Jalan Sempit hingga Proyek Betonisasi TB Simatupang Perparah Kemacetan di Ciracas Jaktim

Ruas jalan di depan Panti Sosial Tresna Werdha Budi merupakan salah satu titik kemacetan di daerah Ciracas, Jakarta Timur, terutama pagi dan sore hari. (Foto: PARBOABOA/Faisal Bachri)

PARBOABOA, Jakarta - Kemacetan selalu menghantui kawasan-kawasan perbatasan di DKI Jakarta dan sekitarnya.

Seperti yang terjadi di Jalan Pengantin Ali dan Jalan Raya Bogor, Kecamatan Ciracas, Jakarta Timur.

Di dua jalan ini, kemacetan selalu terjadi, terutama di jam berangkat dan pulang kerja.

Menurut salah seorang Guru SMKN 68 Jakarta, Risti Sere, banyaknya gang memperparah kemacetan di Ciracas dan sekitarnya.

"Jalannya sempit. Kalo ada mobil, kanan dan kiri susah nyelip," ungkap warga Cibubur ini kepada PARBOABOA.

Risti mengaku tidak mengandalkan kendaraan umum untuk berangkat mengajar ke sekolah.

"Ada Jak Lingko. Cuma kalo pagi macet. Jadi mending naik motor, bisa nyalip-nyalip," imbuhnya.

Sementara itu, Kepala Satuan Pelaksana Perhubungan di Kecamatan Ciracas, Jaktim, Agus Herawan menjelaskan kemacetan di wilayahnya disebabkan oleh tingginya volume kendaraan di jam-jam tertentu.

Kemudian ada pengerjaan proyek betonisasi di TB Simatupang yang turut memperparah kemacetan.

"Volume kendaraan cukup tinggi sekali karena berasal dari Jawa Barat. Sehingga volumenya cukup tinggi dan masyarakat dari arah Depok, Jonggol melalui Cibubur keluar melalui lampu merah Cibubur. Maka volume kendaraan cukup padat," katanya ditemui PARBOABOA di pos pantau lalu lintas jalan layang Pasar Rebo, Selasa (10/10/2023).

Sementara di Jalan Pengantin Ali, lanjut Agus, disebabkan banyaknya anak sekolah yang berangkat di jam yang sama.

Disinggung terkait proyek betonisasi di Jalan TB Simatupang, Agus menambahkan, saat ini proyek dikerjakan intensif pada malam hari. Hanya saja, harus menunggu proses pengeringan beton selama delapan jam.

"Kalau bisa, saya imbau masyarakat mencari jalan alternatif yang ingin menuju Cipayung menuju flyover Pasar Rebo bisa melalui jalan alternatif lain atau masuk ke Cipayung dalam," jelasnya.

Setiap hari, lanjut Agus, selalu ada penguraian dan rekayasa lalu lintas di Ciracas dan sekitarnya.

Agus bahkan menyebar 11 anggotanya untuk membantu Satlantas Ciracas mengatur lalu lintas di Jalan Pengantin Ali, jalan layang Pasar Rebo dan Jalan TB. Simatupang.

"Kita juga menyiagakan tim respons situasi darurat," imbuhnya.

Respons Pengamat Transportasi

Sementara itu, Peneliti Senior dari Masyarakat Ilmu Transportasi Indonesia (MTI), Revy Petragradia menilai, kemacetan erat kaitannya dengan tingginya volume kendaraan.  

Revy mengatakan, total pergerakan manusia di Jabodetabek mencapai 30 juta orang per hari.

“Dengan jumlah kendaraan besar dan tidak ada peningkatan jumlah kapasitas besar jalan, maka kinerja jalan jadi lebih rendah. Sebagai contoh, beberapa ruas di Jakarta hampir kemacetan secara literatur jam sibuk, pagi. Tapi kalau di Jakarta, hampir seluruh jam terjadi kemacetan,” ucapnya melalui pesan singkat pada Selasa (10/10/2023)

Tidak hanya itu, perbaikan juga dapat menyebabkan berkurang kapasitas jalan karena mempersempit ruang manuver kendaraan.

“Sehingga memang kenapa, kalau ingin pemeliharaan perlu ada rekayasa lalu lintas. Sehingga kemacetan bisa diantisipasi,” ungkap Revy.

Sebelumnya, pengamat tata kota dari Universitas Trisakti, Yayat Supriyatna juga mengamini penyebab utama kemacetan adalah tingginya volume kendaraan.

Yayat menambahkan, kemacetan bisa diperbaiki dengan meningkatkan kualitas kendaraan umum dan koneksinya, terutama di jam-jam sibuk.

Editor: Kurniati
TAG :
Baca Juga
LIPUTAN KHUSUS