Prajurit Ukraina lari mencari perlindungan di tengah serangan udraa Rusia di pusat Kota Kharkiv, Minggu (17/4). AP

Lebih Baik Mati daripada Menyerah, Pejuang Ukraina Bertahan di Tengah Gempuran Rusia

Dion | Internasional | 18-04-2022

PARBOABOA, Pematangsiantar - Pejuang Ukraina mengabaikan ultimatum Rusia untuk "menyerah atau mati" meski mereka terdesak di sebuah pabrik baja raksasa yang merupakan kantung perlawanan terakhir di Kota Mariupol. 

Dilansir Associated Press, Senin (18/4/2022), Mariupol merupakan kota pelabuhan kunci dan dalam tujuh pekan terakhir digempur habis-habisan oleh Tentara Merah. 

Para pejuang Ukraina mati-matian mempertahankan pelabuhan yang sangat penting ini agar tak jatuh ke tangan Rusia. 

Jika Moskow berhasil menguasai kota yang telah porak-poranda itu, maka pasukannya dapat dengan bebas mengendalikan pusat-pusat perindustrian Ukraina di wilayah timur sekaligus kemenangan bagi Rusia. 

Menguasai Mariupol juga membuat Rusia dengan mudahnya mengamankan koridor darat menuju Semenanjung Crimea, yang direbut dari Ukraina pada 2014. Bagi Ukraina, direbutnya Semenanjung Crimea merupakan kerugian besar di bidang industri. 

Menurut perhitungan Rusia, ada 2.500 tentara Ukraina dan sekitar 400 tentara bayaran asing yang bersembunyi di bawah tanah di pabrik baja Azovstal seluas 11 kilometer persegi yang dipenuhi terowongan. 

Dari laporan kepolisian Mariupol kepada stasiun televisi lokal, banyak warga sipil yang juga berlindung di kawasan pabrik tersebut, termasuk anak-anak. 

Moskow telah memberikan tenggat waktu hingga Minggu siang kepada para warga dan pejuang Ukraina untuk menyerah, namun ditolak mentah-mentah. Mereka sudah muak dengan peringatan sebelumnya. 

"Kami akan bertempur sampai mati untuk memenangi perang ini," ujar Perdana Menteri Ukraina Denys Shmyhal dalam program This Week, di stasiun televisi ABC. 

Shmyhal menambahkan, Ukraina siap mengakhiri perang melalui diplomasi jika memungkinkan. "Tapi kami tak berniat menyerah," serunya. 

Hingga Minggu, bantuan militer ke Mariupol sepertinya tidak akan datang dalam waktu dekat. 

Menteri Luar Negeri Dmytro Kuleba kepada CBS mengatakan, sisa-sisa warga sipil dan pejuang Ukraina di Mariupol telah terkepung dan "terus berjuang". Akan tetapi kota itu tak lain telah berubah menjadi reruntuhan semata. 

Jika Mariupol jatuh, pasukan Rusia sudah pasti akan melakukan serangan gabungan habis-habisan untuk mengendalikan Donbas, wilayah industri di timur Ukriana. Rusia mengalihkan serangannya ke Donbas karena selalu gagal menjatuhkan ibu kota Kyiv. 

Hujan artileri dan pertempuran jalanan yang tanpa henti di Mariupol, menurut perkiraan pihak Ukraina, telah menewaskan sedikitnya 21.000 orang.

Tag : #ukraina    #rusia    #internasional    #mariupol    #moskow    #semenanjung crimea   

Baca Juga