Invasi Rusia ke Ukraina Genap Seminggu, 2 Ribu Warga Sipil Ukraina Meninggal Dunia

Serangan jatuh di Kharkiv (dok AFP/Sergey Bobok)

PARBOABOA, Ukraina - Perang sengit antara Ukraina dan Rusia sudah genap seminggu. Ditengah gempuran pasukan dan rudal pasukan Presiden Vladimir Putin, masyarakat Ukraina terus berjuang bersama pasukan militer untuk mempertahankan wilayah mereka.

Namun memang korban nyawa tidak dapat terelakkan saat pecang pecah. Dalam sebuah laporan terbaru, pemerintah Ukraina mengklaim jika sudah ada 2 ribu warga sipil yang menjadi korban.

"Lebih dari 2.000 warga Ukraina tewas, tak termasuk pasukan kami," demikian pernyataan Layanan Darurat Ukraina yang dikutip CNN.

Banyaknya korban warga sipil ini diklaim karena Rusia tidak pandang tempat saat menjatuhkan serangan. Sejumlah tempat seperti perumahan penduduk, rumah sakit, taman kanak-kanak ikut menjadi target gempuran pasukan Rusia.  

Padahal sebelumnya Rusia sempat mengeluarkan pernyataan, jika mereka hanya akan menargetkan instalasi militer Ukraina tanpa menyerang wilayah pemukiman.

Dalam tujuh hari perang, Ukraina telah mendapat serangan di seluruh wilayah. Bahkan Kota Lviv yang merupakan wilayah paling barat Ukraina yang sempat dinilai paling aman, juga tak luput dari serangan.

Sejauh ini perang paling sengit terjadi di Ibu Kota Kiev, namun sejauh ini kota tersebut masih dalam kekuasaan pemerintah setempat. Hal yang sama juga terjadi di Kota Kharkiv. Sejumlah rudah jatuh dan memporak-porandakan kota tersebut, namun pasukan Rusia belum berhasil mengambil alih.

Dalam sebuah pernyataan Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky menuduh Rusia berupaya 'menghapus' Ukraina, dari negara dunia dan dari sejarah. Namun Volodymyr dengan optimis menyatakan jika Rusia tidak akan berhasil melakukan hal tersebut.

"Mereka tidak tahu apa-apa tentang ibu kota kita. Tentang sejarah kita. Tapi mereka memiliki perintah untuk menghapus sejarah kita. Hapus negara kita. Hapus kita semua," kata Zelensky, Rabu (2/3).

Sejauh ini belum ada informasi mengenai kapan perundingan kedua negara akan kembali dilakukan. Pasalnya perundingan pertama yang berlangsung di Belarus pada Senin (28/2) lalu, gagal menghasilkan kesepakatan gencatan senjata.

Editor: -
TAG :
Baca Juga
LIPUTAN KHUSUS