Antisipasi Risiko Mudik: Strategi Menghadapi Microsleep dan Dehidrasi

Ilustrasi keadaan saat mudik di Stasiun (Foto: PARBOABOA/Beby Nitani)

PARBOABOA, Jakarta - Mudik, tradisi pulang ke kampung halaman saat hari besar, sering kali diwarnai dengan perjalanan panjang yang melelahkan.

Meskipun diisi dengan kebahagiaan dan harapan bertemu keluarga, banyak pemudik tidak menyadari adanya risiko berbahaya yang mengintai selama perjalanan tersebut.

Terdapat dua situasi berbahaya yang sering dihadapi oleh pemudik, yakni kelelahan ekstrem dan dehidrasi.

Kelelahan bisa membuat pengemudi tiba-tiba tertidur sejenak, istilah ini dikenal dengan ‘microsleep’.

Sedangkan dehidrasi, selain berdampak pada kondisi fisik, juga mempengaruhi kemampuan berpikir, sehingga mengurangi fokus dan kecepatan reaksi pengemudi dalam menghadapi situasi mendesak.

Faktor utama penyebab microsleep dan dehidrasi adalah akbibat kelelahan dan kurang tidur. Kondisi inilah yang dapat menyebabkan kecelakaan saat berkendara, dilihat dari beberapa kasus yang sudah terjadi.

Oleh karena itu, penting untuk mengatur jadwal istirahat yang cukup, asupan mineral yang memadai untuk meminimalisir risiko microsleep dan dehidrasi selama perjalanan mudik.

Meski sering dianggap sepele, kondisi tersebut justru memiliki dampak yang signifikan terhadap keselamatan selama perjalanan panjang mudik.

Microsleep

Dilansir dari laman National Sleep Foundation, microsleep terjadi saat otak dengan cepat berpindah antara tidur dan terjaga, di mana setiap momen tidur berlangsung hanya beberapa detik.

Agar dianggap tidur oleh otak, periode waktunya harus berlangsung minimal satu menit. Bahkan saat terjadi microsleep, sebagian besar otak yang umumnya tidak aktif saat tidur masih berfungsi, termasuk bagian yang bertanggung jawab menjaga kita tetap sadar.

Respons otak terhadap suara selama microsleep juga berbeda dibanding saat terjaga penuh atau dalam tidur yang normal. Hal ini menunjukkan reaksi terhadap suara tetapi dengan pola yang berbeda dari saat dalam keadaan sadar.

Microsleep yang terjadi saat seseorang duduk di sofa menonton film atau sedang di kantor mungkin tidak membahayakan. Namun, situasinya berubah drastis berbahaya ketika terjadi saat mengemudi.

Jadi, jika merencanakan perjalanan mudik menggunakan kendaraan pribadi, penting untuk mewaspadai risiko microsleep.

Kantuk dan kurang tidur merupakan penyebab utama terjadinya microsleep, yang dapat terjadi akibat insomnia, bekerja di shift malam, atau tidak mendapat kualitas tidur yang baik.

Menurut Healthline, microsleep juga bisa terjadi pada individu dengan gangguan tidur seperti:

Apnea tidur obstruktif

Apnea tidur obstruktif adalah gangguan tidur serius ditandai dengan henti napas sementara saat tidur, yang disebabkan oleh penyumbatan parsial atau total di saluran napas atas.

Narkolepsi

Gangguan tidur kronis yang ditandai dengan kantuk diurnal ekstrem dan kemampuan untuk tertidur tiba-tiba tanpa peringatan, dikenal sebagai ‘serangan tidur’.

Gangguan gerakan anggota tubuh secara periodik

Gangguan gerakan anggota tubuh secara periodik merupakan kondisi tidur di mana individu mengalami gerakan anggota tubuh yang tidak terkendali dan berulang selama tidur, terutama pada malam hari.

Gangguan ritme sirkadian

Kondisi ini terjadi ketika terdapat ketidaksesuaian antara jam internal tubuh, yang mengatur siklus tidur-bangun alami, dan lingkungan eksternal atau tuntutan kehidupan sehari-hari.

Dehidrasi

Selain microsleep yang kerap menjadi masalah bagi pemudik, dehidrasi juga merupakan faktor lain yang sering terjadi.

Mengingat aktivitas mudik sering kali bersamaan dengan masa puasa, sangat penting untuk memastikan kecukupan asupan makanan dan minuman.

Untuk itu, memenuhi kebutuhan hidrasi merupakan solusi yang tepat. Hal ini dikarenakan dehidrasi dapat meningkatkan risiko rasa kantuk, yang sangat riskan saat mengendarai kendaraan.

Dilansir dari laman Kementerian Kesehatan (Kemenkes), dehidrasi adalah situasi di mana tubuh mengeluarkan cairan lebih banyak daripada penerimaannya.

Berdasarkan uraian tersebut, jelas bahwa air memegang peran krusial dalam menjaga kesehatan tubuh, menjadikan pemenuhan asupan cairan harian esensial untuk menghindari dehidrasi.

Selain itu, pemudik juga dianjurkan untuk memastikan asupan makanan dan minuman yang cukup sebelum melakukan perjalanan panjang.

Dehidrasi dapat meningkatkan risiko rasa kantuk yang sangat riskan saat mengendarai kendaraan.

Berdasarkan informasi dari Data Indonesian Hydration Working Group (IHWG) FKUI, tubuh membutuhkan asupan air yang cukup mengingat sekitar 70% dari komposisi tubuh terdiri dari air.

Defisit cairan sebesar 2% saja dapat berdampak pada penurunan kemampuan konsentrasi, fokus, dan memori jangka pendek, serta potensial penurunan fungsi kognitif.

Dalam jangka panjang, kurangnya asupan cairan dapat meningkatkan risiko terjadinya gangguan pada ginjal, seperti batu ginjal dan infeksi saluran kemih.

Editor: Beby Nitani
TAG :
Baca Juga
LIPUTAN KHUSUS