Bakal Kalahkan AI, Ilmuan Kembangkan Teknologi Bernama OI

Ilustrasi Artificial Intelligence, Foto: Pinterest/Code Geek

PARBOABOA - Para peneliti tengah mengembangkan teknologi baru berbasis otak manusia yang disebut Organoid Intelligence (OI). Teknologi ini diklaim lebih canggih dari Artificial Intelligence (AI) alias kecerdasan buatan.

Ilmuwan mengungkapkan rencana revolusioner untuk mengembangkan industri teknologi masa depan. Salah satu caranya adalah dengan mengembangkan teknologi Organoid Intelligence (OI) alias kecerdasan buatan yang berbasis dari otak manusia.

Seperti diketahui, teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) kini sedang naik daun. Apalagi sejak kehadiran ChatGPT buatan OpenAI, teknologi ini makin jadi perbincangan hangat dan menarik perhatian.

Dalam chatbot ChatGPT bikinan OpenAI, misalnya, AI dipakai untuk menerima pertanyaan pengguna dan mencari jawaban akan pertanyaan tersebut dengan bahasa yang mudah dipahami manusia.

Lalu di berbagai smartphone masa kini, teknologi AI juga disematkan ke dalam fitur kamera untuk membuat hasil foto semakin bagus dan cantik.

Teknologi AI diramalkan bakal terus dikembangkan dan digunakan dalam beberapa tahun ke depan. Namun nantinya, masa depan AI mungkin akan terancam, dan mungkin akan menjadi kuno pasca kehadiran teknologi baru yang bernama Organoid Intelligence (OI).

Jurnal berjudul "Organoid Intelligence: The New Frontier in Biocomputing and Intelligence-in-a-Dish" ini menjelaskan bahwa OI sederhananya merupakan teknologi AI yang dipadukan dengan kemampuan komputasi yang berasal dari otak manusia.

Secara teknis, OI akan ditopang dengan sel-sel otak manusia (brain organoids), yang diambil dari sampel. Kemudian diperbanyak untuk berbagai kepentingan penelitian.

"Sel-sel otak ini memungkinkan kami melakukan beragam riset tentang fungsi otak manusia. Sebab, para ilmuwan bisa memanipulasi sel-sel otak tersebut untuk menggali potensi dari kemampuan otak secara keseluruhan," ujar ilmuwan Universitas Johns Hopkins, Thomas Hartung, seperti dikutip dari EurekaAlert, Rabu (8/3/2023).

Hartung melanjutkan, OI yang mengandalkan sel-sel otak ini nantinya bakal bisa menciptakan sebuah komputer efisien dapat memproses atau bekerja dengan cara berpikir seperti manusia. Komputer seperti ini biasa disebut sebagai biokomputer.

Hartung sebenarnya mengatakan bahwa komputer modern bisa menghitung banyak kalkulasi dan memproses angka lebih banyak dari manusia.

Namun, komputer saat ini tidak memiliki kemampuan otak manusia, seperti kemampuan deduksi, kemampuan berpikir secara logika (logical thinking) hingga secara naluri (intuitive thinking).

Teknologi pintar macam AI, begitu juga OI, dikhawatirkan bisa dipakai untuk hal-hal yang ada di luar nalar manusia, atau bisa dipakai untuk kepentingan yang buruk dan melanggar norma atau etika kehidupan.

Supaya hal itu tak terjadi, para peneliti OI dari Universitas John Hopkins turut menggandeng beberapa peneliti lainnya yang ahli di bidang AI Ethics dan sejenisnya.

Editor: Juni Sinaga
TAG :
Baca Juga
LIPUTAN KHUSUS