Curah Hujan Tinggi Imbas La Nina, BPBD Simalungun Ingatkan Warga Potensi Banjir dan Longsor

Curah hujan yang tinggi di Simalungun dikhawatirkan dapat menyebabkan bencana banjir dan longsor. (Foto: PARBOABOA/Patrick Damanik)

PARBOABOA, Simalungun - Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Simalungun, Sumatra Utara mengingatkan potensi banjir dan tanah longsor, imbas tingginya curah hujan yang mengguyur kawasan tersebut, sepekan terakhir.

Sekretaris BPBD Simalungun, Manaor Silalahi mengatakan, ketika masyarakat Indonesia mengkhawatirkan fenomena El Nino, di Simalungun tengah terjadi fenomena La Nina.

"Terkait kondisi Kabupaten Simalungun dalam seminggu terakhir yang terjadi adalah La Nina atau kebalikan El Nino. Curah hujan sudah mulai agak tinggi dan cuaca cenderung mendung dan berawan," katanya.

Manaor juga mengingatkan kecamatan-kecamatan di Simalungun yang ada di dataran rendah akan rawan mengalami banjir. Sementara dataran tinggi, rawan mengalami longsor.

"Daerah yang rawan banjir seperti Parapat, Serbelawan, Tanah Jawa, Bandar dan Bosar Maligas. Sementara daerah yang rawan longsor seperti, Raya, Sibaganding, Tiga Dolok, Dolok Pardamean, Haranggaol, Silau Kahean," jelasnya.

BPBD Simalungun, lanjut Manaor, akan rutin melakukan patroli dan bersiaga ketika suatu saat bencana alam terjadi.

"Antisipasi yang kita lakukan adalah menyiapkan seluruh satuan dalam mengatasi banjir serta dampak lainnya," jelasnya.

Manaor juga meminta masyarakat di Simalungun selalu berhati-hati untuk mencegah bencana alam agar tidak menimbulkan kerugian dan korban yang besar.

"Kepada masyarakat, kami harap agar selalu berhati-hati jaga keselamatan diri dan keluarga agar tidak terjadi hal yang tidak diinginkan," harapnya.

Sementara itu, salah seorang warga di Kecamatan Bandar, Anggi Putri mengaku, telah melakukan langkah antisipasi seperti membersihkan selokan atau parit kecil di depan rumah mereka. Antisipasi itu dilakukan Anggi dan keluarga, bersama aparat pemerintahan setempat.

"Iya kalau sudah deras hujan biasanya banjir. Tapi beberapa waktu terakhir kami keluarga dan orang-orang di kampung membersihkan selokan atau parit di depan rumah dan pinggir jalan, memastikan tidak ada tumpukan sampah yang berpotensi menciptakan banjir," katanya.

Ia menyebut, jika curah hujan tinggi, kampungnya bisa terendam air hingga lutut orang dewasa, atau sekira 30 centimeter.

"Dulu kalau sudah banjir, mau tingginya sampai lutut. Karena itu ada beberapa rumah pekarangannya ditinggikan mengantisipasi banjir," ungkap Anggi.

Warga lainnya yang tinggal di kawasan pegunungan Panatapan Sibaganding, boru Sinaga mengaku khawatir jika curah hujan tinggi mengguyur wilayahnya. Pasalnya warung dan rumahnya berada tepat di bawah tebing.

"Kalau sudah hujan, selalu was-was kami. Soalnya depan kami ini tebing. Beberapa kejadian kalau sudah longsor memang menghantam badan jalan menuju Parapat atau sebaliknya. Khawatir kalau sampai menghantam warung tempat kami berjualan," katanya kepada PARBOABOA.

"Kami kalau sudah parah hujannya biasanya memilih untuk menutup warung dan pergi ke Parapat agar tidak terkena longsor," imbuh boru Sinaga.

Editor: Kurniati
TAG :
Baca Juga
LIPUTAN KHUSUS