Pendapatan Pedagang UMKM di Medan Menurun Drastis Imbas Begal, Pengamat: Turut Ancam Pertumbuhan Ekonomi Sumut

Pendapatan pedagang UMKM di Kota Medan menurun drastis akibat maraknya aksi begal. (Foto: PARBOABOA/Ilham Pradilla)

PARBOABOA, Medan - Sejumlah pedagang Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) di Kota Medan, Sumatra Utara mengeluhkan pendapatan mereka menurun sejak begal marak di kota itu.

Salah satunya Ani (bukan nama sebenarnya), pedagang lontong malam yang ada di Kota Medan. Ani menyebut, pendapatannya menurun sejak kejahatan begal marak di Kota Medan. Imbasnya, masyarakat takut keluar di malam hari dan membeli dagangannya.

"Sepi kali bang beberapa minggu ini, karena marak begal jadi mereka (pembeli) takut keluar malam," katanya kepada PARBOABOA, Kamis (20/7/2023).

Ani mengeluhkan, pendapatannya yang awalnya cukup untuk kebutuhan sehari-hari, kini hanya cukup untuk balik modal dagangan, bahkan kadang minus karena sepinya pembeli.

"Jauh turunnya pendapatannya bang. Kalau hari biasa itu pendapatan bersih Rp200 hingga Rp600 ribu bang, kalau weekend lebih lah dikit. Kalau sekarang ini jangan tanya lah bang. Pas-pasan, kadang pun minus," ungkapnya.

"Ngomong pahit saja ya bang, kalau sekarang ini paling tinggi itu pendapatannya kita Rp200 ribuan, itupun weekend bang, kalau hari biasa susah bilang lah bang, kadang untung itu cuma Rp50 ribu," tambah Ani.

Ia bahkan mengibaratkan begal seperti saat awal COVID-19, dan membuat warga ketakutan untuk keluar di malam hari. Dampaknya, kata Ani, kepada pedagang UMKM yang berjualan di malam hari sepertinya.

"Begal-begal ini memang ngeri kali dampaknya bang. Sudah seperti COVID-19. Sepi pendapatan," katanya dengan logat khas Batak.

Ia berharap Pemerintah Kota Medan dan aparat keamanan bisa menyelesaikan persoalan ini, sehingga pelaku UMKM bisa tenang berjualan di malam hari dan masyarakat pun tanpa khawatir membeli dagangan mereka.

"Kita mintak la Pak Bobby bisa selesaikan begal ini secepat mungkin. Liatlah kami-kami ini pun kena dampaknya," harapnya.

Hal senada juga disampaikan pedagang kopi jalanan di Kota Medan, Ilham (bukan nama sebenar) yang menyebut maraknya begal di Kota Medan turut mempengaruhi pendapatannya.

"Turun drastis lah bang gara-gara begal ini. Pendapatan kita biasanya Rp100 hingga Rp500 ribu semalam. Semenjak begal, turun parah kita bang. Kadang cuma Rp100 ribu, kadang pas untuk balik modal saja bang," tambahnya sembari berharap Pemerintah Kota Medan segera mengatasi kejahatan begal agar tidak berlarut-larut dan semakin memperburuk ekonomi di kota itu.

Pedagang lainnya yang berjualan paket internet di seputaran Jalan SM Raja, Medan, Andi juga menyebut, maraknya begal juga mempengaruhi pendapatannya. Sejak begal marak, penjualannya jauh di bawah rata-rata.

"Sehari kita cuma jual 5 paket internet, terkadang 10 paket. Sebelum begal ini penjualan paketnya bisa mencapai 15 hingga 50 paket semalam," ungkapnya.

Dengan pendapatan yang pas-pasan tersebut, kata Andi, penjualan hanya dapat menutupi uang sewa tempat dan gaji karyawannya saja.

"Pas-pas bayar sewa tempat sama bayar karyawan bang, kadang pun itu minus. Kita tutupi pakai uang pribadi karena tidak cukup buat gaji mereka," jelasnya.

Andi berharap pemerintah dapat segera mengatasi permasalahan begal agar tidak berlarut-larut karena dapat menurunkan daya beli masyarakat.

"Pemerintah ambil sikap lah bang. Selesaikan akar masalahnya. Kalau narkoba, berantas narkobanya, jangan kita malah sibuk berpolitik. Utamakan kesejahteraan masyarakat," kata sarjana ekonomi itu.

Begal Bisa Pengaruhi Pertumbuhan Ekonomi Medan

Pengamat Ekonomi dari Universitas Islam Sumatra Utara (UISU), Gunawan Binjamin mengatakan, maraknya begal di Kota Medan bukan hanya memperburuk kondisi keamanan di kota itu, tapi juga mempengaruhi pertumbuhan ekonomi khususnya pedagang UMKM yang berjualan di malam hari.

"Maraknya tindakan kriminal belakangan ini tentunya mengganggu aktivitas ekonomi, terutama pelaku UMKM yang banyak beraktifitas di malam hari. Mereka ini yang terkena dampak," katanya kepada PARBOABOA.

Hal itu, lanjut Gunawan, terlihat dari melambatnya pertumbuhan ekonomi yang ada di Sumatra Utara beberapa bulan terakhir.

"Sumut tengah mengalami perlambatan ekonomi, berkisar 3,2 persen hingga 4 persen tahun ini," ungkapnya.

Meski belum pada tahap krisis ekonomi, namun Gunawan mengingatkan kondisi seperti ini terancam memburuk, apalagi potensi fenomena cuaca El Nino yang dapat memperparah pertumbuhan ekonomi di Sumut.

Ia juga berharap pemerintah bisa menyelesaikan permasalahan ini dengan menciptakan rasa aman untuk warga Kota Medan, sehingga dapat meningkatkan pertumbuhan ekonomi di kota itu.

"Aparat Kepolisian bisa memberikan rasa aman dengan melakukan pengawasan ekstra pada masyarakat dan memberantas bentuk kriminalitas sekecil apapun, sehingga pertumbuhan UMKM di Sumut maupun Kota Medan berjalan lancar," pungkasnya.

Editor: Kurnia
TAG :
Baca Juga
LIPUTAN KHUSUS