Petani Menolak Harga Beras Turun, Pengamat: Itu Benar

Ilustrasi kenaikan harga beras di pasar tradisional di Indonesia

PARBOABOA, Medan – Viral di media sosial, video seorang petani yang meminta agar presiden tidak menurunkan harga beras yang saat ini berada di kisaran 17 hingga 18 ribu rupiah per kilogramnya.

Menurutnya, ketika gaji Pegawai Negeri Sipil (PNS) naik, mereka yang berprofesi sebagai petani tidak ribut. Bahkan ketika Upah Minimum Regional (UMR) naik, para petani juga tidak meributkan hal tersebut.

Namun, ketika harga beras dan gabah naik, masyarakat teriak kepada presiden dan meminta presiden menurunkan harga.

Sementara harga beras di angka 17 ribu menurutnya bisa dimakan untuk satu keluarga dalam satu hari. Rokok yang dikonsumsi untuk diri sendiri tapi tidak bisa dinikmati anak dan istri masih tetap bisa dibeli.

Ia menegaskan bahwa para petani juga meminta untuk tidak menurunkan harga beras dan harga gabah. Bahkan, ia meminta agar presiden semakin menaikkan harga beras karena masih mahalnya harga pupuk obat hama.

Diketahui, video ini disebarkan di beberapa akun media sosial dan mendapatkan ribuan komentar dari netizen. Salah satunya akun Instagram @joeshane75 “emaknya antri beras, anaknya joget oke gas.”

Sedangkan akun lainnya @andri_mayasari berkomentar “beras naik teriak, lah ngopi di coffeeshop yang segelas 20 ribu ga rewel,” dan akun @berandablitar menuliskan “harga paket data, kopi dan cemilan diatas 15 ribu biasa aja. Giliran harga kebutuhan pokok 15 ribu teriak-teriak aneh.”

Disamping komentar yang di atas, ada netizen dengan akun @teguhwibb_ yang menjabarkan bahwa apa yang disampaikan petani itu memang benar. Menurutnya, saat ini jumlah petani di Indonesia semakin berkuran, seiring berkurangnya minat.

Hal ini terjadi karena di Indonesia, profesi petani seperti pekerjaan sukarela. Dimana pupuk mahal, irigasi sulit dan banyak lagi persoalan petani. Sedangkan harga jual petani bisa dibilang tidak menguntungkan.

Dimana rata-rata kehidupan petani di Indonesia masih di bawah standar kelayakan. Biaya produksi yang mahal sedangkan harga jual murah. Ini berbeda dengan apa yang terjadi di negara maju, dimana di negara maju ada fasilitas pendukung untuk bertani, pupuk dan irigasi yang memadai. Produktivitas efisien dan murah. Karena itulah harga beras impor lebih murah dan bahkan kualitasnya bisa lebih baik dari beras lokal.

Persoalan petani dan harga beras ini, menurutnya adalah tugas semua masyarakat Indonesia, khususnya pemerintah. Mengingat Indonesia adalah negara agraris yang penuh dengan kekayaan alam maka impor tidak bisa disebut sebagai kewajaran.

Pengamat Ekonomi Sumatera Utara, Gunawan Benjamin kepada Parboaboa, Rabu (28/2/2024) mengatakan ucapan petani di video tersebut benar adanya. Alasannya adalah tidak bisa ditutup kemungkinan bahwa memproduksi beras tidak terlepas dari harga pupuk dan biaya tenaga kerja.

Bukan hanya itu, keuntungan yang selama ini didapatkan petani memang tidak mampu menutupi biaya hidup selama ini. Sekalipun ada penurunan harga gabah dari 7000 ke 6000, namun tetap saja keuntungannya tidak dapat memenuhi kebutuhan sehari-hari.

“Jangan terjebak HPP sekian, gabah sekian disimpulkan tetap untung, tapi ternyata petaninya masih merugi karena kenaikan biaya hidup dengan keuntungan yang mereka dapatkan dari bertani,” ucapnya.

Menurut Gunawan Benjamin, pemerintah sebaiknya mengacu kepada pembentukan harganya. Apabila memang memikirkan kesejahteraan petani, maka biaya produksi harus diturunkan dengan cara subsidi pupuk dan sebagainya. Bagaimanapun, petani memang butuh pemasukan.

Meningkatnya harga beras dalam kurun waktu yang cukup panjang ini, dinilai Gunawan Benjamin karena faktor kenaikan biaya hidup dan cuaca. Mengenaik kenaikan biaya hidup, bukan cuma beras akan tetapi bahan kebutuhan pokok lainnya. Hal ini dengan tipisnya keuntungan penjualan beras tentunya masih membuat kesejahteraan petani jauh dari harapan.

Sementara, keuntungan penjualan beras ditengah tingginya harga saat ini masih sangat tipis jika dilihat dari HPP nya. Selain itu harga pupuk juga masih tinggi dan langka.

Ia yakin petani bukan hanya bicara mengenai gabah, tapi apakah keuntungan jadi petani padi mampu menghidupi semua kebutuhan. Kalau keuntungan dihitung dari semua kebutuhan sehari-hari maka wajar saja petani masih jauh dari sejahtera.

Sementara soal cuaca, Gunawan Benjamin mengaku sudah membaca berbagai literatur dan memang kondisi cuaca di seluruh dunia saat ini tidak baik-baik saja. Menurutnya juga, cuaca adalah variabel yang tidak bisa dikendalikan.

Editor: Fika
TAG :
Baca Juga
LIPUTAN KHUSUS