Upaya Kurangi Sampah Makanan Lewat Budidaya Maggot

Maggot dewasa yang siap dipanen untuk dijadikan pakan ikan dan hewan ternak lainnya. (Foto: Parboaboa/Muazam)

PARBOABOA, Jakarta - Sampah sisa makanan di Indonesia sudah sangat mengkhawatirkan. Data Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan di 2022 mencatat, 41,28 persen sampah dari total 20,4 juta ton sampah bersumber dari sisa makanan. Persatuan Bangsa-Bangsa (PBB) bahkan mencatat, keluarga di Indonesia menghasilkan sampah makanan sekitar 74 kilogram per tahun.

Mengurangi sampah dari sisa makanan tersebut, Jakarta Recycle Center (JRC) lantas melakukan budidaya maggot, larva yang berasal dari serangga Black Soldier Flies (BSF) atau sering disebut lalat hitam untuk mengurai sampah sisa makanan tersebut. 

Petugas JRC, Budi Priyanto menjelaskan proses budidaya maggot dalam mengurai sampah. Mulanya, kata dia, lalat hitam (BSF) dikembangbiakkan dengan memberi makan sampah organik. Lalat itu akan bertelur dan dipanen tiga hari sekali.

“Telur lalat itulah yang nantinya menjadi bayi maggot,” ujar Budi kepada Parboaboa.

Bayi maggot itu kemudian disimpan dalam sebuah wadah yang ada tumpukan sampahnya, karena nanti, bayi-bayi maggot ini yang akan memakan sampah tersebut.

Kemudian, dalam waktu 7 hari, bayi maggot itu akan tumbuh besar dan siap dipanen untuk jadi pakan ikan dan hewan ternak lainnya.

Budi menjelaskan, jika tidak dipanen dalam waktu seminggu, maggot akan kembali menjadi lalat hitam.

“Dari lalat akan menjadi maggot, maggot akan menjadi lalat lagi. Jadi, gitu aja sirkulasinya,” cerita Budi.

Ia melanjutkan, maggot mampu menghabiskan 2 sampai 5 kilogram sampah organik per hari. Kegunaan lainnya dari maggot yaitu kotoran maggot yang bisa digunakan sebagai pupuk organik.

Kepala Satuan Pelaksana JRC, Ariyanto mengajak masyarakat membudidayakan maggot di rumah masing-masing, guna mengurangi sampah rumah tangga.

"Kita fokus ke masyarakat. Tim kami biasanya ke warga-warga untuk mengajak budidaya maggot. Tapi, beda-beda ya, ada yang mau, ada yang enggak," ujar Ariyanto.

Apalagi budidaya maggot tidak memerlukan biaya yang mahal, cukup menyiapkan tempat untuk maggot berkembangbiak dan sampah makanan.

Nantinya, pihak JRC akan memberikan bayi maggot kepada warga untuk dibudidaya.

"Ini gak perlu biaya banyak. Itu lebih mudah lho, kita sosialisasi terus ke warga," jelas Ariyanto.

Ia menambahkan, jika warga mampu membudidayakan maggot, tentunya akan sangat membantu dinas lingkungan hidup DKI Jakarta mengelola sampah.

Sehingga, sampah-sampah makanan tidak perlu dikirim ke Tempat Pembuangan Sampah Terpadu (TPST) Bantar Gebang.

Berikut cara membudidayakan maggot dan beberapa hal yang perlu disiapkan:

1. Siapkan kandang lalat BSF. Kandang harus tertutup dengan kawat dan pastikan tetap terkena sinar matahari. Semprotkan kandang dengan air untuk menjaga kelembaban

2. Siapkan kardus, kayu, atau papan yang memiliki celah untuk tempat lalat BSF betina bertelur

3. Taruh telur maggot di atas dedak yang dibasahi. Telur akan menetas dalam 3 hingga 4 hari

4. Siapkan rak untuk tempat maggot tumbuh dan mereduksi sampah organik.

5. Terakhir, jangan lupa beri makan sampah organik!

Editor: Kurnia Ismain
TAG :
Baca Juga
LIPUTAN KHUSUS