Sumur Warga di TPA Tanjung Pinggir Terkontaminasi Bakteri, Ini Saran DPRD Pematang Siantar

Kepala DLH Kota Pematang Siantar, Dedy T. Setiawan akan segera melakukan peninjauan ke lokasi air sumur bor warga yang terkontaminasi bakteri di sekitar TPA Tanjung Pinggir. (Foto: PARBOABOA/Putra Purba)

PARBOABOA, Pematang Siantar - Berbagai pihak merespons dugaan terkontaminasinya air sumur bor warga dengan bakteri di sekitar tempat pembuangan akhir (TPA) Tanjung Pinggir, Kecamatan Siantar Martoba, Kota Pematang Siantar.

Salah satunya dari DPRD Pematang Siantar yang meminta agar warga menghentikan dahulu sementara penggunaan air sumur bor di sekitar lokasi tersebut.

"Sudah tahu itu kotor dan tercemar airnya, jangan digunakan dulu," tegas Denny T.H. Siahaan, Ketua Komisi III DPRD Pematang Siantar, kepada PARBOABOA, Jumat (20/10/2023).
 
Denny juga mendesak agar Wali Kota Pematang Siantar memperhatikan penggunaan air tanah menggunakan sumur bor, terutama di daerah yang padat penduduk.

Menurutnya, pengambilan air tanah yang dekat dengan tangki septik membuat bakteri coliform dan E. coli di sekitar daerah tersebut sangat tinggi.

Politisi PDI Perjuangan itu mengatakan, konsumsi air yang tercemar bakteri menjadi salah satu penyebab kekerdilan pada anak atau stunting.

"Nah sayang juga kalau wali kota tidak memperhatikan ini, datang betul-betul melihat, memperhatikan, bahwa air di situ luar biasa tercemar," kata Denny.

Ia berharap Pemko Pematang Siantar melakukan peremajaan hunian, untuk menangani air yang terkontaminasi bakteri di di kota itu.

"Adanya kolaborasi antar dinas terkait menjadi kunci di sini, terkhusus pada Dinas PRKP, Dinkes dan DLH bekerja sama memberikan edukasi ke masyarakat, kalau bisa beberapa masyarakat dipindahkan huniannya," pinta Denny.

Ia juga meminta masyarakat meminimalisir penggunaan air sumur yang terkontaminasi bakteri dengan menggunakan air dari luar TPA atau menggunakan air dari PDAM Tirtauli,

"Bisa juga menggunakan air depot maupun menggantinya dengan saluran air dari PDAM, kami menghimbau itu dulu," imbuh Denny.

DLH Tak Tahu Air Sumur Warga Terkontaminasi

Berbeda dengan DPRD Pematang Siantar, Dinas Lingkungan Hidup (DLH) mengaku tidak mengetahui dugaan terkontaminasinya air sumur bor warga dengan bakteri coliform dan E. coli di sekitar TPA Tanjung Pinggir.

Meski tidak mengetahui, Kepala DLH Pematang Siantar, Dedy T. Setiawan akan segera melakukan peninjauan langsung ke lokasi yang air sumur bor warga terkontaminasi bakteri.

"Saya baru tahu dari kalian, yang daerah mananya tercemar, nanti kita coba cek ke lapangan," ungkapnya saat ditemui PARBOABOA, Jumat (20/10/2023).

Dedy mengaku, DLH belum mendapatkan hasil penelitian kualitas air pemukiman masyarakat di Jalan Tuan Rondahaim dari Dinas Kesehatan. 

Ia menduga kontaminasi terjadi karena septic tank atau pembuangan tinja warga tidak diatur dengan benar.

DLH, kata Dedy, akan akan menguji dan melakukan pengawasan atas pencemaran air sumur bor warga.

“Pengawasan yang ketat juga akan kita lakukan pada sirkulasi pembuangan dari TPA berkontribusi melakukan pencemaran di wilayah tersebut,” jelasnya.

Dedy pun berharap masyarakat setempat tidak resah terhadap hasil penelitian air sumur bor mereka.

"Masyarakat juga bisa saja melakukan filtering terhadap airnya dan memasaknya terlebih dahulu, agar bakterinya mati," tambahnya.

Jadi Alasan Memulai Relokasi TPA Tanjung Pinggir

Sementara itu, pengamat lingkungan Sumatra Utara, Ramainim Saragih menilai, dugaan terkontaminasinya air sumur bor warga menjadi peringatan terhadap Pemko Pematang Siantar untuk segera memulai relokasi TPA Tanjung Pinggir dan melakukan pengelolaan sampah yang benar.

"Ini sudah menjadi warning buat pemerintah atas pemindahan lahan TPA yang jauh dari pemukiman warga," katanya kepada PARBOABOA, Jumat (20/10/2023).

Akademisi Universitas Simalungun ini menduga, salah satu penyebab air sumur bor warga terkontaminasi bakteri karena keberadaan septic tank dekat dengan pompa. 

Apalagi  di sekitar TPA Tanjung Pinggir merupakan kawasan padat penduduk. Ramainim mengatakan, rata-rata jarak septic tank dengan pompa air di bawah 10 hingga 12 meter.

"Pemerintah juga harus buka mata dan bertindak secepatnya, bagaimana memberikan pelayanan air bersih yang layak, agar tidak menyebar secara masif di Kota Pematang Siantar," tuturnya.

Ketika ditanya soal peremajaan hunian yang menjadi saran dari DPRD Pematang Siantar, Ramainim mengatakan hal itu bukan menjadi solusi.

Menurutnya saat ini yang penting adalah edukasi kebersihan yang masif kepada masyarakat di sekitar TPA Tanjung Pinggir.

"Ketika melakukan peremajaan hunian dan malah relokasi warga dari kawasan TPA tersebut akan malah menjadi konflik, sebab secara alami air bersih di Pematang Siantar sangat bagus, hanya perlu edukasi kebersihan saja," kata Ramainim.

Tidak hanya itu, Wali Kota juga harus sigap meninjau lokasi dugaan air sumur warga yang terkontaminasi serta berkolaborasi dengan dinas terkait untuk meminimalisir dampaknya terhadap masyarakat yang mengonsumsi air yang tercemar itu.

"Apalagi latar belakangnya (Wali Kota Pematang Siantar) sebagai dokter kesehatan, dokter anak. Jangan buat malu dan mengubah image warga Siantar yang kotor. Bisa dipertanyakan pendidikannya jika ini masih berlarut-larut," tegas Ramainim.

Selain pemerintah, masyarakat juga dapat meminimalisir dan lebih peduli dengan menjaga kesehatan melalui cuci tangan dengan benar serta pengelolaan sampah yang dimulai dari pemilahan sampah di tingkat rumah tangga, hingga masuk ke tempat pembuangan sampah sementara (TPSS).

"Sehingga kualitas dan kelayakan air bersih serta mutu makanan di masyarakat tetap terjaga," imbuh Ramainim Saragih.

Editor: Kurniati
TAG :
Baca Juga
LIPUTAN KHUSUS