Kekhawatiran Jelang Pertemuan Kim Jong-un dan Vladimir Putin

Pertemuan Kim Kong-un dan Vladimir Putin pada beberapa tahun lalu. (Foto: X/@SegunMichealAl1)

PARBOABOA, Jakarta - Pemimpin Korea Utara (Korut), Kim Jong-un, dijadwalkan akan bertemu dengan Presiden Rusia, Vladimir Putin, pada September 2023 ini.

Pertemuan ini dianggap penting karena melibatkan dua negara pemilik senjata nuklir, dan diperkirakan akan membahas potensi perjanjian terkait senjata.
 
Namun, hingga saat ini, lokasi pasti pertemuan ini masih belum dikonfirmasi.

Menurut laporan dari New York Times, Kim diperkirakan akan melakukan perjalanan ke Vladivostok, sebuah kota di Pantai Pasifik Rusia, menggunakan kereta lapis baja. 

Sebelumnya, Menteri Pertahanan Rusia, Sergei Shoigu, telah mengunjungi Korut pada bulan Juli 2023 dengan tujuan meyakinkan Pyongyang untuk menjual amunisi artileri mereka kepada Rusia. 

Dalam kunjungannya tersebut, terlihat senjata termasuk rudal balistik antarbenua Hwasong, yang diyakini sebagai rudal berbahan bakar padat pertama yang dikembangkan oleh Korut.

Selain itu, BBC News juga melaporkan bahwa tim pendahulu dari Korut, yang terdiri atas pejabat dan petugas keamanan, telah melakukan perjalanan ke Vladivostok dan Moskow pada akhir bulan lalu. 

Hal ini jelas menambah spekulasi tentang pertemuan antara Kim dan Putin bulan ini. Namun, sampai saat ini, belum ada keterangan resmi dari kedua pihak terkait pertemuan ini.

Selama ini, baik Pyongyang maupun Moskow selalu membantah adanya laporan bahwa Korut memasok senjata ke Rusia yang kemudian digunakan dalam konflik di Ukraina. 

Sebagai informasi , Kim Jong-un dan Vladimir Putin terakhir kali bertemu pada April 2019 silam. Saat itu, Kim melakukan perjalanan ke Vladivostok menggunakan kereta api. 

Pertemuan tersebut berlangsung beberapa bulan setelah pertemuan puncak antara Kim dan Presiden AS saat itu, Donald Trump, di Vietnam yang tidak berhasil mencapai kemajuan dalam hal denuklirisasi semenanjung Korea.

Reaksi Amerika Serikat (AS) dan Kekhawatiran Korea Selatan

Juru bicara Dewan Keamanan Nasional AS, John Kirby, telah mengecam keras perundingan senjata yang melibatkan Korea Utara (Korut) dan Rusia. 

AS menegaskan bahwa Korut harus menghormati komitmen publik mereka yang menyatakan bahwa mereka tidak akan menyediakan atau menjual senjata kepada Rusia. 

Bahkan, Kirby juga memberi peringatan tegas bahwa AS akan mengambil tindakan, termasuk penerapan sanksi, jika Korut benar-benar melanggar komitmen tersebut dengan memasok senjata ke Rusia.

Sementara itu, rencana pertemuan antara Kim Jong Un dan Vladimir Putin juga memunculkan kekhawatiran di Korea Selatan (Korsel). 

Pemerintah Seoul mengkhawatirkan potensi dampak dari kesepakatan yang mungkin terjadi antara Korut dan Rusia. 

Salah satu keprihatinan utama adalah kemungkinan Rusia memberikan pasokan senjata yang sangat diperlukan oleh Pyongyang di masa depan.

Selain itu, ada spekulasi bahwa Kim Jong Un mungkin akan mencoba mendapatkan dukungan teknologi atau pengetahuan tentang senjata canggih dari Rusia, yang bisa membantu Korut dalam pengembangan program senjata nuklir mereka.

Namun, beberapa pengamat menduga bahwa jika kesepakatan ini terwujud, maka lebih mungkin bersifat transaksional daripada strategis.

Untuk diketahui, Rusia saat ini memiliki kebutuhan mendesak akan sumber daya finansial dan bantuan makanan, sementara Korut berjuang menghadapi masalah kelaparan yang serius. 

Keadaan tersebut menambah kompleksitas situasi dan membuat reaksi internasional terhadap perkembangan ini semakin sulit diprediksi.

Editor: Umaya khusniah
TAG :
Baca Juga
LIPUTAN KHUSUS