Warisan Tak Terlupakan: Mengenang Perjalanan Masjid Awal Simalungun

Masjid Awal, Masjid tertua di Simalungun, Sumatra Utara (Foto: PARBOABOA/Janaek Simarmata)

PARBOABOA, Simalungun - Masjid Awal, rumah ibadah tertua di Simalungun, Sumatra Utara (Sumut) tetap berdiri kokoh hingga saat ini.

Dibangun saat masa penjajahan Belanda, Masjid yang terletak di pinggir Jalan Saribu Dolok, Kecamatan Raya ini sempat dihancurkan, lalu dibangun kembali.

Sariani Saragih, perempuan 74 tahun yang menjalani masa-masa kecil bersamaan dengan pembangunan Masjid, merekam sebagian kisahnya walaupun disampaikan secara tersendat-sendat.

Sariani menuturkan, setelah sempat dihanguskan, Masjid ini dibangun menjadi Langgar, hingga kemudian dibangun kembali dan dinamai Masjid Awal hingga sekarang.

"Tinggal aku lah umat Masjid Awal yang paling tua masih hidup disini," ceritanya kepada PARBOABOA, Kamis (7/3/2024) lalu.
 
Perempuan renta yang mulai agak kesusahan untuk berjalan ini, mulanya tampak linglung ketika Parboaboa memintanya mengisahkan pengalaman yang ia alami kala itu.

Selain karena mulai lupa banyak hal, Sariani tampak menyembunyikan kisah kelam sehingga membuatnya enggan bercerita. Namun, setelah berpikir cukup lama, secara perlahan-lahan ia memberanikan diri untuk mengisahkan masa-masa itu.

Sariani mengungkapkan, salah satu situasi tersulit yang ia alami adalah tidak bisa bermain bebas di luar rumah dan sulitnya untuk beribadah.

Bahkan, ketika Pangulu mendatangi rumah warga, ia diarahkan orangtuanya untuk bersembunyi di lembah bersemak yang cukup jauh dari pemukiman, hingga keadaan kembali aman.

"Tapi tahunnya gak ingat aku, tapi pas SD lah itu aku," ujar dia.

Situasi diperparah oleh penghancuran Masjid (saat itu belum dinamai Masjid Awal) pada masa gerakan bumi hangus oleh penjajah Belanda.

Padahal, kata Sariani, Masjid ini awalnya dibangun oleh orang Belanda sendiri.

"Makanya kami heran, pertama dibantu orang apanya orang belanda, mungkin belanda yang baik. Udah itu datang lah bumi angus itu rupanya orang belanda mau merebut ini, tanah kita kan," jelasnya.

Setelah masjid ini rata, warga lalu bergotong royong membangun ulang rumah ibadah mereka pada tahun 1959. Karena keterbatasan dana, mereka hanya mampu mendirikan sebuah Langgar Panggung sederhana, dibuat dari kayu dengan tiang penyangga bulat yang juga dari kayu. 

Langgar tanpa nama ini lahir dari inisiatif ayah Sariani, mantan anggota Brimob yang memilih kembali ke kampung halamannya setelah pensiun.

"Ha dia lah mengapai di sini. Udah itu terbilang lah ya, ayahku lah yang membuat langgar di sini."

Di masa Sariani masih duduk di kelas empat SD, dia bersama teman sebayanya ikut serta dalam pembangunan Langgar, dengan membantu mengangkat kayu.

Lalu sekitar sepuluh tahun setelah langgar itu berdiri, masyarakat setempat, termasuk Sariani yang kala itu berusia 19 tahun, kembali bahu-membahu membangun sebuah masjid yang lebih permanen.

Pada tahun 1969, pembangunan awal Masjid permanen ini dibuat dengan pondasi setengah beton dan dinding papan. Sejak saat itu pula Masjid ini diberi nama Masjid Awal dengan jumlah jamaahnya sebanyak 10 kepala keluarga.

"Selain kami, plosok dari mana aja di Simalungun di sini nya sholatnya karena untuk membangun langgar aja dulu susah, apalagi masjid,” ujarnya.

Jamaahnya lain juga datang dari berbagai daerah di sekitar, termasuk dari Tiga Dolok, Bittang Meriah, Padang Bulan, dan Sondi Raya.

Sariani mengenang, waktu itu, tidak banyak warga yang mendalami agama. Ia sendiri tertarik dengan Islam, karena ayahnya, seorang mantan anggota Brimob merupakan penganut Islam yang taat.

"Gara gara gitu kan, ayah ini bekas Brimob, kalau brimob ada agama mesti diketatkan kan gak bisa main main," tuturnya sedikit berbisik.

Sementara itu, tanah yang menjadi lokasi Masjid Awal berdiri merupakan tanah milik warga yang diwakafkan.

Sebelum pemilik tanah, Tawilson atau dikenal Tatam Saragih meninggal dunia, ayah Sariani membuat surat perjanjian yang isinya, tidak ada satu orang pun yang dapat menggugat tanah tersebut meski yang memberikan telah tiada alias meninggal.

Semenjak ada surat perjanjian itu, hampir tak ada masalah yang menggugat kepemilikan tanah.

Saat ini, Masjid Awal masih berfungsi secara normal dengan jumlah jamaah sebanyak 79 kepala rumah tangga.

Selain Kecamatan Raya, jamaah lain berasal dari Kecamatan Merek Raya, Kabupaten Simalungun dan beberapa pendatang.

Sariani merasakan, tidak ada lagi bayang bayang menakutkan saat beribadah. Bangunannya juga sudah sepenuhnya beton, sehingga tidak ada lagi bagian bangunan yang bocor. 

Ia juga aktif dalam mengikuti kegiatan agama seperti mengaji, dan wirit ibu-ibu.

“Ehh yang tenang lah sekarang ini kalau dulu malam-malam datang lah pengulu kan tuk tuk tuk, mengungsi mengungsi katanya,” ujarnya dengan raut wajah kesal.

Sariani juga berbagi tentang keinginannya untuk mendokumentasikan sejarah Masjid Awal dalam sebuah buku.

Sebagai salah satu jemaah tertua, dia merasa memiliki peran penting dalam melestarikan cerita dan sejarah Masjid Awal, yang tidak hanya menjadi tempat ibadah tetapi juga simbol persatuan di Simalungun. 

Dengan bangga ia menegaskan, "iya inilah namanya Awal, iya pertama di Simalungun lah, bukan Kecamatan Raya, enggak. Begitu luasnya Simalungun inilah masjid pertama, Masjid Awal di Simalungun."

Editor: Gregorius Agung
TAG :
Baca Juga
LIPUTAN KHUSUS