Rondahaim Saragih, Tokoh Perjuangan Lawan Belanda Asal Simalungun yang Layak Disebut Pahlawan Nasional

Rondahaim Saragih merupakan seorang pahlawan yang menjadi sosok bersejarah di perjuangan Simalungun dalam melawan penjajahan Belanda. (Foto: Wikipedia)

PARBOABOA, Pematang Siantar - Pada abad ke-19, penjajah Belanda terus berupaya menguasai semua wilayah Nusantara.

Mereka ingin menguasai apa pun yang ada, mulai dari kekayaan alam, lahan perkebunan, hingga rakyat untuk dijadikan budak.

Tentu hal itu tak dapat diterima begitu saja oleh rakyat, sehingga sering berkobar perang untuk mengusir penjajah di setiap wilayah di Nusantara saat itu.

Di balik berkobarnya perang yang dilakukan rakyat, selalu ada tokoh masyarakat atau pemimpin daerah yang dengan berapi-api mendorong perlawanan.

Tak terkecuali di tanah Simalungun, Sumatra Utara (Sumut) yang dikenal memiliki kekayaan alam melimpah dan lahan perkebunan subur.

Apalagi, lokasi wilayah ini dinilai strategis karena bersebelahan dengan perkebunan tembakau seluas 75 Ha di Deli yang dibuka Belanda pada 1863.

Tak heran, Belanda pun ingin menguasai Simalungun sehingga memicu perlawanan-perlawanan yang dilakukan rakyat.

Dalam upaya melawan, rakyat juga dibantu tokoh-tokoh pengobar semangat perang, di antaranya Rondahaim Saragih yang berjuang melawan penjajah selama 24 tahun dari 1865-1889.

Menurut Sejarawan Simalungun, Jalatua Hasugian, Rondahaim Saragih merupakan seorang pahlawan yang menjadi sosok bersejarah di perjuangan Simalungun dalam melawan penjajahan Belanda.

Dikutip dari jurnal 'Perlawanan Tuan Rondahaim Garingging Terhadap Kolonial Belanda di Simalungun' yang dibuat dan dibagikan oleh Jalatua, Rondahaim Saragih merupakan penguasa kerajaan Raya.

Pria yang memiliki nama lengkap Rondahaim Saragih Garingging itu diangkat sebagai Raja Goraha pada Harungguan Bolon Raja Marropat di Tiga Runggu, pada 1865.

Dia memulai perjuangan besar dengan beraliansi dengan raja-raja di Simalungun lainnya seperti penguasa Tanah Batak, Raja Sisingamangaraja XII, dan Kesultanan Aceh untuk bersatu melawan Belanda.

Rondahaim sering mengadakan pertemuan-pertemuan rahasia dengan para raja Simalungun.

Dalam pertemuan tersebut, mereka bersama-sama merancang berbagai strategi yang akan dilakukan, termasuk penguatan ideologi, politik, ekonomi, dan sosial budaya.

Tujuannya agar kekuatan yang ada di Simalungun tidak mudah tercerai-berai.

Dia juga terjun langsung memimpin pasukan dalam berbagai pertempuran melawan berbagai taktik licik Belanda.

Belanda yang kewalahan sampai menjulukinya sebagai Napoleon van Batak karena strategi perangnya mirip dengan Napoleon Bonaparte di Prancis.

"Semangatnya yang teguh dan ketekunannya dalam melindungi tanah airnya tak pernah luntur hingga akhir hayatnya," kata Jalatua kepada Parboaboa, Sabtu (11/11/2023).

Rondahaim Saragih Layak Disebut Pahlawan Nasional

Sayangnya, banyak tokoh krusial daerah yang belum masuk daftar pahlawan nasional, termasuk Rondahaim Saragih ini.

Jalatua mengatakan, banyak kisah-kisah kepahlawanan daerah menjadi bagian integral dari sejarah bangsa Indonesia.

Faktanya, tidak semua kisah pahlawan tersebut mendapatkan pengakuan yang layak.

Walaupun telah berjuang dengan gigih melawan Belanda selama hidupnya, Rondahaim Saragih belum masuk daftar pahlawan nasional Indonesia.

Maka dari itu, saat ini Pemerintah Kabupaten Simalungun tengah berupaya mengusulkan nama Rondahaim Saragih sebagai Pahlawan Nasional.

Prosedur untuk memasukkan sebuah nama dalam daftar pahlawan nasional, kata Jalatua, sangat panjang.

Dia menjelaskan, sesuai dengan Permensos No.15/2012 (Revisinya Permensos No.13/2018) tentang Pengusulan Gelar Pahlawan Nasional, diatur tentang syarat yang harus dipenuhi agar seseorang masuk menjadi pahlawan nasional.

Di antaranya harus ada rekomendasi gubernur untuk dikaji oleh Tim Peneliti dan Pengkaji Gelar Daerah (TP2GD).

Hasilnya akan diteruskan ke tingkat pusat (TP2GP) dan kepada Dewan Gelar, Tanda Jasa, dan Tanda Kehormatan.

Pertimbangan Dewan ini akan diteruskan ke presiden untuk mendapat persetujuan akhir dan pemberian gelar pahlawan nasional.

Menurut Jalatua, segala kelengkapan dan persyaratan dari tingkat provinsi sudah dilengkapi sesuai dengan regulasi yang ada.

Sayangnya, sudah puluhan tahun berselang, perjuangan pengakuan atas jasa Rondahaim yang besar belum terealisasi.

Namun demikian, Jalatua tetap optimis hal itu akan dapat diraih suatu hari nanti.

"Masih ada kesempatan tahun mendatang," katanya.

Tak jauh berbeda dengan keinginan Jalatua, seorang warga Pematang Siantar, Simalungun Melcia Purba (24) juga berharap agar Rondahaim dan tokoh perjuangan lain segera mendapatkan gelar kepahlawanannya.

Menurutnya, mereka telah memberikan kontribusi besar dalam membentuk sejarah dan identitas Simalungun.

“Harapannya sih supaya pemerintah lebih peka lagi. Selain itu, pengakuan atas jasa-jasa pahlawan itu penting agar warisan sejarah dan identitas budaya Simalungun tetap terjaga,” ujarnya.

Editor: Umaya khusniah
TAG :
Baca Juga
LIPUTAN KHUSUS