Rimbunnya Perkebunan Salak Condet di Tengah Kehidupan Urban Ibu Kota

Penulis : M Prasetyo | Metropolitan | 22-01-2023

Buah salak condet yang memiliki karakteristik rasa yang unik, dan digolongkan komoditas yang langka, condet merupakan salah satu destinasi yang melestarikan kebun buah salak dan duku Condet (Foto: Parboaboa/Pras Wiratmoko)

PARBOABOA, Jakarta - Hamparan perkebunan salak terbentang menghijau di kawasan Condet Jakarta Timur. Di tengah hiruk pikuk kehidupan urban ibu kota dan populasi penduduk yang kian padat. Luasnya mencapai 3,7 hektar dan hasil panen, 213 kg per 2 bulan.

Tim Parboaboa mendatangi lokasi perkebunan ini, untuk melihat langsung seperti apa budidaya yang dilakukan masyarakat. Lokasinya ada di kawasan Cagar Budaya Condet (CBC) Jalan Kayu Manis No. 03 RT 07/RW 05, Balokambang, Jakarta Timur. 

Pegiat Sejarah dan Budaya Condet, Aman mengatakan, luasan kebun salak 3,7 hektare ini dikelola Dinas Ketahanan Pangan, Kelautan dan Pertanian (DKPKP) Pemerintah Provinsi Jakarta. 

Dahulunya, lanjut dia, lahan tersebut milik warga asli Condet. Orang kebanyaan menyebutnya haji yang cukup terkenal di kawasan ini, dengan luasan tanah dimilikinya terbentang di sepanjang aliran Sungai Ciliwung, Balekambang.

Masih kata dia, pada 2015, pewaris menyerahkan sebagian tanahnya ke pemerintah untuk dijadikan lahan pelestarian tanaman buah salak. 

“Selain salak, ada pohon dukuh juga. Cita rasanya khas, karena unik dan sudah langka dijumpai,” kata Ama, Minggu (22/01/2023).

Pengelola perkebunan, Mali menyebut, kawasan perkebunan salak dan dukuh ini dijaga oleh delapan orang, termasuk dirinya, mulai dari pukul 07.00 - 16.00 WIB. Semuanya pekerja honorer, terdiri dari petugas keamanan, perawatan dan bersih-bersih. 

“Saya ditugaskan DKPP menjadi koordinator kebun," kata Mali. 

Mali menceritakan, jauh sebelum abad ke 17 kawasan Condet merupakan pemukiman yang mayoritas warganya berprofesi petani padi dan beragam buah-buahan.

Mail melanjutkan, sekitar 1950 an, setelah Indonesia merdeka, luasan perkebunan di Condet mencapai 300 ribu hektare. Masyarakat di kawasan ini kebanyakan bergantung dengan hasil panen buah salak dan dukuh. 

“Itu menurut kesaksian leluhur saya, masyarakat Condet masih menggantungkan hidup dengan berjualan hasil panen buah salak dan dukuh yang dijual langsung ke Pasar Minggu,” ungkap Mali.

Mail menyebut, seiring berjalannya waktu, pada 1977, di Kelurahan Balekambang, jumlah pohon salak menjadi 1.656.600 pohon dan 2.383 pohon dukuh. Sekarang luasannya 3,7 hektare.

“Dari jumlah tersebut, diperkirakan hasil panen per tahun bisa mencapai angka 285,7 ton buah salak dan 44 ton buah duku,” tutur Mali.

Saat ini, kata Mali, semenjak dilakukan program pelestarian oleh DKPKP, kawasan ini menjadi cagar buah percontohan. Pada 2019 dan 2021, masa Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan sempat berkunjung untuk merasakan langsung sensasi memanjat pohon dan memetik langsung buah duku di CBC Balekambang ini.

“Beliau ikut memetik dan memanjat pohon duku yang umur nya diperkirakan sudah 100 tahun namun masih berbuah,” pungkas Mali.

Wilayah Jakarta Timur, Condet khususnya merupakan kawasan yang terbilang unik di tengah metropolitan karena masih banyak perkebunan dan ruang terbuka hijau.

Flora yang ada di Condet adalah tanaman-tanaman yang sudah melewati beberapa dekade buah tanam. Pohon dukuh yang ada diperkirakan usianya lebih dari 100 tahun. Begitu juga dengan salak.

Pemerintah DKI Jakarta menjadikan Bagar Budaya Condet sebagai destinasi wisata sekaligus tempat edukasi dan hiburan bagi anak-anak.

Editor : -

Tag : #cagar buah condet    #salak dan duku condet    #metropolitan    #condet jaktim    #pelestarian buah condet   

Baca Juga