Orang Tua di Pematang Siantar Setuju Pendidikan seks Masuk Kurikulum Pendidikan Sekolah

Poster kampanye stop pelecehan seksual yang dipasang di Kantor Dinas pendidikan Pematang Siantar, Sumatra Utara. (Foto: PARBOABOA/Juli sitompul)

PARBOABOA, Pematang Siantar - Sejumlah orang tua siswa di Kota Pematang Siantar, Sumatra Utara setuju, jika pendidikan seks masuk dalam kurikulum pendidikan anak didik.

Beberapa dari orang tua siswa ini menilai, informasi soal pendidikan seks penting dalam membantu anak-anak memahami tubuh, keselamatan, etika, hubungan yang sehat, pencegahan pelecehan dan pengambilan keputusan bijak tentang seks.

"Meski terkadang saya merasa bingung tentang bagaimana cara tepat untuk menyampaikan dan mengajarkan pendidikan seksual kepada anak saya," ungkap Rita Sinambela (31), orang tua salah seorang siswa SMP di Yayasan Perguruan HKBP Pematang Siantar, kepada PARBOABOA.

Rita menegaskan komitmen mendidik anak-anaknya dengan mengingatkan pentingnya larangan menyentuh atau melakukan kekerasan seksual terhadap lawan jenis.

Sementara itu, seorang guru SD di Pematang Siantar, Ririn (22), menilai, meski penting, pendidikan seks sebenarnya sudah tercakup dalam kurikulum biologi.

Menurutnya, tantangan utama yang dihadapi saat ini adalah persepsi masyarakat yang menganggap pendidikan seks sebagai hal yang tabu dan berbau pornografi.

“Saya merasa bahwa guru harus merasa nyaman membahas topik seksual dengan siswa," kata Ririn.

Ia mengakui, ada bahan ajar untuk pendidikan seks di sekolah.

"Bahan ajar tersebut berupa patung yang digunakan untuk mendukung pendidikan seksual di sekolah," ungkap Ririn.

Sementara itu, Kepala Bidang PAUD dan Pendidikan Dasar di Dinas Pendidikan Pematang Siantar, Simon Trimanto Tarigan, mengakui belum ada kurikulum khusus tentang  pendidikan seks di kota itu. Tidak hanya itu, pemerintah pusat pun belum mengakomodasi pendidikan seksual dalam kurikulum pendidikan nasional.

"Intinya, kurangnya pendidikan seksual pada anak-anak di Indonesia disebabkan oleh ketiadaan kurikulum yang disediakan oleh pemerintah pusat terkait hal ini," katanya.

Meski begitu, Simon optimistis dengan program "Belajar Merdeka" yang diusung oleh Kementerian Pendidikan sebagai cara untuk membentuk karakter siswa dan potensi inklusi pendidikan seksual dalam program tersebut.

“Saya berharap agar semua pihak, termasuk orang tua dan guru, dapat bekerja sama dalam memberikan perlindungan pada anak-anak melalui pendekatan yang lebih baik dalam memberikan pemahaman tentang seksualitas sesuai dengan perkembangan anak-anak," tambahnya.

Sorotan Pengamat Pendidikan

Pentingnya pendidikan seks di sekolah juga diamini pengamat pendidikan, Ari S. Widodo Poespodihardjo.

Menurutnya, manfaat pendidikan seksual, yaitu mencegah penyebaran penyakit tertentu seperti pelecehan dan perilaku menyimpang di mata masyarakat.

Ari juga menilai, pendidikan seksual sebenarnya sudah ada dalam berbagai format sejak lama. Namun masalahnya, kata dia, soal persepsi yang selama ini salah terkait pendidikan seks.

“Saya menyarankan agar sekolah mencari model pembelajaran yang sesuai dengan kondisi lokal, sesuaikan materi dengan ilmu pengetahuan dan kondisi sosial yang ada, serta sampaikan materi dengan berdasarkan ilmu pengetahuan seperti ilmu kesehatan dan psikologi," tutupnya.

Editor: Kurniati
TAG :
Baca Juga
LIPUTAN KHUSUS