Sisi Lemah Program Destinasi Yes No Transit tanpa Amfiteater di Pematangsiantar

Ilustrasi amfiteater atau tempat pertunjukan seni. (Foto: PARBOABOA/Rian)

PARBOABOA, Pematangsiantar - Kota Pematangsiantar, Sumatra Utara (Sumut) terkenal dengan program Destinasi Yes No Transit.

Namun, program ini punya sisi lemah karena tidak dilengkapi dengan amfiteater, arena terbuka atau panggung publik untuk pertunjukan seni dan budaya.

Padahal, di beberapa kota di Indonesia, amfiteater telah lama dibangun sebagai lambang kehidupan sosial masyarakatnya dengan kegiatan budaya yang beragam.

Kondisi inilah yang mendorong Budayawan Pematangsiantar, Sultan Saragih menyarankan agar segera dibangun amfiteater di kota terbesar kedua di Provinsi Sumut itu.

Paling tidak, dengan adanya amfiteater akan ada wadah representatif bagi masyarakat untuk menyalurkan ekspresi seni dan budaya.

"Sebagai rujukan bersama di mana lokasi untuk bisa melihat dan menonton pertunjukan seni," kata Sultan kepada parboaboa, Rabu (20/3/2024).

Ditambah, demikian Sultan melanjutkan, "belum ada di kota ini yang khusus mengakomodir sanggar-sanggar seni agar bisa menampung semua galeri-galeri pertunjukan seni."

Sultan mengatakan, keberadaan gedung pertunjukan seni di setiap kota merupakan sebuah keharusan, sehingga beragam ekspresi seni dapat terfasilitasi seperti pembacaan puisi, bedah buku dan lain-lainya.

Menurut dia, yang ada di Kota Pematangsiantar saat ini justru didominasi oleh tempat kuliner, seperti Siantar Square dan beberapa tempat sejenis di Jl Kartini. 

Sultan menegaskan, titik-titik keramaian itu sudah ada, namun tempat pertunjukkan seni sangat minim.

"Sementara masyarakat Pematangsiantar butuh hiburan seni juga yang bersifat edukatif."

Ia menambahkan efek dari tiadanya amfiteater, membuat masyarakat tidak punya referensi dimana harus menonton teater, seni tari maupun pameran seni lukis.

"Jadi harus seimbang antara kuliner dengan seni budaya. Masyarakat setelah kenyang menikmati kuliner, bisa datang ke pertunjukan seni jika amfiteater ada di kota ini," katanya.

Menurutnya,  banyak dampak positif dengan adanya amfiteater, salah satunya para seniman bisa lebih leluasa menampilkan karya-karya mereka.

Sejauh ini memang ada beberapa tempat pertunjukkan seni tetapi masih non-permanen, seperti di lapangan parkir pariwisata.

"Tempat pertunjukkan seni yang non-permanen itu membuat repot, karena harus membangun panggung dulu untuk acara, belum lagi mengurus perizinannya," katanya.

Berbeda dengan amfiteater kata dia, masyarakat tidak perlu repot jika ingin membuat pertunjukan, karena di situ telah disediakan sejumlah fasilitas yang dibutuhkan, seperti panggung, sound system, lighting dan tempat duduk penonton. 

"Dia sudah terkonsep memang untuk pertunjukan," tambahnya.

Sultan sendiri mengaku sudah mengajukan pembangunan amfiteater secara lisan kepada Pemerintah Kota (Pemkot), namun sampai saat ini belum terealisasi.

Padahal, program Pemkot Destinasi Yes Transit No akan menambah kuota pengunjung apabila ditunjang dengan gedung pertunjukan seni yang memadai dari sejumlah aspek.

Apalagi, Pematangsiantar dengan beberapa kota besar saat ini sudah semakin terkoneksi, salah satunya lewat jalan Tol Medan-Pematangsiantar.

"Itu bisa membuat orang cuma melewati kota ini. Kalau ada amfiteater, orang jadi mau lama singgah ke Pematangsiantar untuk menonton pertunjukan seni," katanya.

Sultan menyarankan agar amfiteater itu dibangun di gedung tua bekas bangunan Belanda di Jl. Vihara. Selain karena lokasinya punya halaman yang luas juga karena daerah itu berdekatan dengan pusat kuliner Siantar Square.

Dengan menambahkan lebih banyak pilihan atraksi, Sultan yakin itu akan meningkatkan durasi kunjungan wisatawan yang pada gilirannya akan meningkatkan perekonomian lokal.

"Biasanya, wisatawan akan segera meninggalkan kota setelah makan di sini, menuju Danau Toba," katanya.

Pembangunan amfiteater telah diajukan

Dalam keterangan terpisah, Kepala Bidang Pariwisata di Dinas Pariwisata (Dispar) Kota Pematang Siantar, Rahmad Riady mengatakan, pembangunan amfiteater sudah diajukan di APBD kota.

"Rencananya, amfiteater akan dibangun di sebelah kantor Dinas Pariwisata, mengingat adanya halaman luas di lokasi tersebut yang bisa dimanfaatkan," katanya pada Parboaboa, Kamis (21/3/2024).

Selain itu, juga telah diusulkan untuk merenovasi gedung tua di Jl. Vihara ke Kementerian terkait seperti yang disarankan Sultan Saragih. Namun pelaksanaannya terhambat karena keterbatasan anggaran.

Rahmad juga menjelaskan urgensi program Destinasi Yes Transit No yang dibangun Walikota Susanti Dewayani pada 2022 lalu.

Rahmad menerangkan, program tersebut dibuat karena selama ini Pematangsiantar hanya dikenal sebagai kota transit, yang dilewati wisatawan dalam perjalanan dari Medan menuju Danau Toba.

Susanti tidak ingin Pematangsiantar hanya menjadi titik transit semata, melainkan juga menjadi destinasi wisata yang menarik perhatian.

Memang, jika dibandingkan dengan kabupaten lain kata dia, "kita masih memiliki kekurangan dalam hal destinasi wisata. Saat ini, satu-satunya destinasi alam yang dimiliki adalah Pemandian Pulau Batu. Dan Taman Hewan sebagai destinasi buatan."

Sehingga untuk mengatasi ketertinggalan tersebut, Pemkot melaksanakan berbagai acara dan event. Sebagai contoh, acara Siantar Cultural Show yang diadakan tahun lalu.

"Di tahun ini, rencananya akan diadakan event serupa yang menampilkan seni, budaya, dan kreativitas sebagai upaya untuk meningkatkan daya tarik destinasi wisata di Pematangsiantar," tutup Rahmad.

Editor: Gregorius Agung
TAG :
Baca Juga
LIPUTAN KHUSUS