Studi: Mayoritas Orang Arab tak Peduli Perang Rusia - Ukraina

Mayoritas orang-orang di Timur Tengah dan Afrika Utara tak peduli akan adanya perang di Ukraina. Arab News

PARBOABOA, Pematangsiantar - Berdasarkan poling eksklusif yang dilakukan Arab News-YouGov, mayoritas orang-orang di Timur Tengah dan Afrika Utara (atau yang biasa disebut MENA) tak peduli akan adanya perang di Ukraina. 

Survei dilakukan kepada 7.835 orang dari 14 negara di wilayah MENA pada 26 April hingga 4 Mei. 

Ketika diberikan pertanyaan, memihak Rusia atau Ukraina, 18 persen responden memilih Ukraina, sementara 16 persen mendukung Rusia. 

Namun demikian, yang lebih mengejutkan adalah 66 persen responden memilih "tak mau tahu" akan adanya krisis di Ukraina --dengan 74 persen di Yordania dan Aljazair, serta 71 persen di Arab Saudi. 

Richard Gowan, direktur kelompok krisis PBB yang berbasis di Brussels, melihat adanya alasan mengapa banyak orang Arab yang tak peduli akan perang yang sedang berkecamuk itu. 

"Kita melihat adanya jurang pemisah yang cukup besar di antara bagaimana orang-orang Amerika dan Eropa melihat konflik ini, serta bagaimana orang-orang di belahan Bumi lain melihatnya," kata Gowan, seperti dilansir Arab News, Selasa (31/5/2022). 

"Salah satu masalah utama yang dilihat oleh warga Arab adalah (perang) antara NATO melawan Rusia. Dan kenyataannya, Anda tidak bisa memalingkan kecurigaan dari NATO dan Amerika Serikat di Timur Tengah dan Afrika Utara dalam waktu dekat."

Meski pertempuran di Ukraina tak ada hubungannya dengan dunia Arab, tetapi dampaknya telah memengaruhi kehidupan jutaan orang Arab. 

Mereka dihadapkan pada semakin meningkatnya harga pangan. Hal itu disampaikan oleh Abeer Etefa, juru bicara senior program pangan dunia PBB di MENA. 

Wanita itu menambahkan, jika pertempuran dihentikan besok, maka dunia membutuhkan waktu enam bulan hingga dua tahun untuk pulih, dari sisi pangan. 

Menurut Etefa, orang Arab banyak yang tak peduli akan perang di Ukraina karena jaraknya yang begitu jauh. "Kelihatannya perang terjadi di tempat yang sangat jauh," katanya. 

Padahal, ibu kota Ukraina, Kyiv, hanya berjarak 3.000 km dari Riyadh, ibu kota Arab Saudi. "Tapi juga politik serta dinamika konflik di Ukraina terlalu rumit bagi banyak orang di wilayah ini," lanjut Etefa. 

Bahkan, menurut Etefa, sebelum pecahnya konflik Rusia-Ukraina, harga pangan di beberapa negara telah mencapai puncak tertingginya. 

"Tahun lalu, harga Sembako minimum yang dibutuhkan sebuah keluarga per bulan meningkat 351 persen di Lebanon, tertinggi di wilayah MENA. Lalu diikuti Suriah (97%), dan Yaman (81%). "Dan sekarang krisis di Ukraina semakin meningkatkan harga-harga," lanjut Etefa. 

Banyak negara-negara MENA yang sangat bergantung kepada makanan dari Rusia dan Ukraina. Namun, gangguan pengiriman serta sanksi-sanksi yang dijatuhkan kepada Rusia semakin menyulitkan pengiriman makanan. 

Rusia dan Ukraina merupakan produsen komoditas pertanian terbesar di dunia. Pada 2021, Rusia, dan Ukraina, atau keduanya, berada di ranking tiga besar dunia sebagai ekaportir gandum, jagung, biji-bijian, dan minyak bunga matahari. 

Para ahli berharap gandum dari India dapat menutupi kekurangan pasokan dari Ukraina. Tetapi, pada pekan lalu, pemerintah India melarang ekspor karena pertanian di negara itu terkena dampak gelombang panas. Hal itu membuat harga makanan menyentuh harga tertingginya. 

Editor: -
TAG :
Baca Juga
LIPUTAN KHUSUS