Anak-anak bersama orangtuanya menuju ke tempat tinggal mereka di dalam hutan

Tak Dapat Perhatian, Puluhan Keluarga Hidup Menyedihkan di Hutan Tapsel

Sarah | Daerah | 24-11-2021

PARBOABOA, Tapsel - Kurangnya perhatian dari pemerintah setempat mengakibatkan puluhan Kepala Keluarga di Kabupaten Tapanuli Selatan hidup menyedihkan di belantara hutan.

Tidak hanya kesusahan dalam ekonomi, puluhan anak juga harus berjalan kaki kurang lebih 10 kilometer agar dapat belajar di SD sampai SMK yang ada di sekolah terdekat.

"Dari dulu selalu begini, jadi tidak ada yang aneh karena sudah terbiasa mengalami seperti ini. Kalau dibandingkan dengan tempat yang lain mungkin tempat kami sudah jauh tertinggal,” ungkap J. Harefa (36) warga Desa Aek Parupuk Kecamatan Tano Tombangan Angkola saat diwawancara pada Selasa (23/11/2021).

Diprediksi ada sebanyak 40 Kepala Keluarga yang tinggal di hutan Desa Lumban Huayan Kecamatan Sayur Matinggi tersebut.

"Yang kami sedihkan itu, anak anak kami harus melewati hutan dan kebun warga hanya agar dapat berangkat ke sekolahnya, yang posisinya ada di pinggir jalan besar Tano Tombangan, bahkan ada yang kurang lebih puluhan kilo meter jauhnya. Hal itu membuat kami sangat sedih,” ungkap J. Harefa dengan mata yang berkaca kaca.

Kesedihan para warga Suku Nias ini juga berdampak pada anak-anak mereka. Saat anak-anak ingin berangkat ke sekolah, mereka harus berangkat dari rumah 2 sampai 3 jam sebelum masuk sekolah dan harus melewati hutan maupun perkebunan untuk menghindari serangan binatang buas.

40 KK yang ada di hutan tersebut hidup secara berdampingan 2 hingga 3 Kepala Keluarga. Selain itu, kelompok ini akan berjarak dengan kelompok lainnya atau sama dengan anggota kelompok yang tidak jauh berbeda.

Sebagai mata pencaharian, mereka umumnya bercocok tanam dan berburu binatang buas guna untuk melindungi kelompok mereka.

"Kita turun ke dari hutan hanya sekali seminggu, itu juga hanya untuk menjual hasil pertanian kami ke pasar Matinggi. Lalu kami pulang sore menjelang malam dan membawa kebutuhan pangan kami,” tutur J. Harefa.

Tag : #tapanuli selatan    #pemerintah    #puluhan keluarga hidup di hutan    #daerah   

Baca Juga