Invasi Rusia Hari Ke-8, Jerman Kirim Bantuan 2.700 Rudal Bantu Ukraina

Serangan rudal di Kota Kharkiv (dok Ukraina/Reuters)

PARBOABOA, Ukraina - Invasi Rusia ke Ukraina sudah memasuki hari kedelapan, gempuran senjata masih menjadi santapan pembuka hari bagi masyarakat setempat.

Rudal-rudal mematikan milik pasukan Presiden Vladimir Putin berjatuhan di setiap kota di Ukraina tanpa terprediksi, hingga menyebabkan korban jiwa, baik dari pasukan militer maupun masyarakat sipil Ukraina, termasuk anak-anak dan wanita.

Beberapa wilayah perbatasan sudah berhasil dikuasai pasukan Moskow, namun untuk Ibu Kota Ukraina, Kiev, hingga hari kedelapan ini masih berada di tangan kekuasaan pemerintah setempat. Sama halnya dengan Kharkiv yang merupakan kota terbesar kedua di Ukraina, belum jatuh ke kekuasaan lawan.

Sulitnya Rusia menguasai kota-kota besar di Ukraina ini terjadi karena masyarakat setempat ikut angkat senjata, melakukan perlawanan. Bahkan pemerintah Ukraina mengklaim, Rusia telah mengganti taktik dengan membombardir pemukiman warga sipil, gedung-gedung pemerintahan menggunakan rudal, sebelum menaklukkan kota.

Hal ini diperkuat dengan tudingan yang dikeluarkan oleh Duta Besar Amerika Serikat untuk PBB Linda Thomas-Greenfield yang menyatakan, Rusia telah meningkatkan invasi, dengan menggunakan senjata mematikan yang dilarang dalam perang, seperti bom vakum.

"Persenjataan itu termasuk munisi tandan dan bom vakum, yang dilarang di bawah Konvensi Jenewa. Kami telah melihat konvoi senjata mematikan sepanjang 40 mil menuju Kiev," kata Linda Thomas, dikutip dari CNN, Kamis (3/3).

Ditengah panasnya perang pecahan negara Uni Soviet ini, Jerman telah mengeluarkan pernyataan akan mengirimkan bantuan berupa 2.700 rudal anti pesawat ke Ukraina.

Bantuan ini akan menjadi yang kedua kalinya dari Jerman, setelah sebelumnya Jerman mengirimkan 1.000 rudal anti-tank dan 500 rudal anti pesawat untuk memperkuat pertahanan Ukraina.

Namun ditengah semua pertempuran melelahkan antara kedua negara ini, perundingan untuk gencatan senjata masih buntu. Padahal penghentian perang menjadi solusi terbaik agar kedua negara terhindar dari kerugian yang semakin besar.   

Editor: -
TAG :
Baca Juga
LIPUTAN KHUSUS