Pengaruh Kekayaan Pemilik Terhadap Prestasi Klub Sepak Bola

Roman Abramovich (kiri) dan Sheikh Mansour (kanan) merupakan konglomerat yang memiliki klub raksasa di Liga Inggris

PARBOABOA - Industri sepak bola adalah salah satu kegiatan bisnis yang cukup menarik perhatian banyak orang. Terlihat dari antusias para penggemar yang menikmati tontonan sepak bola, hingga tertarik ingin memiliki sebuah klub.

Tak heran jika para konglomerat mencoba peruntungan dengan berinvestasi di klub-klub besar. Bahkan, beberapa dari mereka rela mengeluarkan banyak uang demi mengakuisisi sebuah klub.

Hal tersebut pun mereka lakukan demi melonjakkan popularitas dan prestasi sebuah klub secara instan.

Yang artinya, dengan kekayaan pemilik, sebuah klub mampu mendatangkan para pemain bintang secara suka-suka.

Meskipun beberapa klub terbukti berhasil berprestasi setelah dimiliki seorang konglomerat, namun hal itu tidak selalu berjalan dengan mulus.

Nyatanya, ada juga klub yang justru tidak mendapatkan prestasi setelah mendatangkan para pemain bintang tersebut.

Itu berarti, sebuah klub yang dimiliki oleh konglomerat bukan jaminan untuk mendapat prestasi.

Bukti nyatanya dapat dilihat dari deretan klub yang berprestasi setelah dimiliki konglomerat, beserta klub yang gagal bersinar meski dimiliki seorang taipan kaya raya. Berikut ulasannya.

Klub yang berhasil meraih prestasi setelah diakuisisi konglomerat

Kekayaan pemilik sebuah klub tampaknya mempengaruhi prestasi yang ditorehkan. Berikut beberapa klub yang dulunya tidak kompeten, namun berhasil menjadi raksasa sepak bola setelah dimiliki seorang taipan.

1. Chelsea

Para pemain Chelsea saat merayakan kemenangan 3-1 atas Southampton di Stadion Stamford Bridge (AP Photo/Kirsty Wigglesworth)

Roman Abramovich merupakan sosok taipan asal Rusia yang datang ke Stamford Bridge pada musim panas 2003. Kala itu, ia mengakuisisi Chelsea dari pemilik sebelumnya, Ken Bates.

Saatitu, Abramovich menggelontorkan dana sebesar 140 juta poundsterling atau sekitar Rp2,6 triliun.

Di tahun pertama kepemilikannya, Abramovich telah menghabiskan lebih dari 150 juta poundsterling untuk mendatangkan pelatih dan sejumlah pemain bintang seperti Hernan Crespo, Adrian Mutu, Juan Sebastian Veron, dan Joe Cole.

Selama 19 tahun Abramovich memiliki Chelsea, ia telah menghabiskan 2 miliar poundsterling atau sekitar Rp36 triliun.

Lihat Juga: Profil dan Biodata Roman Abramovich, Taipan Asal Rusia yang Merubah Nasib Chelsea

Dengan besaran dana yang telah dikeluarkannya, Abramovich berhasil meraih 21 trofi bersama Chelsea.

Hal ini menjadikannya sebagai salah satu konglomerat yang terbukti berhasil meraih prestasi dengan kekayaannya.

2. Manchester City

Gabriel Jesus (kanan), Joao Cancelo (tengah) dan Bernardo Silva ketika merayakan kemenangan comeback City (AFP/Oli Scarff)

Selain menjadi klub terkaya di dunia, kesuksesan Manchester City sejak satu dekade yang lalu tak lepas dari sosok konglomerat asal Abu Dhabi, Sheikh Mansour.

Langkah pertama yang dilakukan Mansour semenjak mengambil alih klub ini adalah menarik pemain tenar dengan harga mahal agar mau bergabung, salah satunya Robinho dari Real Madrid.

Disusul oleh pelatih Roberto Mancini, Manchester City berhasil menoreh trofi Liga Inggris pertama.

Sejak saat itu, performa The Citizen's mulai ditakuti tim lain dan menjadi salah satu tim raksasa di Inggris.

Di bawah kepemilikan Mansour, Man City tercatat telah meraih 28 trofi di berbagai ajang kompetisi.

Lihat Juga: Profil Sheikh Mansour bin Zayed Al Nahyan, Konglomerat Pemilik Klub Manchester City

3. PSG

Momen Lionel Messi dan Kylian Mbappe cetak brace pada laga Paris Saint-Germain kontra Club Brugge pada matchday ke-6 Grup A Liga Champions (Twitter/fotomac)

PSG sukses meraih tujuh gelar juara Liga Prancis sejak dibeli Nasser Al-Khelaifi pada 2011. Dengan harta yang melimpah, ia bisa membeli beberapa pemain bintang dengan begitu muda seperti Zlatan Ibrahimovic, Thiago Silva, Angel Di Maria, Neymar, Kylian Mbappe, dan Lionel Messi.

Bahkan PSG berhasil memecahkan rekor pembelian termahal dunia saat merekrut Neymar pada 2017. Kala itu, Les Parisiens mengeluarkan uang sebesar 222 juta euro (Rp3,4 triliun).

Lihat Juga: Profil Nasser Al-Khelaifi, Konglomerat dari Qatar Pemilik Klub PSG

Gagal berprestasi meski dimiliki konglomerat

Kehadiran seorang taipan dalam sebuah klub sontak memberikan angin segar atau biasa disebut “klub mendadak kaya”. Namun, tak semua berbuah manis, beberapa bahkan berakhir bangkrut.

1. Anzhi Makhachkala

Skuad Anzhi Makhachkala (Forbes)

Pada 2011, klub ini dimiliki secara penuh oleh seorang miliarder asal Rusia bernama Suleyman Kerimov.

Di masa itu, Anzhi Makhachkala dapat bersaing di papan atas Liga Rusia bahkan lolos ke Liga Eropa dalam 2 musim berturut-turut.

Hal ini dipengaruhi karena Anzhi Makhachkala diperkuat oleh pemain-pemain bintang seperti Samuel Eto’o, Lassana Diarra, hingga Willian.

Namun, kesuksesan itu tidak bertahan lama setelah krisis ekonomi melanda klub tersebut di tahun 2013.

2. Malaga

Malaga FC (football-espana)

Di tengah keterpurukan akibat hampir bangkrut di 2009, Malaga terselamatkan atas kehadiran investor asal Qatar, Syeikh Abdullah bin Nasser Al Thani yang membeli klub sekaligus menjadi presiden.

Berbagai bidang mulai dibenahi, mulai dari pelatih, hingga para pemain bintang diboyong Malaga saat itu.

Meski tidak pernah meraih trofi, Malaga bergasil menembus papan atas klasemen dan lolos ke Liga Champion.

Sayangnya, kiprah tersebut tidak berlangsung lama. Pada tahun 2013, Malaga terancam bangkrut karena inflasi dan terpaksa menjual pemain bintangnya.

Saat ini, Malaga berada di Divisi Kedua Liga Spanyol. Itu berarti, kekuatan finansial seorang pemilik memiliki pengaruh besar terhadap prestasi sebuah klub.

3. AS Monaco

Para pemain AS Monaco (EPA-EFE/Ian Langsdon)

Di saat hampir terdegradasi pada musim 2010/2011, AS Monaco ketiban durian runtuh dengan datangnya seorang konglomerat asal Rusia, Dmitry Rybolovlev.

Kala itu Dmitry memberikan suntikan dana yang besar dan membuat Monaco kembali ke Ligue 1 Prancis.

Saat kembali promosi ke Ligue 1 Prancis, Monaco langsung menghabiskan 160 juta euro atau Rp2,7 triliun untuk mendatangkan pemain baru.

James Rodriguez, Joao Moutinho, hingga Radamel Falcao adalah beberapa pemain bintang yang direkrut Monaco saat itu.

Namun, bantuan dana besar dari konglomerat asal Rusia itu tidak berlangsung lama. Pada 2014, Monaco mengalami masalah keuangan yang membuat mereka harus menjual para pemain bintangnya.

Beruntungnya, Monaco masih dapat bertahan di papan atas Ligue 1 hingga saat ini.

4. Portsmouth

Portsmouth saat memenangkan FA Cup 2008 (Getty)

Konglomerat asal UAE, Sulaiman Al Fahim, mengakuisisi Portsmouth dan membuatnya menjadi klub kaya raya.

Saat itu, Harry Redknapp diangkat menjadi pelatih kepala serta merekrut beberapa pemain top seperti Sulley Muntari, Jermain Defoe, hingga Lassana Diarra.

Dengan suntikan dana besar yang diberikan Sulaiman Al Fahim pada musim 2007/08 Portsmouth berhasil menjuarai FA Cup.

Sayangnya, momen kejayaan tersebut hanya berlangsung selama satu musim. Portsmouth dinyatakan bangkrut dan dilarang ikut serta di kompetisi Eropa.

Saat ini, Portsmouth berlaga di Divisi Ketiga Liga Inggris.

5. AC Milan

AC Milan (Twitter/ACMilan)

AC Milan mendapatkan pemilik baru setelah Berlusconi menjual keseluruhan sahamnya kepada konglomerat asal China, Yonghong Li.

Di tahun pertama Yonghong Li menjadi pemilik baru AC Milan, ia langsung menghabiskan 194 juta euro atau sebesar Rp3,3 triliun.

Jumlah uang sebanyak itu dihabiskan Yonghong Li kepada Milan untuk membeli 11 pemain. Mulai dari Hakan Calhanoglu, Andre Silva, hingga Leandro Bonucci.

Sayangnya, prestasi Milan saat itu hanya mampu finis di posisi ke-6 klasemen akhir.

Hal tersebut membuat Milan gagal menembus Liga Champions, sementara gaji pemain bintang yang mahal membuat mereka mengalami defisit.

Hal ini membuat kepemilikan Milan diambil alih oleh Elliot Management yang membayarkan utang Milan.

Kesimpulan

Berdasarkan fakta di atas, dapat disimpulkan bahwa kekayaan pemilik mempengaruhi prestasi sebuah klub, terutama dalam hal mendatangkan pemain bintang.

Selain dibutuhkan modal yang besar dan stabil, sebuah klub tetap akan mengalami kegagalan jika menghambur-hamburkan uang untuk pemain bintang yang tidak berkompeten.

Tidak hanya di Eropa, Liga Super China juga pernah melakukan hal yang serupa dengan mengeluarkan dana yang besar untuk mendatangkan pemain bintang.

Hal ini berlangsung dalam waktu yang sangat lama, sehingga Federasi Sepak Bola China (CFA) memberlakukan aturan ketat terkait gaji pemain dengan batasan.

CFA juga melarang klub menghabiskan lebih dari Rp2,2 triliun untuk dana operasi mereka sepanjang musim, dengan catatan gaji tidak boleh melebihi 60 persen dari jumlah itu.

Tak ketinggalan, Federasi Sepak Bola Eropa (UEFA) juga memberlakukan pembatasan yang hampir serupa, yakni Financial Sustainability and Club Licensing Regulation (FSCLR).

Hanya saja, klub masih dizinkan untuk membelanjakan 90 persen dari pendapatan untuk kepentingan transfer, gaji pemain, dan agen hingga musim 2024.

Namun, angka itu (90%) akan turun secara perlahan hingga mencapai batas yang ditentukan, yakni 70 persen.

Peraturan ini pun berlaku kepada tim yang dimiliki konglomerat diseluruh dunia, termasuk Indonesia.

Editor: -
TAG :
Baca Juga
LIPUTAN KHUSUS