Komisi IV: Pemerintah Harus Tegas Buat Kebijakan HPP Gabah Petani

Presiden Joko Widodo berbincang sejenak dengan para petani sambil mengecek langsung kondisi padi yang dipanen saat itu di Provinsi Jawa Barat, Senin, 6 Maret 2023. (Foto: Dok. BPMI Setpres/Laily Rachev)

PARBOABOA, Jakarta - Komisi IV DPR RI Johan Rosihan meminta ketegasan pemerintah dalam membuat kebijakan mengenai Harga Pembelian Pemerintah (HPP) gabah di tingkat petani.

Sebab, kata Johan, kebijakan HPP gabah itu berpengaruh signifikan untuk meningkatkan pendapatan petani. Namun, ia menilai saat ini kebijakan pemerintah belum memprioritaskan petani dan menjadikan kesejahteraan petani sebagai fokus.

Hal itu terlihat dari kebijakan harga gabah dan beras yang selalu merugikan petani dan dinilai sekadar uji coba yang dimungkinkan dari adanya surat edaran tentang harga batas atas gabah beras. Padahal, beberapa hari kemudian, surat edaran tersebut dinyatakan dicabut atau tidak berlaku.

Untuk itu, Johan meminta Badan Pangan Nasional (Bapanas) segera menghitung ulang dan merevisi dengan cermat agar kebijakan harga yang dikeluarkan pemerintah sesuai dengan harapan petani. 

“Jadi, harus betul-betul dihitung berapa ongkos produksi yang dikeluarkan petani saat ini. Sebab, mulai dari sewa lahan, upah tenaga kerja, harga pupuk, benih dan lain-lain saat ini mengalami kenaikan signifikan akibat naiknya harga BBM dan inflasi yang tinggi. Jadi, kalau harga gabah rendah maka petani pasti menjerit,” kata Johan dalam keterangannya di Jakarta, Jumat (10/03/2023).

Selain itu, Johan juga meminta pemerintah untuk konsisten dalam menetapkan HPP Gabah sesuai dengan target capaian Nilai Tukar Petani (NTP) yang dituangkan dalam kerangka ekonomi makro, sebagaimana sudah disampaikan pada masa pengajuan APBN 2024 oleh pemerintah. 

“Artinya bahwa kesejahteraan petani adalah indikator pembangunan pertanian. Maka, sudah semestinya kebijakan harga termasuk HPP Gabah menjadikan peningkatan pendapatan petani sebagai dasar penetapannya,” tuturnya.

Di sisi lain, Johan mengingatkan dan mendesak agar Perum Bulog bisa memaksimalkan penyerapan gabah petani terutama pada masa panen raya pertama ini. 

“Evaluasi kita selama ini di DPR bahwa ternyata Bulog tidak bisa menyerap gabah petani sesuai target yang ditetapkan, maka saya berharap Bulog berkomitmen untuk membeli gabah petani sesuai dengan harga pasar (komersial) untuk kesejahteraan petani,” harapnya.

“Bulog harus mengamankan stok CBP (Cadangan Beras Pemerintah) sebanyak 1,2 juta ton yang harus berasal dari serapan dari hasil petani bukan malah dari hasil impor,” tegasnya.

Editor: Maesa
TAG :
Baca Juga
LIPUTAN KHUSUS