Pedagang Pernak Pernik Imlek di Glodok Capai Omzet Hingga 50 Juta

Para pedagang memenuhi ruas jalan pecinan  Glodok, Jakarta Barat, untuk menjual pernak pernik aksesories Imlek. Mulai dari pedagang yang berjualan di kios semi permanen, hingga yang menggendong dagangannya. Berdasarkan, pantauan pada Senin (16/01/2023) (Foto: Kompas)

PARBOABOA, Jakarta - Para pedagang memenuhi ruas jalan Pecinan Glodok, Jakarta Barat, untuk menjual pernak pernik aksesories Imlek. Mulai dari pedagang yang berjualan di kios semi permanen, hingga yang menggendong dagangannya. Berdasarkan, pantauan pada Senin (16/01/2023), para pembeli nampak memadati para pedagang incarannya seperti aksesories, baju, perabot, hingga jajanan.

Selain itu, Trotoar di jalanan Pecinan Glodok itu juga didominasi oleh warna merah-pink dengan gambar Shio Kelinci hampir di semua dagangan.

Diketahui, seorang pedagang aksesories Imlek, Yayan mengatakan kehabisan barang dengan gambar Kelinci. Lalu, barang dagangannya seperti lampion, amplop angpao, hiasan dinding, dan gantungan pintu aneka rupa sudah habis terjual.

Yayan menjelaskan, jika dibandingkan dengan Imlek tahun lalu. Kali ini lebih terasa ramai dan menguntungkan baginya. Bahkan peningkatan omzet itu mencapai lebih dari 200 persen dibanding hari-hari biasanya.

"Puncak ramainya dari minggu kemarin sama (akhir pekan) kemarin. Sekarang orang-orang sudah pada pulang kampung. Minggu kemarin itu omzet paling tinggi, sampe Rp15 juta, kalo hari-hari biasa per hari paling Rp3-4 juta. Terasa banget (peningkatan) ini kalau Imlek," ujar Yayan.

Ia mengatakan kehabisan barang dagangan Shio Kelinci karena distributor yang takut menyetok barang terlalu banyak. Karena, mengingat dari pengalaman tahun lalu, masih banyak aksesories yang tak laku hingga Imlek berkahir.

"Ngitungnya kurang nih soalnya agen-agen pada nggak berani nyetok banyak, karena kondisinya kayak begini. Takut kayak tahun lalu, banyak sisa. Eh, tahun ini malah kurang," terangnya.

Sebelumnya yayan mulai berdagang di Pecinan Glodok sejak 2000 silam, Kios yang tak terlalu lebar itu hanya aksesoris Imlek tiga bulan sebelum hari raya. Pada hari-hari biasa, yayan berjualan perabot rumah seperti piring, gelas, panci, dan lainnya.

Saat ini dengan dagangan berkisar Rp5 ribu hingga Rp200 ribu itu, Yayan mendapatkan keuntungan berlipat. Walaupun, ia juga dibayang-bayangin oleh baranga dagangan yang tersisa nanti.

"Tiap tahun kan pada beda beli Shionya (beda) jadi rata (laris semua). Kalau (aksesoris) yang netral ya sama. Kalau nyisa nggak bisa dipakai lagi tahun depan, kecuali kalau yang nggak ada gambar kelincinya," tuturnya.

Namun, nasib berbeda yang dialami oleh pedagang baju bernuasa Imlek, Dian. Wanita berusia hampir 30 tahun ini mangaku sudah berdagang selama 4 tahun. Tapi perayaan tahun ini justru tak seramai yang lalu.

Ia mengatakan walaupun pandemi covid-19 memaksa orang tetap tinggal di rumah, tapi pada tahun lalu ia berhasil mendapatkan omzet Rp50 juta dalam dua pekan jelang Imlek. Sedangkan pada tahun ini setengahnya tak sampai.

Setelah itu, Dia menilai jika dibandingkan dengan hari baisa, jumlah pengunjung di kios meningkat hingga 80 persen.

"Kalau dulu mungkin Rp50 juta selama Imlek, sekarang nggak sampai segitu. Kayaknya juga nggak bakal segitu. Bisanya jam segini itu sampai jam 8 (malam) kita sibuk, biasanya kita nggak bisa duduk, kalau dulu. Tapi sekarang ini bisa santai," jelas Dian sembari menata dagangannya.

Sama halnya dengan Dian, pedagang aksesories bernama Tio menjelaskan jika dibandingkan dengan Imlek tahun lalu, penjualan kali ini turun sekitar 20 persen, dengan kios kecilnya yang berada di dalam gang, selama dua pekan sebelum hari raya ia bisa mendapatkan sekutar Rp10 juta.

Pantauan Parboaboa pada Minggu (15/01/2023) sekitar pukul 17.00 WIB, warga etnis Tionghoa memadati Kawasan Glodok. Mereka tampak sibuk lalu-lalang mencari kebutuhan untuk perayaan Imlek mulai dari pajangan lampion, ampau, hingga hiasan gantung. Selain itu, serba-serbi pakaian berwarna merah tampak menghiasi tiap gerai pedagang yang berjejer di dekat Gapura Chinatown Glodok.

Bukan hanya itu, pedagang kue keranjang juga turut meramaikan suasana pada sore itu meski  jumlahnya tak sebanyak pedagang aksesoris. Salah satu pedagang aksesoris khas Imlek, Adi (35) mengatakan, permintaan aksesoris untuk tahun baru Imlek kali ini meningkat, terutama untuk angpau dan hiasan gantung.

“Menjelang perayaan tahun baru imlek ini, yang beli aksesoris meningkat mbak. Terutama ampau shio kelinci dari harga Rp5 ribu, hiasan gantung ada yang Rp10 ribu dan Rp35 ribu, lampion gantung yang paling mahal Rp300 ribu. Untuk harganya semuanya bervariasi,” kata Adi saat ditemui Parboaboa di Kawasan Glodok, Jakarta Barat, Minggu (15/01/2023).

Adi juga menjelaskan, omset penjualannya per hari mencapai Rp15 juta hingga 30 juta. Adapun sejumlah barang dagangan Adi mulai dari angpao, hiasan gantungan, lampion, baju khas Imlek, lilin, hingga dupa untuk sembahyang.

Sementara itu, salah satu pembeli asal Palembang Riska (45) mengatakan, ia datang jauh-jauh dari Palembang untuk membeli aksesoris Imlek lantaran harga yang masih terjangkau.

“Biasanya datang setahun sekali kesini untuk beli persiapan tahun baru Imlek. Soalnya di sini harganya murah dan lengkap juga,” pungkas Riska saat ditemui Parboaboa di tempat yang sama.

Editor: -
TAG :
Baca Juga
LIPUTAN KHUSUS