Suhu udara global terus mencatatkan rekor kenaikan akibat perubahan iklim. AP

Suhu Panas Terus Mencetak Rekor di Seluruh Dunia, karena Perubahan Iklim?

Dion | Internasional | 24-06-2022

PARBOABOA, Pematangsiantar - Belahan Bumi bagian Utara terus dilanda gelombang panas ekstrem akibat anomali cuaca di awal musim panas. 

Dilansir Associated Press, Jumat (24/6/2022), suhu di banyak kota Amerika Serikat melonjak cukup signifikan. Ditambah lagi oleh kelembaban tinggi yang bergerak dari barat ke timur. 

Pada Kamis, sedikitnya delapan negara bagian di AS mengalami suhu di atas 100 derajat Fahrenheit (37,8 derajat Celsius). Dan sehari sebelumnya 12 negara bagian mengalami kenaikan suhu serupa. 

Badan Cuaca Nasional (NWS) mengatakan temperatur bakal bertambah hingga sembilan digit. NWS telah mengeluarkan peringatan akan tingginya suhu kepada 30 juta penduduk yang akan terdampak. 

Sejak 15 Juni, sedikitnya 113 stasiun pemantau cuaca telah mencatatkan rekor suhu panas. Para ilmuwan mengatakan jika kondisi ini merupakan pertanda nyata akan perubahan iklim. 

"Mudah saja melihat angka-angka (temperatur) ini dan lupa akan penderitaan yang ditimbulkan," kata Andrew Dessler, ilmuwan dari Badan Cuaca A&M Texas. 

"Mereka yang tidak memiliki pendingin ruangan dan orang-orang yang bekerja di luar ruangan hanya memiliki satu pilihan, yaitu menderita," katanya lagi, seraya menambahkan jika kantornya mencatatkan suhu hingga 38,9 derajat Celsius. 

Di Kota Macon, Georgia, temperatur melonjak drastis dari 17,8 derajat Celcius menjadi 40,6 derajat Celsius hanya dalam sembilan jam pada Rabu lalu. 

Tidak hanya AS, di Norilsk, Rusia, yang terletak di atas lingkaran Arktik, suhu mencapai 32 derajat Celsius pada Kamis. 

Ini merupakan hari terpanas di bulan Juni yang pernah tercatat. Hal itu disampaikan oleh Maximiliano Herrera, ilmuwan yang melacak rekor temperatur global kepada AP. 

Beberapa kota di Jepang, termasuk Nobeoka, mencatatkan suhu terpanas di bulan Juni, yakni hingga 36,1 derajat Celsius. Sementara Kota Turpan di China mencapai hingga 46,5 derajat Celsius. 

Sedangkan gelombang panas juga melanda Eropa sehingga menyebabkan kebakaran hutan di Jerman dan Spanyol. 

Profesor meteorologi Universitas Northern Illinois, Victor Gensini, mengatakan jika gelombang panas awal ini "sangat konsisten dengan apa yang kita duga terkait pamanasan Bumi."

"(Kenaikan) temperatur yang sekarang terjadi itu dipicu oleh kenaikan suhu pemanasan global sebesar 1,1 derajat Celsius. Dan kami sedang melacak kenaikan 2,2 derajat Celsius. Kalau itu (kenaikan 2,2 derajat) terjadi, saya tidak dapat membayangkan apa yang akan terjadi," kata Dessler. 

Tag : #amerika serikat    #gelombang panas    #internasional    #jepang    #rusia   

Baca Juga