Sehat Finansial Jelang Akhir Tahun Bagi Generasi Sandwich, Cek Indikatornya

Di tengah dinamika keuangan yang semakin kompleks, menjelang akhir tahun menjadi momen penting untuk mengevaluasi kondisi finansial generasi sandwich. (Foto: Istock/Gajus)

PARBOABOA, Jakarta - Bagi generasi sandwich, mengelola keuangan tak sekadar soal diri sendiri, tetapi juga tanggung jawab terhadap anak-anak dan orang tua. 

Fenomena generasi sandwich banyak terjadi di sejumlah negara berkembang, termasuk Indonesia. Hal tersebut biasanya terjadi pada seorang anak dalam suatu keluarga, di mana ia harus menghidupi orang tua, keluarganya sendiri, dan anak-anaknya dalam waktu bersamaan. 

Di Indonesia sendiri, sandwich generation cukup umum ditemui. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), sebanyak 77,82% keluarga ditopang oleh anggota keluarga yang bekerja, dan hanya sekitar 7% yang mampu menghidupi dirinya sendiri lewat uang pensiun atau hasil investasi.

Kemudian, lebih dari 50% lansia tinggal bersama anak, menantu, hingga cucunya dalam satu rumah yang sama.
Hanya sekitar 20% saja lansia yang tinggal bersama pasangannya, dan 9% memilih untuk hidup sendiri karena berbagai faktor.

Sementara, menurut survei Katadata Insight Center pada September 2021, mayoritas generasi sandwich di Indonesia (88,1%) memilih menabung untuk menjaga aset, dan 69,8% sudah berinvestasi di berbagai instrumen seperti logam mulia, reksadana, saham, deposito, dan lainnya.

Data ini menunjukkan bahwa kesadaran generasi sandwich terhadap menabung dan investasi bisa menjadi landasan untuk memeriksa aspek-aspek lain yang berkaitan dengan kesehatan finansial.

Oleh sebab itu, di tengah dinamika keuangan yang semakin kompleks, menjelang akhir tahun menjadi momen penting untuk mengevaluasi kondisi finansialnya. 

Selain itu, generasi sandwich sepertinya perlu memahami beberapa indikator penting untuk meningkatkan kesehatan finansial dalam memulai awal tahun, sebagai berikut:

1. Menjaga Cash Flow Tetap Positif

Menerapkan gaya hidup hemat adalah hal baik, namun jangan sampai menjadi pelit pada diri sendiri dan keluarga. 

Penting untuk memperhatikan asupan gizi harian agar tetap sehat, menghindari penyakit, dan mengurangi biaya pengobatan. 

Lakukan budgeting harian dan analisis bocor halus pada pengeluaran bulanan. Agar cash flow tetap positif, pertimbangkan cara untuk meningkatkan penghasilan melalui peningkatan keterampilan atau karir.

2. Lunasi Hutang Konsumtif dengan Bijak

Selesaikan hutang yang sudah dimulai dan kurangi hutang konsumtif agar tidak menghambat aktivitas finansial lainnya. 

Hindari membayar utang dengan berhutang lebih banyak, karena hal tersebut hanya akan menumpuk hutang.

3. Jaga Efektivitas Dana Darurat

Perencanaan keuangan harus memperhitungkan risiko-risiko seperti perbaikan aset yang rusak atau pemutusan hubungan kerja (PHK). 

Dengan memiliki dana darurat sebesar 3-6 kali pengeluaran bulanan, kita bisa lebih tenang menghadapi situasi darurat tanpa mengganggu tujuan finansial jangka panjang.

4. Tingkatkan Aset Saham dan Investasi

Selain menabung untuk menjaga aset, investasi perlu dilakukan untuk mengembangkan aset, terutama menghadapi inflasi. 

Sebelum berinvestasi, pahami risiko-risiko yang mungkin terjadi dan pilihlah instrumen investasi yang sesuai dengan profil risiko, mulai dari rendah hingga tinggi.

Melalui pemahaman dan penerapan indikator-indikator tersebut, kita dapat meningkatkan kesehatan finansial kita dan meraih keberlanjutan keuangan yang lebih baik di tahun-tahun berikutnya. Selamat mengevaluasi dan merencanakan finansialmu!

Editor: Wenti Ayu
TAG :
Baca Juga
LIPUTAN KHUSUS