Mencicipi Kopi Apek, Kedai Legendaris Khas Medan dengan Cita Rasa Klasik

Kedai Kopi Apek terletak di Jalan Hindu Nomor 37, Kota Medan, Sumatra Utara. (Foto: PARBOABOA/Susanna Hutapea)

PARBOABOA, Medan - Matahari pagi tadi masih belum terlalu untuk tinggi untuk saya beraktivitas di akhir pekan.

Pagi itu, saya memulai aktivitas dengan senam pagi di taman kota yang ada di Kota Medan.

Seusai senam, saya pun berkeliling kota menggunakan sepeda motor untuk mencari sarapan.

Sembari mencari sarapan dengan menelusuri kota, langkah saya terhenti di Jalan Kesawan.

Pandangan saya tak lepas dari sebuah bangunan tua, yang lokasinya tepat di persimpangan jalan.

Ya, bangunan tua itu adalah sebuah kedai kopi yang paling legendaris se Kota Medan, Kopi Apek.

Di sana sudah terlihat antrian manusia yang hendak mengisi dahaga mereka dengan kopi untuk menambah semangat dan memulai hari di akhir pekan.

"Seenak apa sih, sampai orang rela antri pagi-pagi hanya untuk ngopi yang sebenarnya dimana saja bisa dilakukan, bahkan di rumah sendiri?" tuturnya.

Namun, situasi tersebut membuat saya pun menjadi penasaran untuk mencicipinya. Apalagi, ini pertama kalinya saya singgah ke kedai kopi tersebut, selama hidup dan tinggal di Kota Medan.

Kedai Kopi Apek menggunakan tungku kayu bakar untuk memanggang roti. (Foto: PARBOABOA/Susanna Hutapea) 

Tak menunggu lama, saya pun memutar sepeda motor dan bergegas parkir, kemudian ikut mengantri. Saya kemudian memesan meja untuk saya sendiri.

"Kak, untuk satu orang ada?" tanyaku.

"Belum ada kak. Sabar ya kak," katanya sambil tersenyum.

"Oke kak," balasku lagi dengan senyum.

Tak lama, ada seorang pengunjung yang duduk sendiri di sudut jendela memanggil saya.

"Kalo satu orang masih bisa gabung di sini bu," ujarnya.

"Oh iya pak? Tidak apa-apa?," tanya saya sembari ragu.

"Ya tidak apa-apa lah bu," sahutnya.

Saya pun langsung masuk dengan senang, sambil permisi pada 3 orang yang lebih dulu mengantri, karena memang mencari tempat untuk tiga orang.

Ketika memasuki kedai, aroma kopi dan roti bakar langsung melekat di indra penciuman saya.

Dari pandangan saya, kedai kopi yang sudah berdiri sejak 1919 ini tergolong sederhana jika dibandingkan dengan kedai kopi lainnya yang berlomba membuat konsep dengan mode kekinian.

Lantai semen, dekorasi serta kursi kayu yang lawas masih mendominasi ruangan di dalam kedai.

Bangunan yang digunakan juga merupakan bangunan tua dan bukan selera generasi muda.

Tidak ada pendingin ruangan, hanya ada kipas angin tua untuk mendinginkan ruangan. Meja untuk pengunjung pun tak banyak. Hanya sekitar 10 buah, dengan posisi berdekatan.

Dari sudut tempat saya duduk, saya bisa melihat seisi ruangan di kedai yang juga menjadi ikon pariwisata di Kota Medan ini.

Selain melihat seisi ruangan, saya juga bisa melihat pemandangan Jalan Pasar Hindu dari dalam kedai kopi.

Pengunjung yang datang ke Kedai Kopi Apek pun beragam dan berbagai usia.

"Ramai ya pak. Sampai antri padahal masih pagi," ujarku.

"Iya, ini memang jam ramainya. Nanti sepinya di jam 11 atau 12 siang," sahutnya.

"Bapak sudah sering ke sini? Saya baru pertama kali ini pak," timpalku lagi.

"Saya tugasnya dekat sini, jadi memang tergolong sering ke sini," ujarnya lagi.

"Melihat ramainya sampai antri, menunya sepertinya enak ya pak?" tanyaku.

"Sebenarnya kalau kopi sama saja, cuman temanku dulu pernah bilang di sini banyak pengusaha yang duduk ngopi sambil berbincang tentang bisnis mereka," ujarnya lagi.

Menu di Kedai Kopi Apek. (Foto: PARBOABOA/Susanna Hutapea) 

Kedai Kopi Apek yang terletak di Jalan Hindu Nomor 37 ini dikelola oleh generasi ketiga, yakni Ibu Suyenti.

Operasional kedai sejak pukul 06.00 WIB hingga jam 12.00 WIB.

Selain kopi susu, menu andalan di kedai ini ada roti bakar atau roti kukus srikaya mentega.

Bahkan untuk selai srikaya yang mereka gunakan merupakan racikan sendiri menggunakan resep turun temurun.

Saya pun memesan teh tarik dingin dan roti bakar selai srikaya. Saat dihidangkan, selai srikayanya masih hangat dan terasa nikmat saat disantap.

"Memang cocok jika ini menjadi menu andalan di kedai ini," pikirku.

Selain rasa, yang menarik dari Kedai Kopi Apek yaitu cara mereka memanggang roti yang masih menggunakan tungku kayu bakar.

Sehingga ketika roti bakar yang kupesan menjadi dingin pun masih terasa khas, gurih dan enak untuk dinikmati.

Harga menu yang ada di Kedai Kopi Apek pun bervariasi. Mulai Rp20 ribu hingga Rp50 ribuan.

Harga tersebut, masih pas di kantong masyarakat di Kota Medan dan sekitarnya.

Harapan saya, kedai kopi tradisional seperti Kopi Apek bisa terus dipertahankan keberadaannya.

Editor: Kurniati
TAG :
Baca Juga
LIPUTAN KHUSUS