Kota Severodonetsk yang terletak di bagian timur Ukraina hingga Rabu waktu setempat terus dihujani serangan roket dan peluru (Foto: AP)

Rusia Gempur Ukraina Timur, Barat Keluarkan Sanksi Baru

Dion | Internasional | 07-04-2022

PARBOABOA, Pematangsiantar - Kota Severodonetsk yang terletak di bagian timur Ukraina hingga Rabu (6/4/2022) waktu setempat terus dihujani serangan roket dan peluru. 

Dari pantauan langsung wartawan AFP di lokasi, terlihat banyak bangunan hancur dan terbakar. Para warga sipil berlindung dalam ketakutan ketika serangan tiba. 

"Kami tidak punya tempat untuk pergi, sudah seperti ini selama berhari-hari," ujar Volodymyr (38), seorang penduduk setempat kepada AFP.

Severodonetsk, merupakan kota berpopulasi lebih dari 100.000 orang sebelum serangan Rusia ke Ukraina. Kota ini adalah kota paling timur yang dikuasai pasukan Ukraina di garis depan timur.

Sementara, pasukan Rusia mengatakan mereka akan memfokuskan serangan di selatan dan timur Ukraina, di mana mereka telah menguasai sebagian besar wilayah.

Ukraina kini mendesak penduduk di timur negara itu agar segera mengungsi, demi mengantisipasi serangan Tentara Merah.

Gubernur lokal Sergiy Gaiday mengatakan, 10 bangunan di Sevorodonetsk telah dibom pada Rabu. Sedangkan pusat perbelanjaan dan tempat parkir di dekatnya terbakar hebat. 

Di antara target itu adalah "tidak ada satu pun fasilitas militer yang strategis," kata Gaiday, kepala wilayah Lugansk yang dikuasai Ukraina, yang mencakup Severodonetsk.

Kota ini terletak bersebelahan dari wilayah yang telah dikendalikan oleh separatis pro-Rusia sejak 2014.

Severodonetsk dan Lysychansk, yang saling berdekatan, berada di jantung cekungan pertambangan Donbas. Wilayah ini pernah menjadi kebanggaan dan sebagian besar kekuatan ekonomi Uni Soviet.

Sanksi Baru yang Mengisolasi

Sementara itu, Amerika Serikat dan sekutunya telah menargetkan bank-bank dan elit Rusia dengan sanksi terbaru.

Satu di antaranya ialah melarang warga AS berinvestasi di Rusia. Langkah ini merupakan tanggapan atas apa yang dikecam Presiden Joe Biden sebagai "kejahatan perang besar" oleh pasukan Rusia di Ukraina.

Sanksi baru berimbas pada Sberbank Rusia (SBER.MM), yang memegang sepertiga dari total aset perbankan Rusia, dan Alfabank, lembaga keuangan terbesar keempat di negara itu, kata pejabat AS. Akan tetapi, transaksi energi dikecualikan dan langkah-langkah terbaru, kata mereka.

"Dengan memotong bank-bank terbesar Rusia, Amerika Serikat secara dramatis meningkatkan kejutan keuangan di Rusia," kata seorang pejabat senior pemerintah Biden kepada wartawan.

"Kenyataannya adalah, negara ini (Rusia) sedang mengalami isolasi ekonomi dan keuangan serta teknologi," kata pejabat itu.

Direktur Dewan Ekonomi Gedung Putih Brian Deese mengatakan bahwa, menurut perkiraan, ekonomi Rusia akan mengalami kontraksi sebesar 10 persen hingga 15 persen pada 2022 dan inflasi di Rusia berjalan di angka 200 persen.

AS juga disebut menjatuhkan sanksi kepada dua putri dewasa Presiden Rusia Vladimir Putin, istri dan putri Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Lavrov, dan anggota senior dewan keamanan Rusia. 

"Tidak ada yang lebih buruk daripada kejahatan perang besar," kata Biden dalam pidatonya kepada para pemimpin buruh, mengacu pada temuan di kota Bucha Ukraina. 

"Negara-negara yang bertanggung jawab harus bersatu untuk meminta pertanggungjawaban para pelaku ini," katanya dilansir dari Reutes pada Kamis (7/4/2022).

Tag : #rusia    #ukraina    #internasional    #konflik rusia dan ukraina    #severodonetsk   

Baca Juga