Memahami Intifada: Sejarah dan Relevansinya dalam Aksi Kemerdekaan Palestina

Ilustrasi aksi demonstrasi kemerdekaan Palestina dengan jargon intifada. ()Foto: PARBOABOA/Fika)

PARBOABOA, Medan – Dalam setiap aksi yang terkait dengan Palestina, seruan intifada selalu terdengar.

Kata yang berarti pemberontakan ini merupakan bagian penting dari sejarah konflik antara Israel dan Palestina.

Sejumlah aksi dilakukan di beberapa negara terkait aksi Israel di Gaza. Di mana ratusan mahasiswa keluar dari kelas dan mendirikan perkemahan dalam rangka memprotes aksi militer Israel di Gaza. 

Beberapa kampus yang melakukan aksi seperti Universitas Columbia, New York University Universitas California di Berkeley dan Universitas Michigan.

Begitu juga dengan mahasiswa dari Emerson College dan Universitas Tuft di Boston, serta Massachusetts Institute of Technology (MIT) di Cambridge.

Akibatnya, penangkapan massal terjadi di beberapa kampus elite di Amerika Serikat (AS) saat demonstrasi berlangsung.

Seperti yang terjadi di Universitas Columbia, ratusan mahasiswa diskors oleh pihak kampus karena terlibat dalam aksi demonstrasi pro-Palestina. Hal ini memicu seruan agar tindakan disipliner yang diterapkan itu dicabut atau dibatalkan.

Selain itu dalam setiap unggahan aksi demonstrasi pro Palestina selalu merujuk pada intifada. Dalam bahasa Arab intifada berarti pemberontakan.

Intifada digunakan dalam kaitannya dengan periode demonstrasi warga Palestina yang intens terhadap Israel. Netizen berkomentar dari beberapa unggahan itu mempertanyakan apakah akan ada intifada baru sebagai dampak dari perang ini. Seruan “Globalisasi Intifada” dan “Intifada Intelektual” selalu dikumandangkan.

Istilah lain telah digunakan, di antaranya adalah “intifada elektronik”, “intifada intelektual” dan ajakan untuk memboikot produk Israel.

Dilansir dari BBC, Sabtu (11/05/2024), dalam sejarahnya, intifada pertama berlangsung pada 1987 hingga 1993. Sedangkan intifada kedua terjadi pada tahun 2000 hingga 2005.

Tercatat, intifada Palestina pertama kali dimulai pada 8 Desember 1987 di Gaza. Ketika sebuah truk pengangkut tank tentara Israel menabrak mobil yang membawa sejumlah warga Palestina. Dalam peristiwa ini empat warga Palestina tewas.

Frustasinya warga Palestina yang hidup di bawah tirani Israel telah meningkat selama 20 tahun sampai pada saat itu.

Pemukiman ilegal Israel di Tepi Barat dan Jalur Gaza semakin meluas. Sedangkan warga Palestina terus mengalami kesulitan ekonomi dan sering menghadapi konfrontasi dengan tentara Israel.

Setelah peristiwa truk itu, pemberontakan terjadi di kamp pengungsi di Jubalia Gaza. Pemuda Palestina terus melawan tentara Israel hanya dengan batu dan bom molotov.

Sementara tentara Israel menembakkan peluru tajam yang menjadi pemicu kritik dari organisasi internasional, termasuk di dalamnya PBB.

Konflik antara kedua belah pihak ini terus berlanjut dengan intensitas yang berbeda. Konflik ini juga terus terjadi sampai tahun 1993.

Dampak dari intifada pertama ini adalah masyarakat dunia semakin memperhatikan penderitaan yang dialami oleh penduduk Palestina. Khususnya pada aksi keras yang dilakukan Israel untuk menekan pemberontakan.

Sementara itu intifada kedua terjadi pada September 2000 sampai Februari 2005. Sejarah mencatat, intifada kedua ini disebut intifada Al-Aqsa. Masjid Al-Aqsa merupakan situs tersuci ketiga dalam agama Islam.

Para pemimpin Palestina menggunakan nama masjid ini sebagai bentuk pemberontakan rakyat, bukan tindakan kekerasa seperti yang dikatakan pihak Israel.

Pada 28 September 2000, Ariel Sharon yang merupakan pemimpin oposisi Israel melakukan kunjungan ke Masjid Al-Aqsa dengan penjagaan ketat dari polisi dan tentara.

Ratusan pengunjuk rasa Palestina melemparkan sepatu dan batu ke arah para pengawal Ariel Sharon. Dalam aksi ini, ada sebuah adegan bocah Palestina berusia 12 tahun ditembak mati di Gaza ketika dia sedang berlindung di balik badan ayahnya.

Gambar yang beredar dari bocah bernama Mohammed al-Dura ini menjadi ingatan abadi dari pemberontakan yang dilakukan warga Palestina untuk kedua kalinya.

Perbedaan antara pemberontakan tahun 1980 dan tahun 2000 adalah skala konfrontasi dan tindakan kekerasan yang terjadi. Intifada kedua dinilai jauh lebih keras dibandingkan yang pertama.

Sejak dimulainya intifada kedua pada bulan September 2000 sampai akhir tahun 2007 PBB mengeluarkan pernyataan ada lebih dari 5.800 orang yang terbunuh.

Editor: Fika
TAG :
Baca Juga
LIPUTAN KHUSUS