Situasi tenda pengungsian warga, yang menjadi korban akibat kebakaran di Jalan Kebayoran Lama, Kebon Jeruk, Jakarta Barat. (Foto: Parboaboa/Maharani)

Ketika Kebakaran di Kebayoran Lama Hanya Menyisakan Sepasang Pakaian di Tubuh

Maharani | Metropolitan | 31-10-2022

PARBOABOA, Jakarta – Sebanyak 6 rumah, 13 kontrakan dan 40 lapak dagangan warga di Jalan Kebayoran Lama, Sukabumi Selatan, Kebon Jeruk, Jakarta Barat hangus terbakar pada Minggu (30/10/2022) siang.

Siang itu memang menjadi hari terburuk bagi Riyadi (28) di kala dirinya pergi bekerja. Satu-satunya rumah yang ia miliki bersama keluarga, kini telah menjadi abu sisa bakaran.

Tak ada yang bisa diperbuatnya atas kejadian itu. Seluruh harta benda telah hangus, hanya tersisa baju yang ia kenakan.

“Pakaian kerja saya aja (tersisa), dari kerja masuk pagi langsung tinggalin kerjaan langsung kemari nyari ibu saya,” ucap Riyadi kepada Parboaboa, Senin (31/10/2022).

Riyadi tak kuasa menahan air matanya ketika menceritakan duka yang ia rasakan setelah rumahnya rata dengan tanah.

Saat berada di kantornya yang terletak di kawasan Rawa Belong, Jakarta Barat, pria berumur 28 tahun itu mendapat telepon dari sang ibu.

Dengan nada panik, sang ibu mengatakan bahwa rumah yang mereka tempati telah dilahap lautan api.

Mendengar kabar tersebut, Riyadi tak pikir panjang dan bergegas pulang. Namun, ia tak bisa berbuat apa-apa, sebab api sudah membesar dan menghanguskan rumah yang ia tinggali bersama keluarganya.

“Kata ibu saya itu korsleting listrik, terus mau disiram-siram tapi ga mati-mati, makin lama makin gede, mungkin karena angin juga. Anginnya juga kencang banget,” terang Riyadi.

Bangunan yang rapat serta kebanyakan bermaterial kayu yang mudah terbakar menjadi penyebab api sulit dikendalikan hingga meluluhlantakkan tempat tinggalnya.

Berbeda dengan Riyadi, Naomi Ria masih sempat mengamankan beberapa surat-surat dan barang-barang yang menurutnya penting.

Menurut Ria, yang berada dirumah saat terjadinya kebakaran tersebut, api bermula dari salah satu kontrakan. Sebelumnya dia mengira, api itu berasal dari pembakaran sampah yang ada di dekat kontrakan tersebut.

“Itu kan awalnya api kecil, dari kontrakan Lasmi. Saya ga tau pastinya, katanya korsleting. Itu kan kontrakan petak-petak kayu. Awalnya dikira nabun, orang bakar sampah, tapi ko makin lama makin gede, karena angin kenceng merambatlah kena matrial kayu,” kata Ria.

Karena api tak kunjung padam dan semakin mendekat ke arahnya, Ria bersama sang adik bergegas untuk menyelamatkan beberapa harta benda yang berada di dalam rumah.

“Saya pribadi dan adik saya langsung (mengamankan) motor. Motor dulu di keluarin. Adik saya yang perempuan sudah amanin surat surat tapi posisi kaya gitu lari-lari pasti tercecer,” ujarnya.

Tetapi, Ria dan adiknya tidak dapat membawa semua barang berharganya, termasuk uang tunai dan beberapa perhiasan.

“Saya posisi lari posisi panik, apa yang bisa saya bawa saya masukin tas. Ada 1 box hitam saya simpan di lemari isi ada beberapa uang tunai dan perhiasan punya saya, pasti semua itu hangus terbakar,” ucapnya.

Namun, Ria tidak patah semangat, ia masih berusaha untuk mencoba kembali mengamankan beberapa barang yang ada di dalam rumahnya.

“Ketika saya balik lagi mau selamatkan lagi, ada beberapa barang yang saya ambil, tapi kok saya merasa panas banget. Itu baru hawanya bukan apinya ya. Karena saya merasa semakin panas, yaudah saya pasrah langsung keluar aja,” katanya.

Akibat dari aksi nekat tersebut, tangan kiri Ria mendapat beberapa luka kecil imbas terkena hawa panas dari si jago merah yang menghanguskan rumahnya.

Setelah api padam, Ria kemudian kembali ke lokasi kebakaran dan mengais-ngais reruntuhan rumahnya berharap menemukan sisa-sisa barang berharga miliknya yang tidak sempat diselamatkannya siang itu.

Pencariannya berbuah manis. Ia berhasil menemukan kalung emasnya yang sudah menghitam. Paling tidak, temuan itu bisa membuatnya menghela nafas untuk sesaat.

Karena untuk selanjutnya, ia harus kembali menghadapi kenyataan dan meratapi nasib dengan warga yang juga kehilangan tempat tinggal dalam peristiwa itu.

Hingga saat ini, baik Riyadi, Ria, dan warga terdampak lainnya ditempatkan di tenda pengungsian dengan harap-harap cemas mengenai kehidupan mereka di kemudian hari.

Kepala RW 08 Sukabumi Selatan Abdul Majit mengungkapkan, saat ini para pengungsi membutuhkan bantuan logistik berupa bahan makanan atau nasi kotak.

Selain itu, lanjut Abdul, pengungsi juga membutuhkan beberapa pakaian dalam pria dan wanita, handuk, buku tulis, alat tulis, serta uang tunai.

Hingga kini belum diketahui pasti penyebab dan kerugian yang ditimbulkan akibat kebakaran itu. 

Tim Pusat Laboratorium Forensik (Puslabfor) Polri juga sedang mendalami penyebab kebakaran.

“Kita tunggu hasil Puslabfor yang lebih akurat,” ucap Kepala Kepolisian Sektor (Kapolsek) Kebon Jeruk, Jakarta Barat, Slamet Riyadi saat ditemui di posko pengungsian.

Sementara itu, Pemerintah Kota (Pemkot) Jakarta Barat menyatakan akan memberikan bantuan berupa pangan kepada warga terdampak korban kebakaran di Jalan Raya Kebayoran Lama, Sukabumi Selatan, Kebon Jeruk. Bantuan ini nantinya akan diberikan selama empat hari.

“Kita sudah berikan bantuan makanan 200 boks untuk warga korban kebakaran hari ini selama empat hari,” kata Kepala Suku Dinas Sosial Jakarta Barat Suprapto, Senin (31/10/2022).

Tag : #kebakaran    #kebayoran lama    #metropolitan    #kisah korban kebakaran    #jakarta barat   

Baca Juga