Saling Sindir Edy-Ijeck Jelang Akhir Masa Jabatan, Pengamat: Jadi Konflik Serius dan Bukan Gimik

Kemesraan Edy Rahmayadi dan Musa Rajekshah semakin memudar jelang berakhirnya masa jabatan keduanya sebagai Gubernur dan Wakil Gubernur Sumatra Utara. (Foto: PARBOABOA/Anugrah Andriansyah)

PARBOABOA, Medan - Kemesraan Edy Rahmayadi dan Musa Rajekshah semakin memudar jelang berakhirnya masa jabatan keduanya sebagai Gubernur dan Wakil Gubernur Sumatra Utara.

Kemesraan yang dibangun saat Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Sumut 2018 itu terancam pupus di akhir periode kepemimpinan mereka. Bahkan, dalam beberapa kesempatan keduanya saling melontarkan sindiran.

Sindiran awalnya datang dari Wakil Gubernur Sumut, Musa Rajekshah yang mengatakan Gubernur Edy Rahmayadi mencoba menganggunya dan partai yang ia pimpin.

Sindiran disampaikan Ijeck-sapaan akrab Musa Rajekshah-di depan Ketua Umum Partai Golkar, Airlangga Hartarto saat berkunjung ke Pematang Siantar, Kamis 22 Juni 2023.

“Di sini badainya kencang pak, yang katanya ada orang nomor satu di Sumut ini terus mencoba mengganggu kami," katanya kepada Airlangga.

Sindiran Ijeck itu hanya ditanggapi dingin oleh Edy Rahmayadi. Sambil berlalu, Edy mengibaratkan Ijeck seperti anak kecil yang ingin dibelikan permen.

“Biarkan saja, anak kecil minta beli bonbon (permen) itu,” katanya sambil menaiki mobil dinasnya.

Tanggapan Pengamat Politik 

Sementara itu, Pengamat politik dari Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara (UMSU), Shohibul Anshor Siregar menilai, sikap saling sindir yang dilakukan Edy-Ijeck bukan gimik apalagi sekadar mencari simpatik publik.

Menurutnya, sikap saling sindir yang dilakukan kedua pejabat publik itu merupakan konflik serius.

“Itu serius. Konflik serius. Bukan (gimik dan cari simpati),” katanya kepada Parboaboa.

Shohibul mengungkapkan, ketidakharmonisan antara pimpinan pejabat publik bukan hal baru. Selain di Sumatra Utara, ketidakharmonisan antarpemimpin juga kerap terjadi seperti Presiden Filipina Rodrigo Duterte dengan wakilnya Leni Robredo.

Hanya saja di saling sindir Edy-Ijeck, konflik terbuka berkepanjangan itu bertentangan dengan visi yang mereka usung yakni “Sumut Bermartabat”.

“Mereka berdua perlu tahu, tuntutan pembangkitan martabat adalah bagian integral dari kewarganegaraan,” kata Shohibul.

Ia menambahkan, ketidakharmonisan keduanya juga tidak perlu menjadi konsumsi publik dengan mengumbar hubungan panas dingin lewat sindiran yang dilontarkan di depan publik.

"Fokus terhadap kinerja sebagai pejabat publik di sisa masa jabatan adalah hal realistis yang paling baik dilakukan oleh Edy dan Ijeck," imbuh Shohibul Anshor Siregar.

Sebelumnya diketahui Edy Rahmayadi akan maju lagi untuk kedua kalinya di Pilkada Sumatra Utara 2024. Sementara wakilnya, Musa Rajekshah juga berencana maju sebagai orang nomor satu di Sumut. Selain keduanya, Wali Kota Medan, Bobby Afif Nasution juga digadang menjadi calon Gubernur Sumut 2024. 

Editor: Kurnia
TAG :
Baca Juga
LIPUTAN KHUSUS