masuk 3 tahun lalu, tidak memenuhi syarat 10 tahun,” ujar Mirsad saat dihubungi PARBOABOA.

Namun, Mirsad tak merinci syarat apa saja yang harus dipenuhi penggarap sehingga bisa dapat ganti rugi.

Saat ini ada sekitar 15 hektare lahan garapan yang dikuasai 31 petani. Lahan itu kini telah digusur oleh UIII. Lahan itu akan dibangun gedung fakultas dan pusat olahraga UIII.

Pembangunan UIII telah berlangsung sejak 2019 lalu, prosesnya pun diklaim sudah mencapai 50 persen. Proyek yang menelan anggaran mencapai Rp1,2 triliun ini ditargetkan rampung tahun depan, sebelum masa jabatan Presiden Joko Widodo (Jokowi) selesai.

Masterplan pembangunan UIII dibagi menjadi tiga zona. Zona 1 terdiri dari Gedung Rektorat, Masjid, Perpustakaan, Gedung Fakultas, Infrastruktur Kawasan, Lanskap dan Ruang Terbuka Hijau, Eco Sanctuary Park.

Zona 2 merupakan Kawasan Mahasiswa yang terdiri dari pusat kegiatan kemahasiswaan, toko buku, university mall, sarana olahraga. Kemudian kampus residen untuk guru besar dan dosen, staf, keluarga mahasiswa, dan apartemen mahasiswa dan bangunan MEP atau merehabilitasi bangunan lama.

Sedangkan zona 3 terdiri dari kawasan fakultas dan pusat kajian (pusat kajian, scholar center, pusat pelatihan), Kawasan Peradaban (museum, pertunjukan seni dan budaya Islam dan gedung serbaguna atau convention center).

Editor: Kurniati
TAG :
Baca Juga
LIPUTAN KHUSUS