Ibu Korban Saat Di Temui Di Polsek Binjai Barat (dok. Tribune Medan)

Diduga Meninggal Dunia Di Aniaya Teman, Ibu Siswa SD Di Binjai Tuntut Keadilan

Madika | Daerah | 10-06-2022

PARBOABOA, Binjai- Akibat dianiaya teman sekolahnya, MIA (11) bocah SD di Binjai meninggal dunia. Korban merupakan salah seorang siswa SD Negeri 023971 di Jalan Umar Baki, Kecamatan Binjai Barat.

Sembari menggendong anak keduanya, SAC (37) ibu korban tak sanggup menahan tangis menceritakan kronologi meninggalnya sang putra pertama di Polsek Binjai, Kamis (9/6/2022). 

Ibu korban mengungkapkan, peristiwa berawal pada Sabtu (21/5/2022), di mana saat pulang sekolah korban mengeluh sakit, lemas, dan mengalami muntah mencret.

"Saya kira anakku sakit biasa atau masuk angin. Saya berikan obat dan kasih makanan bubur.” Ujarnya kepada awak media.

Namun, setelah menjalani perawatan selama dua hari di rumah, korban tak kunjung sembuh. Kondisi tubuhnya semakin lemas dan terus-menerus muntah sehingga nafsu makannya berkurang.

"Sampai dua hari gak nafsu makan, hanya mengeluh sakit.” Ujarnya.

Korban juga menolak setiap kali diajak berobat oleh orang tuanya. Ia selalu beralasan baik-baik saja padahal untuk disuap makanan sudah sangat tidak berdaya.

Korban akhirnya meninggal dunia di pangkuan sang ibu pada Selasa (24/05/2022). Namun, kedua orang tua korban menyadari adanya kejanggalan dari jasad sang putra.

“Saya melihat kupingnya membiru, bibirnya pucat sepucat-pucatnya, badannya memerah." Ujar ibu korban.

Ia mengungkapkan, 10 hari setelah pemakaman korban, datang salah satu teman sekolahnya mengadukan semua kejadian sebenarnya.

Dari cerita temannya, korban diduga dianiaya teman-teman sekelasnya yang merasa tidak terima korban mencatat nama mereka dan diserahkan kepada guru akibat ribut di kelas, pada (21/05/2022).

"Saat saya mendatangi sekolah, semua diduga pelaku mengakui perbuatannya. Bahkan pengakuan itu diucapkan di hadapan guru mereka.” Ujar ibu korban.

Namun sayangnya, pihak sekolah bersikap buruk kepada keluarga korban. Pihak sekolah menolak mengeluarkan penganiaya korban dari sekolah. Bahkan menantang ibu korban untuk  memperpanjang masalah bila memaksa.

"Saya sempat datang ke sekolah dan bertemu dengan pihak sekolah untuk mempertanyakan masalah ini. Namun mereka menantang, menyuruh saya membawa masalah ini ke Dinas dan pihak kepolisian.” Ujarnya.

Padahal, ia hanya ingin menuntut keadilan atas kematian anaknya dan tidak berniat membawa masalah tersebut ke jalur hukum, namun pihak sekolah menolak permintaan itu.

Kasus penganiayaan yang dialami MIA ini kemudian viral. Sejumlah pihak terkait datang dan meminta keterangan permasalahan itu, termasuk pihak keluarga terduga pelaku dan pihak sekolahan yang sebelumnya menantang.

Para keluarga terduga penganiayaan memohon maaf kepada keluarga korban dan mengakui kesalahan dari anak-anaknya. Mereka juga bermaksud untuk melakukan damai, namun ditolak oleh ibu korban karena merasa kecewa dengan tanggapan pihak sekolah sebelumnya.

Orang tua korban saat ini memutuskan untuk membuat laporan terkait penganiayaan yang dialami anaknya di Polsek Binjai. Mereka juga sudah dimintai keterangan oleh pihak kepolisian.

Di lain sisi, Kepala SD Negeri 023971, Afrida Hutagalung mengungkapkan, tidak pernah mendengar kabar ada murid yang bertengkar hingga berujung penganiayaan. Bahkan guru-guru juga tidak ada yang mengetahui mengenai permasalahan tersebut.

Masalah tersebut diketahui pihak sekolah setelah ibu korban datang ke sekolah dan mengatakan anaknya dianiaya sejumlah murid. Ia juga menjelaskan bahwa setelah bertanya kepada para terduga pelaku, para pelaku hanya sebatas memukul pundak korban.

"Saya bilang sama ibu korban, kalau masalah kematian itu saya tidak tahu, karena belum ada pemeriksaan yang pasti. Bahkan saya katakan kalau anak-anak itu baik juga sama korban, hanya saja namanya anak-anak, pasti ada pertengkaran.” Ujarnya.

Bahkan Afrida mengungkapkan, sejumlah guru mengetahui kondisi korban dalam keadaan sakit dan sering tertidur saat mengikuti mata pelajaran.

"Kalau mata pelajaran olahraga, korban tidak pernah dipaksakan harus ikut, karena gurunya tau kondisi kesehatan korban yang sedang sakit." Pungkasnya mengakhiri.

Tag : #tuntut keadilan    #penganiayaan siswa    #daerah    #binjai    #berita sumut   

Baca Juga