149 Sekolah Negeri di Simalungun Terapkan Kurikulum Merdeka Tahun Depan

Kepala Bidang Sekolah Dasar Dinas Pendidikan Simalungun, Sahman Dabalok (Foto: Parboaboa/ Robin S)

PARBOABOA, Simalungun - Dinas Pendidikan Simalungun menyebut ada 149 sekolah negeri dari 966 sekolah di kabupaten ini akan menerapkan kurikulum merdeka pada 2023.

Kepala Bidang (Kabid) Sekolah Dasar (SD) Dinas Pendidikan Simalungun, Sahman Dabalok mengatakan, konsep atau konten kurikulum merdeka berbeda dari pola pembelajaan biasanya. Adapun akan ada tiga kategori yang diterapkan yakni mandiri belajar, mandiri berubah dan mandiri berbagi.

Dijelaskan Sahman, untuk kategori mandiri belajar masih akan mengadopsi kurikulum 2013, begitu juga dengan kurikulum berubah namun polanya akan lebih disederhanakan. Sementara kurikulum berbagi, murni dengan metode kurikulum merdeka, di mana sekolah yang menerapkan menjadi penggerak.

Pada 2023 nanti, kata Sahman, akan dimulai dengan 149 sekolah yang akan menerapkannya, itu terdiri dari tingkat pendidikan anak usia dini (PAUD) sebanyak 4 sekolah, tingkat sekolah dasar (SD) 127 sekolah dan tingkkat sekolah menengah pertama (SMP) 18 sekolah.

“Kami berharap kepada yang telah mengikuti bimbingan teknis (Bintek) kurikulum merdeka, bisa menugaskan dan mensosialisasikan  ke daerah wilayah tugas mereka,” jelasnya, Selasa, (11/10).

Sahman meyakini, jika kurikulum merdeka akan membawa perubahan, dalam hal kemandirian sekolah menerapkan pola pembelajaran, lewat inovasi yang disesuaikan dengan karakteristik masing-masing sekolah. “Dan bisa saja nanti kurikulum antara sekolah A dengan B  berbeda, karena bisa disesuaikan dengan kemandirian dan karakteristik masing masing,” terasngnya.

Kepala Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Negeri 1 Pematang Raya Kabupaten Simalungun, Erlinda Saragih mengatakan, jika sekolah tempatnya pimpin, sudah melakukan persiapan untuk menerapkan sistem pembelajaran dengan kurikulum merdeka, mulai dari sarana dan prasarana, serta guru-guru yang mengajar.

"Kami telah mempersiapkan guru-guru, khususnya tahap awal akan dimulai dengan kelas X" jelas Erlinda kepada PARBOABOA, Kamis (6/10).

Erlinda menjabarkan, jika esensi dari kurikulum merdeka menciptakan ruang bagi setiap siswa untuk berkembang sesuai fitrah keunikan masing-masing, dengan tujuan bisa menemukan jati dirinya masing-masing.

“Kurikulum ini jadi proses, menciptakan suasana, serta budaya belajar yang memanusiakan manusia, tidak hanya kemampuan (skill) atau pengetahuan siswa yang menjadi target guru, secara bersamaan juga menyentuh hati peserta didik,” ucapnya. (Robin S)

Editor: -
TAG :
Baca Juga
LIPUTAN KHUSUS